
Azka tak ambil pusing tentang siapa yang memberikannya selimut, tapi pria itu yakin Amel lah yang membalut tubuh kekar itu dengan selimut.
Azka mulai mengedarkan pandanganya. Pria itu tak menemukan siapa-siapa, pun dengan Amel.
Dimana dia?
Gemiricik air terdengar dari bilik kamar mandi. Seketika pria itu mengetahui keberadaan istrinya.
Gagang pintu kamar mandi itu perlahan bergerak, papan kayu yang di balut warna biru itu terbuka sedikit demi sedikit. perlahan seorang wanita cantik melangkah meninggalkan kamar mandi tersebut. iya tentu saja wanita itu Amel. Azka yang menyadari hal itu seketika kembali memejamkan kedua bola matanya, ternyata pria itu berpura-pura masih tertidur.
Amel terus melangkahkan kakinya ke arah bilik wordobe, perlahan wanita itu memilih pakaian apa yang akan ia kenakan.
Disisi lain....
Kala itu hujan tengah melanda sebuah desa mati, iya desa itu kini tak memiliki penduduk satupun di karenakan tempat itu rawan terjadi longsor. Seorang wanita cantik nan sexy tengah terduduk di lantai lusuh itu dengan kaki dan tangannya yang di ikat. Wanita itu terus memohon untuk di lepaskan sesekali wanita itupun merengek dan mencoba merayu para pria yang menahannya. Namun, usahanya sia-sia saja.
"Hey tolong lepaskan aku!" teriak seseorang dari sebuah rumah tua yang sudah tak terawat.
"Lepaskan aku!" wanita itu kembali berteriak.
Teriakan itu sangatlah kencang hingga membuat seorang pria naik pitam dan segera menghampiri wanita itu.
"Bisakah kau diam!telingaku sakit mendengarmu terus berteriak!" Rupanya pria itu adalah salah seorang yang menahannya.
__ADS_1
"Hey kak... bisakah kau melepaskanku?aku akan membalasmu kebaikanmu nanti," ujar wanita itu dengan nada yang amat menggoda.
"Tidak akan!" pria itu menolak dengan tegas, namun pertahanan pria itu goyah tatkala wanita cantik itu membisikan sesuatu padanya, entahlah hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.
Di menit selanjutnya tali yang mengikat kaki dan tangan wanita itu pun terlepas. Wanita itu tersenyum menyeringai.
"Ayo-ayo waktunya kau balas kebaikanku ini!" ujar pria penjaga itu seraya tersenyum penuh arti.
"Aku harus bebas dari pria siallan ini!" gumam wanita itu. Di detik selanjutnya wanita itu menemukan sebuah balok kayu yang terletak tak jauh dari dirinya berdiri.
"Aku memiliki ide!" wanita itu tersenyum, lalu meminta si pria itu untuk membalikkan tubuh terlebih dahulu.
"Kau ini, baiklah!" pria itu pun berbalik, dengan cepat wanita itu meraih sebuah balok kayu dan memukul bagian kepala pria itu dengan keras hingga tubuh kokoh itu tersungkur ke atas lantai lusuh.
"Siall! bagaimana ini!" wanita itu mengumpat seraya menggigit salah satu jari tangannya.
Wanita itu terus memikirkan cara untuk bisa bebas dari cengkraman pria-pria itu. Di detik selanjutnya wanita itu kembali tersenyum menyeringai.
Disisi lain ....
Ting ...
Terdengar sayup-sayup ponsel berdering, sepasang lengan pria pun meraih ponsel tersebut di nakas. Di detik selanjutnya pria itu kembali menaruh ponselnya di nakas.
__ADS_1
"Rupanya bukan ponselku," ujar pria itu, dilihatnya sebuah ponsel yang terletak di meja rias istrinya itu. pria itu beranjak dari atas tempat tidur lalu meraih ponsel tersebut. Seketika raut wajahnya kembali dingin dan udara di kamar itu terasa sangat panas.
Siall! untuk apa pria ini mengirim pesan sepagi ini pada istriku! gumamnya. pria itu pun mulai membuka pesan itu.
Selamat pagi Mel! bagaimana kabarmu? Kira-kira begitulah isi pesan singkat itu. pria itu masih terdiam, di detik selanjut jar-jari itu terus mencari kata hapus pesan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku up mohon maaf kalo GK sesuai ekspetasi kalian ya. Jan lupa like and komen pay²
__ADS_1