
Amel masih saja bersembunyi saat dirasa pria bringas itu tengah lengah, wanita itu berlari dengan kencangnya menuju ke arah pintu keluar. Namun kedua pria itu mendengar langkah kaki dan melihat wanita yang tengah berlari.
Amel terus berlari saat ia tahu kini dirinya tengah di kejar oleh kedua pria bringas itu. Tanpa di sadari ia berlari ke jalan yang salah. Ya wanita itu kini berlari ke arah hutan yang gelap dan banyak di tumbuhi pepohonan besar. Saat dirasa dirinya tak sanggup lagi berlari, wanita itu kini memilih untuk memanjat lalu bersembunyi di atas pohon yang sangat besar dan kokoh.
...
Sementara itu,
Di perjalanan Assisten Rama terlihat mengambil ponsel dari saku celananya. Pria itu terlihat tengah menekan beberapa nomor lalu menghubungi seseorang.
"Hallo, Rama ada apa kau menghubungiku?" tanya seorang pria dari seberang sana.
"Hey David bisakah kau membantu melacak keberadaan seseorang?" tanya Assisten Rama dengan cepat. Sedangkan Azka hanya terdiam dan fokus mengendarai mobil mewahnya itu.
"Tentu saja!" balas David dengan cepat.
"Baiklah, datanglah ke mansion bosku. Nanti aku akan mengirim alamatnya padamu," balas Assisten Rama, David pun mengiyakan. Setelah mendengar jawaban dari temannya itu Assisten Rama dengan cepat menutup panggilan tersebut dan langsung memasukan ponselnya kembali ke saku celananya.
David merupakan teman Assisten Rama semasa kuliah, memang tidak terlalu sering mereka bersama saat masa kuliah. Meski Assisten Rama lebih menghabiskan banyak waktunya dengan Azka seperti perangko yang selalu menempel. Namun itu tak membuat hubungan Assisten Rama dan David meregang, sesekali keduanya saling berbagi kabar.
Setelah menghubungi David, Assisten Rama memberitahu Bos sekaligus sahabatnya untuk kembali ke mansion. Azka pun hanya mengangguk tanda ia mengerti. Dengan cepat Azka menancap gas nya lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Setibanya di mansion,
Azka dengan cepat keluar dan menuruni mobilnya, pria itu berjalan dengan cepat di ikuti dengan Assisten Rama. Saat dirinya telah sampai tepat di depan pintu, seperti biasa para pelayan mansion itu menyambut dan menyapa majikannya dengan ramah. Namun Azka sama sekali tak menggubrisnya dan memilih melanjutkan langkahnya menuju sofa yang letaknya tepat di ruang tamu.
Saat dirinya telah berada di ruang tamu, Azka kini menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa mewah nan empuk itu. Pria itu kini menarik dasi yang sedari tadi melingkar
di lehernya bermaksud untuk melonggarkan dasi tersebut. Sedangkan Assisten Rama terlihat tengah memerintah salah satu pelayan yang berada di mansion tersebut lalu dengan cepat pria itu menghampiri bosnya yang terlihat tengah terduduk seraya berselonjor dengan penampilan yang sudah kacau.
Assisten Rama kini mendaratkan tubuhnya di sofa mewah nan empuk itu lalu tak lama kemudia seorang wanita setengah paruh baya membawakan nampan yang di atasnya tertata cangkir yang berisikan kopi panas. Wanita setengah paruh baya itu meletakan cangkir di sebuah meja berukuran besar dengan sangat sopan lalu beranjak pergi setelah memberikan dua buah cangkir yang berisikan kopi panas tersebut.
Assisten Rama yang melihat Azka terus berdiam dan pandangannya seolah menerawang entah kemana pun meminta bosnya untuk meminum kopi tersebut bermaksud agar Azka sedikit lebih tenang.
"Bos minumlah kopi mu, setidaknya itu akan membuatmu sedikit lebih tenang," ujar Assisten Rama. Kopi itu datang karena Assiten Rama lah yang memerintahkan pelayan itu.
Seketika lamunan Azka pun membuyar, pria itu menggerakan matanya untuk menyapu ruangan tersebut. Berharap istrinya kembali dengan selamat.
__ADS_1
"Bos!" ujar Assisten Rama kembali, Azka pun mengiyakannya.
Azka mulai mengambil secangkir kopi panas tersebut dan lantas meneguknya dengan cepat hingga tandas dan tak tersisa sedikit pun genangan air di cangkir tersebut. Pria itu sama sekali tak merasakan panas, baginya sekarang adalah harus cepat-cepat menemukan istrinya itu.
Di halaman mansion,
Terlihat sebuah mobil sport yang baru saja terparkir tepat di sisi mobil Azka. Pria itu segera menuruni mobilnya seraya membawa sebuah tas jinjing berbentuk kotak. Ya tas itu berisikan komputer, dengan cepat pria itu mengetuk pintu mansion lalu seorang pria paruh baya pun membukanya.
"Maaf anda cari siapa?" tanya Paman Tio. Ya yang membuka pintu itu adalah pengurus
mansion ini yang tak lain adalah paman Tio.
"Saya mencari pemilik mansion ini paman," balas David dengan cepat seraya di selingi dengan senyuman.
"Baiklah anda tunggu dulu sebentar, saya akan memanggil majikan saya," ujar paman Tio seraya berbalik lalu melangkahkan kaki lenggangnya menuju ruang tamu untuk memberitahukan pada majikannya itu.
Saat sampai disana Paman Tio menyapa majikannya dan Assisten Rama lalu memberitahu bahwa ada seseorang yang tengah menunggu di luar.
"Bos itu pasti David!" ujar Assisten Rama
"Baiklah paman suruh saja dia masuk," perintah Azka. Paman Tio pun mengiyakannya dengan cara sedikit membungkukkan tubuh tegapnya itu lalu berbalik dan berjalan menuju keluar untuk memenuhi perintah majikannya tersebut.
"David!" teriak Assisten Rama seraya melambaikan lengannya ke arah temanya itu.
"Rama." David pun segera menghampiri temannya itu. Saat sampai di ruang tamu terlihatlah satu pria yang tak asing di penglihatan David.
"Bukankah ini ..." David terus memperhatikan Azka seraya mengingat-ngingat kembali.
"Ini adalah Azka, Bos ku sekaligus sahabatku. Dialah yang selalu bersamaku saat di kampus," jelas Assisten Rama. Seketika David pun teringat, ia memang pernah bertemu Azka kala semasa kuliah dan sikapnya waktu itu sangatlah dingin dan tidak ramah.
"Baiklah David langsung saja!" perintah Azka dengan ekspresi wajah datarnya.
Ingin rasanya David memasukan bara api pada mulut Azka, namun itu hanya sekedar gumaman hati.
David mulai mengeluarkan komputernya, lalu menyeting program komputer tersebut.
"Siapa yang akan kita lacak?" tanya David, Assisten Rama pun mengeluarkan ponselnya lalu memilih sebuah nomor untuk di berikan pada temanya itu.
__ADS_1
"Ini, lacak lokasi ponsel ini pada saat pagi tadi," balas Assisten Rama. Dengan cepat David pun memasukan nomor itu lalu mulai mengeceknya.
Saat lokasinya telah terlacak, Azka pun memperhatikan layar itu dengan seksama.
"Itu dia!lokasinya sama dengan istriku!" ujar Azka seraya mengeraskan rahangnya dan yerus menahan emosi yang siap meledak kapan saja.
Shitt! ternyata benar wanita siallan itu! umpat Azka seraya terus mengepal kedua lengannya dengan kuat-kuat.
Mereka bertiga terus memperhatikan lokasi terakhir Lisa berada.
"Tempat ini ..." ujar Assisten Rama seraya mengeryitkan keningnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Aku Up lagi nih,, oh Ya jangan lupa bagi Vote sebanyak-banyaknya Ya.. wkk jangan lupa Like sama Komentnya juga
Btw ada yang rindu Story ini gk?Ah pasti Nggak😶
jangan jadi pembaca gelap ya😊
__ADS_1
luvluv buat klean semua😚
AuthorBanyakMaunya**