Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Ge-er Sekali!


__ADS_3

Saat itu juga kini seorang pria tampan yang tengah mengenakan kaos santai berwarna putih di sertai dengan celana santai itu menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati. Seketika kedua bola mata indah itu memandangnya, Ya siapa lagi jika bukan Amel yang terus memandangi Azka.


Langkah kaki Azka itu kini terhenti, tatkala ia telah berada di depan meja makan tersebut seraya menarik kursi kayu untuk di dudukinya. Ia kini melirik ke arah wanita yang kini tepat berada di sampingnya dan bertanya seraya mengeryitkan keningnya.


" Kau kenapa melihat ku begitu?"


"..." Amel hanya terdiam, ia terus menatap wajah tampan suaminya dengan seksama.


" Hey!" Ujar Azka setengah berteriak, Amel yang mendengarnya spontan terperanjat dan membelalakkan kedua bola matanya.


" Kau ini kenapa?aku tau aku ini memang tampan!" Ujar Azka seraya menyombongkan dirinya.


" Ge-er sekali!.Lihatlah di matamu ada kotaran!" Ujar Amel seraya meletakkan kedua lengan di perutnya.


" Kau..!" Ujar Azka setengah berteriak, ia dengan secepat kilat merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan melihat pantulan wajahnya seraya membersihkan kotoran yang berada di pelupuk matanya.


Amel yang menyaksikan itu hanya terkekeh geli, baru kali ini ia melihat tingkah suaminya yang menggemaskan menurutnya.


" Sudahlah Tuan, mari makan!" Ujar Amel seraya mengambil piring untuknya.


" Siapa kau memerintahku!" balas Azka seraya mengeryitkan keningnya. Sekejap Amel menghela nafasnya dengan berat.


" Aku ini istrimu!" Ujar Amel, entah mengapa kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut mungilnya. Suasana kini menjadi hening, Amel kini bingung apa yang telah ia katakan?memang benar ia telah menjadi istrinya. Namun ia hanya menjadi istri pura-puranya saja, itulah yang berada di pikiran Amel saat ini, Sesaat ia merasakan sesak di dadanya jika mengingat tentang hal itu.


" I-itu .. Tu-Tuan maksudku, a-aku istri pura-puramu." Ujar Amel terbata-bata sekaligus memecah keheningan di antara mereka.


Azka yang mendengar kalimat itu sedikit merasa kecewa, entah mengapa kini hanya dia dan Tuhan yang tau.


Sementara itu kini seorang pelayan menghampiri mereka untuk melayani majikannya itu. Namun niatnya terrungkan tatkala Amel menolaknya. Bukan tanpa alasan Amel menolak, hanya saja ia ingin menjadi istri yang baik dan melayani suaminya. Kini mereka berdua mulai memakan makanannya hanya ada suara garpu dan sendok yang saling bertabrakan layaknya sedang peperangan.


Amel kini terlihat lebih dulu menghabiskan makanannya, ia bergegas mendorong kursi kayu itu dan beranjak dari duduknya. Azka yang melihatnya merasa penasaran sedikit mengeryitkan keningnya.


" Kau mau kemana?" Ujar Azka, Amel hanya terdiam dan melangkah lebar meninggalkan suaminya untuk memasuki ruang tidur milik pribadinya


Azka yang mendapati perlakuan seperti itu pun merasa kesal dan penasaran, hingga ia bertanya pada Paman Tio.

__ADS_1


" Paman Tio, apa kau tau mengapa dia seperti itu?" Tanya Azka seraya mengambil sehelai tissue untuk ia gunakan.


" Emmm.. Maaf Tuan saya tidak tahu." Balas Paman Tio, walau ia sedari tadi berdiri tepat di belakang mereka, namun Paman Tio tak mengetahuinya.


Azka kini mulai mendorong kursi itu dan beranjak dari tempat yang kini ia duduki, ia mulai melangkahkan kaki lenggangnya untuk meninggalkan meja makan. Sementara itu para pelayan mulai membereskan semua peralatan makan yang berada di atas meja makan itu. Ia kini menaiki tangga seraya menengadahkan wajahnya sedikit untuk melirik Amel yang mulai memasuki bilik kamarnya. ia terus melangkahkan kaki lenggangnya menuju kamar tidur miliknya, saat ia tepat berada di depan pintu kamar milik istrinya ia terdiam sekejap, setelah itu kembali melangkahkan kaki nya menuju kamar yang tepat berada di samping bilik kamar Amel yang merupakan istrinya itu. Ya kamar itu merupakan bilik kamar pribadi miliknya.


Azka mulai mendorong handle pintu dan berjalan memasuki kamar mewahnya, ia kini berjalan setengah memutari tempat tidurnya dan menjatuhkan tubuhnya dengan keras di tempat tidur. Ia berusaha menemukan posisi tidur yang nyaman menurutnya, hingga telah beberapa kali ia membalikkan tubuhnya. Namun ia sama sekali tak mendapat posisi nyaman tersebut. Hingga akhirnya ia beranjak dari tempat tidurnya dan mulai melangkahkan kaki lenggangnya untuk menuju ke bilik kamar milik istrinya itu.


pria itu kini membuka pintu kamar milik istrinya dan berjalan setengah memutar tempat tidur, ia merebahkan tubuhnya tepat di samping wanita yang telah menjadi istrinya dengan hati-hati lalu memeluk tubuh mungil milik istrinya itu dengan lengan kekarnya. Amel yang merasakan sesuatu melingkar di tubuhnya pun sekejap mengerjapkan kedua bola matanya dengan pelan. Saat ia mulai sadar spontan ia membulatkan matanya dengan sempurna karena merasa kaget akan kehadiran sosok pria yang kini telah menjadi suaminya.


" Mengapa kau disini?" Tanya Amel seraya menjauhkan tubuhnya dari pria yang tepat berada di sampinya.


" Jangan banyak bicara!. Tidurlah aku tak akan berbuat apapun!" Perintah Azka, Amel hanya bisa menurut dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Azka mulai memeluk tubuh istrinya itu, dengan sekejap ia langsung terlelap seakan kini posisi itu merupakan posisi ternyaman untuknya. Sedangkan Amel kini mulai terlelap dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.


***


Pagi Harinya


Amel mulai mengerjapkan kedua bola matanya dengan pelan, Ia melihat suaminya yang kini masih terlelap dan mulai menyingkirkan lengan kekar itu agar ia bisa membersihkan tubuh dan bergegas kuliah.


Amel mulai mengambil kimono handuk, dan mulai melangkah lebar menuju toilet. Ia mulai merendamkan tubuhnya di bathup.


Selam beberapa menit, akhirnya Amel telah selesai membersihkan tubuhnya. Ia mulai menarik kimono handuk yang sebelumnya ia gantung dekat bathup dan mengambil sehelai handuk untuk di ikat di rambut indah miliknya. Ia mulai mendorong handle pintu itu dan mendapati Azka yang kini tengah duduk menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Amel terus melangkahkan kedua kakinya menuju peti besar yang berisikan pakaian, dan memilih beberapa setel pakaian. Kini ia terlihat mengenakan sweater dan skinny jeans yang ia rasa sangat pas untuk pergi kuliah. Tak lupa ia sedikit memoles wajah cantiknya itu. Sedangkan Azka kini hanya memandangi kegiatan istrinya itu.


" Kau yakin ingin kuliah lagi?" tanya Azka seraya mengeryitkan keningnya, Amel hanya menganggukkan kepalanya.


" Ah iya Tuan, apa hari ini kau akan ke kantor?" Tanya Amel, Azka pun mengiyakannya.


" Baiklah, nanti aku akan menghubungi Rektor di kampusmu!" Ujar Azka seraya menyingkap selimut yang kini masih menempel pada tubuhnya dan mulai melangkahkan kaki lenggangnya ke arah toilet untuk membersihkan diri.


Amel yang kini telah merias dirinya dan bergegas melangkahkan kakinya menuju bilik kamar milik suaminya untuk membantu menyiapkan pakaian yang akan suaminya kenakan, setelah itu ia bergegas menuju meja makan untuk membantu menyiapkan sarapan untuk suaminya.

__ADS_1


Selam beberapa menit, kini Azka terlihat telah selesai membersihkan dirinya. Ia kini mengenakan handuk dan mengikatnya tepat di antara perutnya. Hingga kini terlihatlah dadanya yang sangat indah untuk di pandang para kaum hawa. ia kini mulai melangkah meninggalkan bilik kamar milik istrinya untuk menuju kamar pribadi miliknya. Kini Azka melihat satu set tuxedo telah di sediakan untuk langsung ia pakai. Setelah itu ia kini memakai beberapa wewangian dan tak lupa memasang jam tangan klasik di antara pergelangan tangannya. Bersamaan dengan itu terdengar suara dering ponsel, ia pun kini mulai mencari keberadaan ponsel tersebut dan menemukannya di atas nakas. Ponsel itu tak lain adalah milik Amel istrinya. Ia melihat nama si pemanggil, ternyata si pemanggil merupakan ibu mertuanya dengan cepat ia langsung menerima panggilan itu.


" Hallo Nak, Ibu merindukanmu sekarang kau sedang apa?" ujar Bu Rahma dari balik ponsel tersebut.


" Maaf Bu, ini Azka. Amel sekarang berada di meja makan." Balas Azka


" Nak Azka, apa boleh ibu berbicara dengan istrimu?" tanya Bu Rahma, Azka pun mengiyakannya seraya berjalan menuju meja makan.


Azka menuruni setiap anak tangga layaknya seorang pangeran, Amel hanya terdiam sekejap memandangi wajah tampan milik suaminya. Langkah pria itu terhenti tatkala ia telah berada di meja makan dan memberikan ponsel pada wanita yang kini tepat di depannya. dengan segera ia mengambil alih ponsel tersebut dan menjawab panggilannya.


" Haloo Bu ini Amel, ada apa ibu menghubungiku apa ibu sedang sakit?" tanya Amel dengan nada lemah lembut.


" Tidak Nak, ibu hanya merindukkanmu. Apa ibu hanya boleh menghubungimu ketika ibu sakit?" balas Bu Rahma dari balik ponsel itu.


" Tidak Bu, bukan itu maksud Amel." Balas Amel dengan cepat. Bu Rahma hanya terkekeh dari balik ponsel itu.


" Bagaimana kabarmu?apa kau mengurus suamimu dengan benar?" tanya Bu Rahma penuh selidik.


" Baik bu, tentu saja Bu. Ibu aku sekarang kuliah lagi lho." Ujar Amel seraya cekikikan.


" Memangnya suamimu mengijinkan?" tanya Bu Rahma, Amel pun mengiyakannya.


" Baiklah syukur jika begitu, ibu tutup teleponnya dulu ya!" Ujar Bu Rahma seraya memutus panggilan tersebut.


.


.


.


.


****Author Up lagi nih meski 1 episode tapi lebih panjang ya dari episode yg lain. Wkk😂


Jangan lupa LIKE, KOMEN And VOTE. Ini udah hari senin jan lupa Vote😉****

__ADS_1


__ADS_2