
"Huhu, film ini sedih sekali!bila nanti aku punya suami yang menyelingkuhiku aku akan beri dia teh berisikan racun sianida!" Ujar Diana seraya menyeka cairan bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Sedangkan Amel wanita itu kini hanya diam dan mengabaikan perkataan sahabatnya itu.
Sementara itu Azka tengah berada di perjalanan, ia merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah ponsel lalu menghubungi Assisten Rama.
"Cari tahu tentang keluarga Tiwi Laureen!" perintah Azka.
"Memangnya untuk apa Bos?" tanya Assisten Rama seraya mengeryitkan keningnya dari balik ponsel itu.
"Cari tahu saja!" tukas Azka seraya memutus panggilan tersebut.
Tak beberapa lama kemudian terdengar dering ponsel berbunyi, ya siapa lagi jika bukan ponsel milik Azka. Dengan segera ia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel tersebut.
"Bagaimana?" tanya Azka
"Sudah ku temukan Bos!" balas Assisten Rama dengan cepat dari balik ponsel tersebut.
"Bagus, sesampainya di kantor akan ku cek." Ujar Azka seraya tersenyum menyeringai dan langsung memutus panggilan itu.
Dua puluh menit kemudian
Kini pak supir memarkirkan mobil tersebut di depan gedung pencakar langit itu, lalu terlihat seorang pria tampan yang menuruni kendaraan beroda empat itu dengan mengenakan satu set tuxedo yang membuatnya terlihat sangat gagah nan karismatik, siapa lagi pria itu jika bukan Azka. Ia pun melangkahkan kaki lenggangnya untuk memasuki gedung pencakar langit itu, saat ia masuk terlihat begitu banya karyawan yang tengah berlalu lalang. Hingga saat ia masuk semua karyawan yang melihatnya pun memberi sapaan yang hangat, namun pria itu tak membalas sapaan hangat para karyawannya dan malah terus berjalan ke arah lift khusus presiden direktur.
Setelah dirasa sampai, lift itu pun terbuka dengan sendirinya. Azka kini kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja miliknya tersebut. Setelah sampai ia langsung membuka dan mendudukan tubuhnya di kursi kebanggaan miliknya tersebut. Lalu ia meraih sebuah telepon genggam yang berada tepat di depannya untuk menghubungi Assisten sekaligus sahabatnya itu.
"Bawa berkas itu ke ruanganku!" perintah Azka dari balik telepon itu, Assisten Rama pun mengiyakan.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari balik pintu tersebut dan masuklah seorang pria yang tak kalah tampan dengan Azka, ia mengenakan kemeja berwarna navy berbalut dengan jas berwarna abu yang senada dengan celananya, ya pria itu adalah Assisten Rama. pria itu kini memberikan sebuah berkas pada bos nya tersebut. Azka pun meraih berkas itu lalu mulai membacanya Disana terlulis bawa Tiwi Laureen adalah seorang anak pengusaha di bidang properti sama hal nya dengan perusahaan miliknya. Ayahnya yang bernama Louis, adalah penanam saham di kampus tempat istrinya tersebut. Sejenak ia tahu mengapa gadis itu berani membuat gaduh di kampus dan jika tak salah mengingat, ayahnya pun kini tengah bekerja sama dengan perusahaan milik Azka.
"Putus kerjasama antara perusahan Fire Group dengan rekan kerja yang bernama Luois!" Perintah Azka penuh penekanan.
"Tapi kenapa Bos?" tanya Assisten Rama seraya mengeryitkan keningnya.
__ADS_1
"Anaknya telah berani mengganggu istriku!" balas Azka.
"Satu lagi, beri mereka peringatan untuk tidak mengganggu istriku." Perintah Azka, Assisten Rama pun mengiyakan.
Sementara itu di mansion
Amel dan Diana kini masih saja terbawa perasaan oleh film yang mereka lihat. Hingga kini terdengar sayup-sayup dering telepon berbunyi. Dengan secepat kilat Diana meraih ponselnya namun dering itu bukanlah milik poselnya melainkan ponsel milik Amel sahabatnya itu.
Dengan cepat Amel meraih ponselnya dan melihat nama si pemanggil lalu menggeser tombol warna hijau untuk menjawabnya.
"Halo Nak, apa kabarmu?" tanya seorang wanita paruh baya dari balik ponsel tersebut.
"Aku baik-baik saja Mam, bagaimana kabar Mami?" tanya Amel balik.
"Mami baik-baik saja!" balas Nyonya Sarah dengan cepat.
"Ah iya kapan kalian honeymoon?" tanya Nyonya Sarah dengan penuh selidik.
"Diamlah!" tukas Amel, seketika Diana pun terdiam.
"Halo Nak, mengapa diam saja?" ujar Nyonya Sarah dan membuyarkan Amel.
"I-iya Mam, i-itu nanti Amel obrolkan lagi bersama Azka," ujar Amel terbata-bata.
"Dimana dia sekarang Nak?" tanya Nyonya Sarah penuh selidik.
"Azka sedang ke kantor Mam." Balas Amel dengan cepat.
"Baiklah, pokoknya minggu depan Mami mau kalian honeymoon!" perintah Nyonya Sarah, Amel yang mendengarnya seketika membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Baiklah Mami tutup teleponnya!" ujar Nyonya Sarah, membuat lamunan Amel pun buyar seketika.
__ADS_1
Amel kembali menaruh ponselnya. di atas meja, sedangkan Diana kini masih saja heran mengapa sahabatnya sempat gelagapan.
"Kau kenapa?" tanya Diana.
"Tidak, hanya saja tadi ibu mertuaku menanyakan kapan kami honeymoon." Balas Amel dengan santai. Seketika Diana pun tertawa terbahak-bahak dan kembali bertanya, "Apa kau belum melakukan itu?" tanya Diana penuh selidik.
Seketika wajah Amel memanas dan pipinya berubah menjadi merah merona. Tak perlu penjelasan dari sahabatnya, Diana sudah tahu dari wajah sahabatnya tersebut. Mereka berdua pun kembali membahas soal kuliah yang pernah Amel tinggalkan, tak lupa mereka saling menyelipkan canda tawa. Hingga tak terasa semburat sang surya mulai memudar yang menandakan hari mulai sore, Diana pun berpamitan untuk pulang pada sahabatnya.
Setelah mengantar Diana sampai depan pintu, Amel kini melangkah lebar menuju kamar tidur miliknya untuk membersihkan tubuhnya yang telah dirasa lengket. Seperti biasa ia membawa sebuah kimono handuk dan sehelai handuk kecil.
Sementara itu di ruang tamu, terlihat seorang pria yang tengah melangkahkan kaki lenggangnya hingga terdengar suara dentuman fantovel yang beradu dengan lantai. Siapa lagi jika bukan Azka. ia kini melangkah menaiki setiap anak tangga dan memasuki kamar tidur milik istrinya tersebut, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur itu.
Selam beberapa menit, Amel pun selesai membersihkan tubuhnya ia di buat kaget karena seorang pria tengah tertidur pulas di atas tempat tidur miliknya. Saat ia mendekati pria itu, ia hanya tersenyum dan melangkah menuju lemari pakaian. Sejenak ia memilih lalu ia menjatuhkan pilihannya ke piyama berwarna navy.
.
.
.
.
.
.
Author Up lagi nih, jangan lupa Like, Coment And Vote.
Mohon maaf Author sedikit terlambat up nya karena tiba-tiba kuota abis😂
#AuthorjadiCurhat😂
__ADS_1