Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Pergi Kemana Dia?


__ADS_3

Awalnya Azka berpikir bahwa Amel tengah di toilet, namun setelah beberapa menit ia mencoba mencari istrinya itu ke toilet namun ia tak menemukan siapapun. Hingga ia mulai berjalan ke arah teras, namun hal sama yang ia dapatkan, wanita itu tak ada. pria itu kini mulai panik dan sesekali mengelus wajahnya dengan kasar. pergi kemana dia?apa dia kabur?ah tidak mungkin!dia mana tahu rute pedesaan ini. Itulah yang terus berada di pikiran pria itu.


Azka kini mulai mendaratkan tubuhnya di


sebuah kursi kayu yang tepatnya berada di ruang tamu, tak lama kemudian pria itu mendengar suara wanita yang tak asing lagi di telinganya.


"Terimakasih Bibi telah mengajakku!" ujar wanita itu saat seorang wanita paruh baya tersebut mulai hilang dari pandangannya, dengan cepat Azka berlari menuju teras dan ia menemukan seseorang yang telah ia cari sedari tadi.


"Kau kemana saja!" bentak ringan Azka


"Aku tadi habis ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan." balas Amel dengan cepat.


"Bersama siapa?" tanya Azka seraya mengeryitkan keningnya.


"Ingin tahu saja!" ujar Amel seraya melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara itu Azka kini semakin kesal karena mendapat jawaban seperti itu dari istrinya dengan cepat ia berjalan mengekor istrinya tersebut hingga ke dapur. Pria itu mulai melingkarkan lengan kekarnya pada tubuh mungil istrinya tersebut kala istrinya tengah memunggunginya seraya menaruh semua bahan makanan itu. Spontan wajahnya memanas kala pria itu terus menciumi pundaknya.


"Tu-tuan apa yang kau lakukan?" ujar Amel terbata-bata.


"Tidak ada!" balas Azka seraya menyunggingkan senyuman seribu makna tersebut.


"Lepaskan aku ingin memasak, apa kau tak mau makan?" ujar Amel seraya berusaha melepaskan lengan kekar itu dari tubuhnya.


"Aku lebih ingin memakanmu!" balas Azka, lagi-lagi pria itu tersenyum menyeringai. Amel yang mendengar perkataan itu pun spontan wajahnya memanas dan dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan lilitan lengan kekar tersebut. Saat lengan itu terlepas dari tubuhnya, pria itu malah membuat Amel kini berhadapan dengannya dan pria itu mulai menangkup pipi istrinya tersebut seraya berkata, "Ku tanyakan sekali lagi padamu, tadi kau ke pasar bersama siapa?"


Dengan cepat Amel pun menjawab, "Dengan Bibi Tari, mengapa memangnya?"


"Siapa Bibi Tari?" tanya Azka seraya mengeryitkan keningnya.


"Dia adalah seorang wanita paruh baya yang rumahnya tak jauh dari rumah kita!" balas Amel.


Flashback on


Kala itu jam dinding menunjukan pukul 5 pagi, namun seorang wanita telah terbangun dari tidurnya. Ia mulai berjalan mengarah ke teras, saat ia tengah meregangkan semua otot-otot di tubuhnya ia di buat kaget oleh seorang wanita paruh baya yang sekiranya berumur 40 tahun yang tengah berjalan seraya menyapanya.


"Pagi Nona!" sapa wanita paruh baya tersebut dengan ramah.

__ADS_1


"Pagi juga Bibi!" balas Amel seraya tersenyum dengan manisnya.


Amel mulai memandang lekat pada sebuah tas belanja yang menjuntai di lengan wanita paruh baya tersebut.


"Apa Bibi akan ke pasar?" tanya Amel, wanita matang itu pun mengiyakan.


"Ah Nona, siapa nama anda?apa anda baru disini?" tanya wanita paruh baya itu dengan bertubi-tubi.


"Namaku Camelia, panggil saja Amel. aku dan suamiku hanya beberapa hari disini." balas Amel seraya menjulurkan lengannya untuk berjabat tangan.


"Nama bibi adalah Tari, pasti kalian disini tengah berbulan madu ya?" tanya Bibi Tari seraya membalas jabatan lengan itu, spontan perkataan itu membuat wajah Amel memanas.


"I-iya Bi." lirih Amel namun masih bisa terdengar jelas di telinga wanita matang tersebut.


Bibi Tari pun tersenyum melihat tingkah Amel yang malu-malu kucing tersebut.


"Apa Amel mau ikut ke pasar bersama Bibi?" ajak Bibi Tari, dengan cepat Amel pun menerima tawaran tersebut, mengingat bahwa di dapur tak ada bahan yang bisa di masak.


Mereka berdua pun mulai melangkah lebar menuju pasar yang letaknya di ujung jalan sana, sesampainya disana Amel membeli beberapa jenis sayur yang masih segar dan beberapa iga sapi untuk ia olah nantinya. Setelah dirasa sudah cukup, mereka berdua pun mulai meninggalkan pasar tersebut dan bergegas pulang karena sang surya mulai memancarkan cahayanya.


"Terimakasih bibi telah mengajakku!" ujar Amel.


flashback off


Azka mulai melepaskan lengannya dari pipi milik istrinya tersebut. Pria itu mulai melihat belanjaan milik istrinya tersebut dan menemukan beberapa daging iga.


"Kau membeli Iga sapi?" tanya Azka, Amel pun mengiyakannya.


"Aku akan memasak Iga asam manis!" ujar Amel


"Baiklah sana masak, aku sudah lapar!" perintah Azka seraya berjalan meninggalkan istrinya tersebut.


Amel kini mulai memotong beberapa bahan, ia terlihat begitu lihai saat memasak. Sedangkan Azka pria itu kini mulai mengambil sebuah handuk yang berada di kamar tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang letaknya berada tepat di samping dapur.


Beberapa menit kemudian Azka telah selesai untuk membersihkan tubuhnya, pria itu kini terlihat bertelanjang dada dan hanya ada sebuah handuk yang melilit di antara perutnya tersebut. Pria itu menghentikan langkahnya tatkala melihat seorang wanita cantik yang tengah memasak dengan lihainya hingga aroma masakannya menyeruak di dalam ruangan tersebut. Pria itu hanya mematung dan sesekali tersenyum, lalu ia melangkah kembali menuju kamar tidurnya.

__ADS_1


Sementara itu Amel kini terlihat telah menyelesaikan masakannya tersebut, lalu mulai menyusunnya di sebuah meja makan yang amat sederhana lalu ia mulai melangkah lebar menuju kamar tidur untuk memanggil suaminya tersebut. Wanita itu kini mulai mengetuk pintu kamar kala dirinya tepat di depan pintu kamar tersebut.


"Tuan makanannya sudah matang, mari makan!" teriak Amel dari balik pintu tersebut.


"Baiklah!" sahut Azka seraya membuka pintu kamar tersebut.


Mereka pun kini menyantap makanan itu dengan lahapnya, suasana seketika menjadi hening hanya ada suara garpu dan sendok yang saling bertabrakan layaknya sebuah peperangan.


Sementara itu di kediaman keluarga putra ..


Terdengar sayup-sayup suara telepon yang terus berbunyi sedari tadi, dengan cepat seorang pelayan wanita paruh baya pun mengangkat telepon tersebut.


"Hallo denga kediaman keluarga putra, ada yang bisa saya bantu." ujar pelayan tersebut.


"Hallo apa Nyonya Sarah ada?" tanya seorang wanita dari seberang telepon tersebut.


"Sebentar Nona, akan saya panggilkan." balas pelayan tersebut seraya meletakkan telepon rumah tersebut dengan hati-hati lalu melangkahkan kakinya menuju kamar milik nyonya sarah untuk memberitahu majikannya tersebut.


Pelayan itu kini mulai mengetuk pintu kamar majikannya tersebut seraya berkata, "Maaf nyonya ada seseorang yang menelepon dan ingin bicara dengan nyonya." ujar pelayan tersebut dengan penuh hormat.


"Siapa?" tanya Nyonya Sarah dari balik kamar tidur tersebut.


.


.


.


.


.


.


Author up lagi nih ada yg masih nunggu story ini nggk ya?kayaknya nggak!! syudah kuduga😶, jangan lupa like, coment and Votenya ya agar author semangat up nya.. Hehhe! ini udah hari senin lho!😉😂

__ADS_1


__ADS_2