
Satu jam lamanya telah mereka tempuh, namun mereka tak kunjung sampai. Hingga rasa kantuk melanda wanita yang tengah duduk dan memandang ke arah kaca mobil dengan sekejap wanita itu pun tertidur dengan lelapnya.
Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun mulai memasuki pedesaan yang masih nampak ASRI, sepanjang jalan di penuhi dengan berbagai perkebunan, sekitar 50 Km lagi mereka akan sampai. Tak lama kemudian Azka pun menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah rumah yang amat sederhana, sedangkan wanita itu pun terbangun. Saat ia terbangun betapa terkejut dan terkesiapnya, karena kini ia berada di pedesaan yang masih ASRI, udara yang masih sangat segar tampa polusi dan sesekali terdengar gemercik suara mata air seolah mengundangnya untuk sejenak bermain.
Amel kini mendorong pintu mobil tersebut lalu ia keluar dengan penuh senyuman. Sesekali ia menghirup dan merasakan udara yang amat segar, sedangkan Azka pria itu kini tengah memindahkan barang-barangnya untuk di bawa ke dalam rumah.
Setelah memindahkan barang-barang tersebut, kini Azka melangkahkan kakinya untuk menemui istrinya itu.
"Kau hanya berdiri saja!cepat masuk dan bantu aku bereskan barang-barang!" perintah Azka, seketika wanita itu pun berdecak kesal.
Mereka pun akhirnya membenahi semua barang-barang.
"Tuan rumah ini milik siapa?" tanya Amel seraya mendudukan tubuhnya di tepian tempat tidur.
Sesaat pria itu hanya terdiam, dan menghela nafas dengan berat seraya berkata, "Dulunya rumah ini adalah rumah kakekku sebelum keluargaku seperti sekarang." Balas Azka dengan tatapan sendu.
"Tuan mengapa kau bersedih?" tanya Amel seraya mengelus pundak pria yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia bisa mengetahuinya hanya dari tatapan mata sendu itu.
"Tidak, hanya saja aku merindukan kakek." Balas Azka, sebenarnya Amel mengetahui bahwa suaminya sedang memendam sesuatu. Namun ia tak mau memaksanya, ia ingin suaminya berinisiatif bercerita dan berbagi kesedihannya.
"Tuan apa di sekitar sini ada sungai?" tanya Amel, ia berniat untuk mengajak suaminya bermain dan melupakan kesedihannya.
"Memangnya kenapa?" tanya Azka kembali seraya mengeryitkan keningnya.
"Mari kita piknik disana, pasti sungai disini airnya jernihkan." Ujar Amel dengan bersemangat, Azka pun mengiyakan.
__ADS_1
Kini mereka berdua mengambil beberapa camilan, snack dan tak lupa minuman botol yang menyegarkan.
Sesampainya disana mereka berdua disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah, gemercik air yang terus mengalir dengan derasnya sebuah sungai yang masih terjaga dan letaknya yang hanya beberapa langkah dari rumah yang mereka diami, Amel kini berlari dan meloncat kegirangan.
"Udara disini segar sekali ya!" ujar Amel seraya menghirup udara segar itu kemudian menghelanya.
"Memang, karena tempat ini jauh dari kota!" balas Azka, pria itu kini mulai membentangkan sebuah tikar lipat tepat di samping pepohonan yang rindang sehingga dapat membuatnya teduh dan menaruh beberapa makanan yang telah mereka bawa.
"Kemarilah!" perintah Azka seraya mendudukan dirinya di atas karpet lipat yang amat nyaman, seketika wanita itu pun menurut dan langsung mendudukan tubuhnya tepat di samping suaminya itu.
Mereka berdua pun menikmati pemandangan tersebut seraya sesekali memakan beberapa snack. Azka kini menghela nafasnya dengan sangat berat seolah dirinya menyimpan sebuah kenangan yang sangat memilukan seraya berkata, "Dulu ketika keluargaku belum berjaya, kami hidup dengan serba kekurangan. Sedangkan waktu itu kakekku sedang berada di Rumah Sakit dan butuh sekali pengobatan intensif, namun karena kami tak memiliki uang akhirnya pihak Rumah sakit menyarankan agar kakek di bawa pulang. Namun ayahku terus memohon agar kakek bisa di perbolehkan di rawat lebih lama, akhirnya pihak rumah sakit pun mengijinkan. akhirnya ayahku mencoba mencari pekerjaan apa pun demi membayar biaya rumah sakit kakek. Sampai suatu hari ayahku mendapat pekerjaan di sebuah kantor swasta yang lumayan besar.." Ujar Azka, belum semua ia ceritakan tak terasa sebuah cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Dengan sekuat tenaga ia mengumpulkan kembali keberaniannya dan kembali bercerita, "Saat ayahku mendapat pekerjaan, siang harinya ia mendapat sebuah kabar bahwa kakek telah meninggal. Saat itu ayahku begitu kacau, tapi dengan kejadian itu ayah dapat bangkit dan mulai menyusun kariernya hingga sesukses seperti saat ini." Ujar Azka lagi, pria itu bercerita seraya memandang ke sembarang arah.
Amel kini hanya bisa mendengarkan dan sesekali mengelus-ngelus bahu suaminya itu untuk menenangkannya. Ada rasa sesak saat ia mendengar semua cerita itu, ia kini menggeser sedikit tempat duduknya dan spontan memeluk tubuh kekar suaminya itu.
Desiran angin bertiup sepoi-sepoi seakan membelai. Nyiur melambai menghayutkan suasana, Namun sang surya tetap memancarkan cahayanya. terlihat jelas kedua insan yang tengah berpelukan seraya sesekali menumpahkan kesedihannya.
Setelah dirasa mereka berdua kekurangan oksigen, Azka pun melepaskan ciumannya dan kembali memeluk erat tubuh mungil milik istrinya tersebut. Amel kini merasa malu dan terlihat jelas wajah cantiknya yang memanas. Pria itu kini mulai melepaskan pelukkannya, seketika keadaan disana pun menjadi kikuk.
"Mari pulang!" Ujar Azka, perkataan itu berhasil membuat lamunan wanita yang berada tepat disampingnya pun membuyar.
"Aishh.. cepat sekali!" ujar Amel seraya berdecak kesal
"Mataharinya sudah semakin panas!" balas Azka seraya terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan istrinya tersebut. Dengan berat hati wanita itu pun mengiyakan perkataan suaminya tersebut.
Sesampainya si rumah wanita itu kini berjalan menuju kamar tidur dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur tersebut, hingga tanpa sadar ia pun terlelap. Sedangkan Azka, pria itu kini berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Setelah dirasa tenggorokannya tak haus lagi, pria itu kini mulai melangkah lebar menuju kamar tidur. Ia menemukan seorang wanita yang tengah tertidur dengan pulasnya, lalu ia berjalan setengah memutari tempat tidur itu dan merebahkan tubuhnya tepat di samping istrinya lalu tidur dengan memeluk tubuh mungil milik istrinya tersebut.
__ADS_1
Sore Harinya
Semburat sang surya mulai memudar dari ufuk barat, kini terlihat seorang pria yang tengah mengerjapkan kedua bola matanya tersebut. Sesekali ia memandang wajah cantik istrinya yang tengah tertidur, pria itu mulai menggeser tubuhnya dan dengan hati-hati ia menuruni tempat tidur itu agar rak membangunkan istrinya.
Azka kini mulai mengganti pakaian formalnya dengan setelah kaos santai, sesaat setelah pria itu mengganti pakaiannya terlihat seorang wanita yang tengah mengerjapkan kedua bola matanya, ia melihat sudah tak ada siapa-siapa disampingnya. Saat ia mulai beranjak dari tidurnya, ia melihat sosok pria tampan yang tengah bercermin spontan itu membuat Amel mengeryitkan keningnya seraya berkata, "Mau kemana?" tanya Amel
"Aku ingin menangkap ikan untuk makan malam kita!" balas Azka dengan cepat
.
.
.
.
.
.
.
..
Author kembali up ya karena masih sempet nih😉
__ADS_1
jangan lupa bagi like, coment and Votenya dong!😂**Mari kita saling menguntungkan, wkkk😂😅**