Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
End.


__ADS_3

Warning! untuk yang sedang berpuasa, sebaiknya baca saat waktu sahur maupun berbuka saja ya. wkwkwk


“Iya Bu, hati-hati ya semuanya,”imbuh Amel seraya menyalami kepada ibu dan kepada papa dan mama mertuanya.


Tak lupa Assisten Rama pun berpamitan pada bosnya. Dimenit selanjutnya Semuanya telah meninggalkan taman tersebut, kini hanya tersisa Amel dan Azka yang masih terdiam membisu, sepertinya mereka agak canggung akibat kejadian tadi.


“Ayo kita pulang,”ajak Amel sera byya memecah keheningan diantara mereka berdua, Amel pun mengangguk.


“Tunggu sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu,”


“Apa itu?”


“Kemarin kau menangiskan? Kenapa? Apa ada yang menyakitimu?”tanya Azka bertubi-tubi.


“i ... Itu, a ... aku tidak menangis!”sangkal Amel.


“Jujurlah! Aku ini suamimu,”


“i ... Itu aku kemarin melihatmu berdua di kafe bersama wanita lain,” cicit Amel, seketika Azka pun tersenyum. Rupanya istrinya telah salah paham.


“Kau salah paham, wanita itu adalah pihak dari birtday orginazer,”


“Tapi ... Kenapa kalian berpegangan tangan!”


“Aku ini tampan! Banyak sekali wanita yang mengerjarku hingga sekarang,”


Cih narsis sekali! Gumam Amel yang masih dapat di dengar oleh Azka.


“Apa kau bilang?”


“Tidak!” balas Amel seraya mengerucutkan bibir mungilnya.


“Aku dan wanita itu tidak ada apa-apa!” ujar Azka, seketika hati Amel lengah mendengar pernyataan itu.


Seketika suasan hening dan canggung. Amel merasa malu sekarang, dirinya telah salah paham.


Skip.


Sebuah mobil Lamborghini Gallardo terparkir dengan sempurna di halaman mansion tersebut. Sepasang suami istri itu kini turun dari mobil mewahnya, tentu saja mereka adalah Amel dan Azka.


Azka kini berjalan lebih dulu dari sang istri, keduanya masih merasa canggung. Saat memasuki ruang makan, Amel teringat bahwa dirinya dan Azka belum makan malam hingga saat ini. Wanita itu berinisiatif untuk menghangatkan kembali hidangan yang sudah tertata rapi di meja makan pada microwave, pun dengan para pelayan yang ikut membantu majikannya itu. Sedangkan Azka pria itu memilih membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket saat ini.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian....


Azka telah selesai dengan berbagai ritual mandinya, pria itu mulai mengenakan pakaian santainya saat ini, sebuah kotak merah berbentuk persegi panjang terletak di dekat nakas. Pria itu teringat bahwa itu adalah hadiah yang akan di berikan pada Amel, dirinya lupa tak memberikan kotak itu saat di taman. Sementara itu Amel dan para pelayan tengah menyusun kembali hidangan yang telah mereka hangatkan tadi. Amel mulai melangkahkan kakinya menuju kamar untuk memanggil sang suami, langkah itu terhenti tatkala Azka sudah mulai menuruni anak tangga. Azka menarik kursi kayu itu dan mulai mendaratkan tubuhnya. Pun dengan Amel yang mulai menaruh beberapa lauk pauk di piring sang suami. Keduanya menyantap makan malam itu tanpa berbicara, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling bertabrakan layaknya sebuah peperangan. Hingga beberapa menit kemudian Amel dan Azka telah menyelesaikan makan malamnya, keduanya kini memilih untuk bersantai di dalam kamar.


Kini keduanya berada di dalam satu ruangan, namun, mereka masih saja diam. HinggaAzka mulai mengambil hadiah yang ia siapkan untuk Amel sebelumnya. Pria itu mulai menghampiri Amel yang tengah duduk di meja riasnya.


“Mel, i ... ini hadiah untukmu dariku,” ujar Azka.


“Terimakasih,” balas Amel seraya tersenyum manis. Amel mulai membuka kotak tersebut dan betapa terkejutnya wanita itu saat melihat sebuah kalung berlian yang sangat indah dan juga hanya ada tiga di kota S.


“Sini biarku pakaikan,”imbuh Azka. Pria itu mulai memakaikan kalung yang ia berikan di leher mulus Amel. Wanita itu terus berkaca tatkala sebuah kalung cantik telah menjuntai di lehernya. Tanpa sadar Amel memeluk Azka dengan erat sambil terus mengucapkan banyak terimakasih tak henti-henti. Hingga beberapa menit kemudian Amel melepas pelukan tersebut. Keduanya tidak terhindarkan untuk saling menatap dan tersenyum. Hingga di detik selanjutnya bibir Azka dan bibir Amel bertemu, karena tidak mendapatkan penolakan dari Amel, Azka segera menarik tengkuk Amel dan mulai mellumat bibir istrinya dengan lembut. Awalanya hanya sebuah lumattan kecil namun makin lama lumattan itu menjadi kasar dan menuntut. Keduanya kini saluang hanyut dalam ciuman panasnya. Hingga beberapa menit kemudian keduanya melepas ciumanan tersebut untuk memasok nafas yang hampir habis akibat aktifitas tadi. Azka mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya, pria itu sudah tak bisa menahan nafsu birahinya saat ini. Dengan cepat Azka menuntun Amel untuk duduk di tepian ranjang.


“Camelia sekarang kau harus membayar hutang padaku, karena telah mempersiapkan semuanya.” imbuh Azka, seketika perkataan itu membuat Amel bingung.


“Hutang? Jadi aku harus membayar semua dengan uang?” tanya Amel. Azka tersenyum seraya berkata, ”Bukan, tapi dengan ini!” Azka langsung menarik tengkuk Amel dengan cepat. Kini bibir keduanya saling bertemu, pria itu kembali melumatt bibi Amel dengan lembut hingga wanita itu terbawa oleh permainan Azka. Awalanya hanyalah lumattan kecil, namun makin lama lumattan itu menjadi kasar dan menuntun. Pun dengan lengan Azka yang mulai menggerayangi tubuh Amel.


Azka kini menuntun Amel untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa melepas tautan bibir mereka. Pria itu sangat merindukan rasa manis yang tercipta dari bibir Amel. Azka melepas ciuman tersebut tatkala Amel terus menepuk dada pria itu karena pasokan oksigen yang menipis, keduanya terengah-engah dan saat itu juga Azka membuka kemeja yang kini ia pakai dan melemparnya ke sembarang arah. Kini terlihat dengan jelas dada bidang nan indah yang di miliki pria itu, Amel hanya terdiam dan kini jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Azka memulai kembali aksinya dengan membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya. Ia terus menciumi wanita yang kini berada di bawahnya, ciuman itu kini mulai menjalar ke arah tengkuk leher Amel yang sangat putih dan mulus hingga meninggalkan bekas pemiliknya.


Sementara itu lengan Azka yang lainnya dengan cepat mulai membuka pakaian yang melekat pada tubuh istrinya itu, dengan cepat ia menariknya dan melempar pakaian itu ke sembarang tempat kini terlihatlah dua buah gundukan sintal yang sangat indah, Azka kini mulai memainkannya, sedangkan kini tubuh Amel hanya menggeliat karena mendapatkan perlakuan seperti itu. Mereka pun kini melakukan pergulatan panas tersebut.


.....


Mereka berdua keluar dari kamar setelah pagi kembali melanjutkan aktivitas semalam.


Keduanya sudah berpakaian rapi, Amel memakai dress selutut berwarna peach. Rambut panjangnya ia geraikan. Tak lupa kepalanya dihiasi bando pita senada dengan baju. Wanita itu sangat cantik, ditambah riasan wajahnya yang sederhana, tidak terlalu mencolok, namun tetap menampilkan kesan feminim.


Sementara Azka sudah tampan dengan kemejanya, pria itu pun tak kalah dari istrinya. Meski hanya balutan kemeja dan celana hitam, tak memudarkan ketampanannya.


Mereka berjalan ke bawah sembari Azka terus menggandeng tangan istrinya. Menyatukan jemari mereka.


“Setelah sarapan nanti ikut aku, aku akan membawamu ke suatu tempat.”


“Kemana?”


“Sudahlah, kita sarapan dulu.”


Amel tak lagi melontarkan perkataan, ia sudah tak sabar kemana suaminya akan mengajak dirinya.


Selepas sarapan mereka segera berangkat, karena perjalanannya begitu memakan waktu, Azka menyuruh berangkat di pagi hari. Kurang lebih sekitar 3 jam perjalanan. Tak lama mereka sampai di tempat tujuan setelah melewati jalan yang menanjak dan berliku.


Amel terpesona dengan tempat ini, mereka mendatangi puncak. Tempat dimana ia belum menginjakkan kaki selama 5 tahun.

__ADS_1


“Indah sekali,” pujinya begitu takjub. Suasananya sejuk dan nyaman. Sangat pas untuk menenangkan pikiran kala otak sudah jenuh dengan rutinitas kehidupan.


Azka hanya tersenyum, “Aku akan membawamu melihat sesuatu, tapi nanti. Sekarang belum terlihat. Kamu ingin beristirahat atau berkeliling dulu?” tanya pria itu.


“Aku ingin jalan-jalan, sudah sampai sini malah istirahat. Istirahatkan bisa di rumah!” jawab Amel.


Mereka berdua pun memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi area puncak yang luas. Begitu banyak pasangan muda mudi, suami istri berkunjung disini.


***


“Sudah selesai belum mandinya? Jangan lama-lama mandinya.” Dari luar tak henti-hentinya Azka berbicara. Setelah mereka selesai berkeliling dan kembali ke villa pesanannya untuk istirahat.


“Sebentar!” teriak Amel dari dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Amel keluar sudah rapi. Azka menggandengnya keluar. Mereka berdua berjalan menuju atas puncak.


“Mau kemana?” tanya Amel.


“Yang tadi siang aku ceritakan.”


Amel ber'o. Sebenarnya ia ingin kembali tidur atau makan. Tetapi ia juga penasaran hal apa yang ingin Azka perlihatkan padanya.


Mereka sampai di atas puncak tepat saat matahari hendak terbenam. Cahaya oren kemerah-merahan tergambar jelas di langit. Amel menganga saat melihat pemandangan matahari terbenam dari tempat ketinggian.


Azka mendekap tubuhnya, Amel menoleh. Hidung mereka saling bersentuhan. Keduanya saling menatap dalam dan tersenyum.


“Terimakasih telah datang di kehidupanku, terimakasih telah menjadi istriku, terimakasih juga telah mencintaiku,” ucap Azka. Amel tersenyum dengan rona pipi di wajahnya.


“Aku juga ingin bilang terimakasih. Terimakasih kamu telah memilihku menjadi istrimu, memberiku tempat bernaung bukan hanya sekedar rumah, melainkan rasa nyaman dan kasih. Terimakasih untuk semuanya. Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu!” tegas wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca.


“Aku juga mencintaimu.” Azka memajukan langkahnya, kali ini jarak mereka sangat dekat. “ I love you my wife!” Dengan sempurna bibirnya mendarat di bibir Amel. Mereka berciuman di tempat ketinggian, dibawah langit, dan disinari cahaya sunset.


Aku tak menyangka akan menjadi pengantin pria dingin ini, pria yang selalu membuatku kesal dan marah, pria yang jauh dari kata manis. Namun, takdir berkata lain. Kini aku menikahinya dan perlahan mencintainya.


~Camelia


Saat itu aku tak pernah berpikir untuk menikahi siapapun, karena menurutku wanita di dunia ini sama saja. Mereka hanya menginginkan uang dan nama atas keluargaku. Namun, papa selalu mendesak ku, hingga aku bertemu dengan seorang wanita yang amat keras kepala. Entah mengapa aku memilih dan memaksanya untuk menjadi istriku. Setelah menikahinya aku bertekad untuk mengeraskan hatiku. Namun, sepertinya Tuhan berkehandak lain. Wanita itu telah meluluhkan hatiku. Hingga aku sangat mencintainya.


~Azka


End.

__ADS_1


__ADS_2