
"Baiklah! sana pergi!" imbuhnya dengan ekspresi datar.
Amel berdecak kesal, sungguh menyebalkan suami es nya itu, pikirnya. Dengan langkah lenggang wanita itu kini meninggalkan meja makan dengan rasa kesalnya.
....
Amel telah sampai di ruang tamu. Wanita itu melihat sesosok pria yang tengah menundukkan kepalanya seraya membenarkan tali sepatu yang sempat terlepas. Wanita itu semakin mendekat dan sosok pria itu pun mendongakkan kembali kepalanya
"Kak Dion ..." Amel terperanjat melihat sosok yang tak lagi asing baginya. Iya pria itu adalah kakak dari sahabatnya—Diana.
Pria bertubuh tegap dan atletis itu terbangun dari duduknya tatkala melihat Amel yang berdiri tak jauh dari dirinya. Seketika senyuman hangat tersungging di bibir tebal milik Dion dan tanpa aba-aba pria itu langsung berhambur ke pelukan Amel yang membuat wanita itu sedikit terkejut.
Semantara itu di sudut ruangan lainnya seorang pria tampan tengah melihat adegan tersebut seketika dadanya terasa sesak, rahangnya mengeras dan kepala pria itu di penuhi dengan emosi dan jangan lupakan dengan tangannya yang mengepal dengan kuat kerutan di dahinya menandakan dirinya tak suka apa yang tengah dilihatnya saat ini. Dengan langkah lebar pria itu mulai mendekati Amel yang juga Dion yang tengah berpelukan. Ah Ralat! Lebih tepatnya Dion lah yang memeluk Amel, karena wanita itu sama sekali tak membalas pelukan itu.
"Lepaskan tanganmu dari tubuh ISTRIKU!" Ujar seorang pria dengan menekankan kata 'Istriku'. Tentu saja pria itu adalah Azka.
Dion akhirnya melepaskan pelukan itu, Namun Azka kini menatapnya dengan tatapan seakan dia adalah musuhnya, seketika suasana di ruangan itu sedikit mencekam kala tidak ada seorang pun yang ingin memulai pembicaraan.
"Eumm ... Kak Dion silakan duduk lagi," tawar Amel. Wanita itu tak tahu harus berkata apa lagi, dirinya merasakan suhu yang amat dingin tepat di posisi suaminya berada. Dion pun menurut, pria itu kembali menyunggingkan senyuman hangatnya. Pun Amel yang meminta Azka untuk duduk bersama.
Amel mulai memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan minuman dan berbagai camilan lainnya.
"Bawa saja air mineral!" Ujar Azka dingin dan dengan wajah yang datar.
"Bi bawakan saja jus dan camilan oke!" Perintah Amel dengan sangat tegasnya.
Cih dia ini! Apa dia menyukai pria itu?! Batin Azka dengan rahang yang kembali mengeras.
"Kak Dion untuk apa datang kemari?" Tanya Amel. Pasalnya pria itu tak menghubunginya terlebih dahulu.
"Aku hanya ingin melihat Cameliaku, apa tidak boleh?" Kelakar Dion. Seketika kata-kata itu kembali membuat Azka mendidih dan meninggalkan ruangan itu secara tiba-tiba.
Ada apa dengan gunung es itu? Batin Amel
__ADS_1
....
Di menit selanjutnya Seorang wanita setengah paruh baya pun berjalan seraya membawa nampan dengan berisikan tiga gelas jus orange dan juga camilan. Wanita itu meletakkan camilan dengan sangat hati-hati sebelum dirinya melenggang dari ruangan itu.
"Diminum kak!" Ujar Amel, Dion pun menyesap segelas jus orange yang menyegarkan tersebut
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Dion di sela menyesap minumannya itu.
"Baik kak, ah maaf aku tak mengetahui kalau kakak kecelakaan," balas Amel. Wanita itu sedikit tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Diana telah menjelaskan semuanya padaku." Ternyata Dion telah mengetahui tentang Amel yang sempat di sandera oleh Lisa. Mereka berdua akhirnya saling bertukar kabar Dan sedikit canda tawa terselip di sela-sela obrolan mereka berdua.
Sementara itu
Dengan rasa kesalnya Azka kini memilih masuk ke kamarnya tak sedikit furniture yang menjadi sasaran Azka untuk meluapkan emosinya. Dengan langkah lebar pria itu memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pria itu berusaha menenangkan dirinya.
Apa Amel benar menyukai pria itu?! Batin Azka seraya mengerjapkan kedua bola mata tajamnya itu. Pria itu kini lebih memilih menatap langit-langit kamarnya.
Tiba-tiba dering ponsel terdengar dengan keras. Tentu saja ponsel itu adalah ponsel milik Azka. Dengan posisinya yang masih tertidur telentang sangatlah susah untuk menggapai ponselnya yang berada di atas nakas itu hingga mengharuskannya untuk beranjak bangun.
"Wanita itu terus merengek agar dia bisa di lepaskan dan beberapa kali dia mencoba kabur," jelas seorang pria dari seberang sana.
"Jangan pernah lepaskan wanita itu! Atau kau akan ku hukum Rama!" Perintahnya dengan cepat Azka mematikan panggilan tersebut. Dirinya masih kesal.
Azka kembali membaringkan tubuhnya, pria itu perlahan mengatur nafasnya untuk meredam emosi yang sebelumnya memenuhi kepalanya itu dan perlahan ia pun terlelap.
.
.
.
.
__ADS_1
Sang surya mulai nampak jauh dari tempat peraduannya. Makin dan makin menjauh hingga cahaya jingga menyinari ibu pertiwi. Semburat jingga kini merasuk melalui cela-cela jendela yang berada di bangunan mewah tersebut. Terlihat seorang pria tengah tertidur dengan lelap. Dimenit selanjutnya pria itu mengerjapkan bola matanya secara perlahan, dirinya menyingkap sebuah selimut yang sebelumnya melekat di tubuh kekar itu. Iya pria itu Azka. Azka tak ambil pusing tentang siapa yang memberikannya selimut, tapi pria itu yakin Amel lah yang membalut tubuh kekar itu dengan selimut.
Azka mulai mengedarkan pandanganya. Pria itu tak menemukan siapa-siapa, pun dengan Amel.
Dimana dia?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku up di Malming nih, yuk berikan author dukungan dengan vote like and comment sebanyak-banyaknya ya!