Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Sadarlah!


__ADS_3

"Baiklah terserah kau saja, maaf tadi aku membentakmu." Balas Azka tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari istrinya, Assisten Rama pun hanya membalasnya dengan sebuah anggukan lalu kembali meninggalkan mereka berdua.


Camelia sadarlah!apa kau tahu aku mencintaimu!


Tak lama setelah Assisten Rama ke luar, seorang gadis cantik pun kini memasuki ruangan tersebut lalu menyapu pandangannya pada seorang wanita yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Kedua sudut mata gadis itu terlihat sedikit membasah, Azka yang menyadari bahwa seseorang masuk pun langsung mengalihkan pandangannya pada gadis itu dan kembali membalikkan pandangan itu pada istri tercintanya. Keduanya hanya terdiam dan terus menatap seorang wanita yang terus terbaring di tempat tidur pasien tersebut.


"Maaf apa boleh kau tinggalkan kami berdua?" tanya gadis itu seketika memecah keheningan.


Azka bergegas keluar dari ruangan itu tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari Diana dan gadis itu pun mengerti. Iya gadis itu adalah Diana—sahabatnya.


Diana kini menarik kursi yang sebelumnya telah di duduki oleh Azka lalu mendaratkan tubuhnya dengan sempurna di kursi tersebut. Wajah gadis itu kini memerah dan tanpa sadar setetes cairan bening pun lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Mel sadarlah!maaf aku baru mengetahui tentang kejadian yang kau alami tadi," ujar Diana seraya menyeka cairan bening itu dari pipinya, namun tak ada sahutan apa pun. Seolah tak kenal lelah Diana pun kembali berkata, "Jika kau sadar aku akan mentraktirmu untuk makan chinese food sebanyak yang kau mau!" Lagi-lagi tak ada sahutan dari sahabatnya itu.


Sementara di luar Ruangan,


Azka terlihat tengah terduduk sendiri di ruang tunggu, pria itu kini menundukkan kepalanya seraya menutupi wajah tampannya oleh kedua tangan kekarnya itu.


Selang beberapa menit Assisten Rama pun terlihat menenteng beberapa kantong plastik. Pria itu kini mendaratkan tubuhnya tepat di samping sahabatnya itu.


"Kau urus wanita siallan itu lalu kurung dia!" perintah Azka penuh penekanan saat Assisten Rama baru saja mendaratkan tubuhnya dengan sempurna di kursi tersebut.


"Baiklah Bos, kau makanlah ini dulu!sejak siang tadi kau belum makan," balas Assisten Rama seraya menyodorkan sebuah box berisikan makanan.


Azka kembali mendongakkan wajahnya, pria itu kini menaut makanan yang sedari tadi di berikan sahabatnya tersebut. Sedangkan Assisten Rama kini memutar bola matanya berusaha untuk menemukan seseorang.


"Tuan dimana Nona Diana?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Assisten Rama.


"Dia sedang menemui Camelia di dalam!" balas Azka seraya membuka kotak makanan itu. Pria itu tak langsung memakannya bahkan kotak itu ia taruh kembali.


"Mengapa kau tak memakannya?" tanya. Assisten Rama, Azka sama sekali tak menjawabnya.


"Makan lah Azka, aku memintamu sebagai sahabatmu!" Seketika Azka pun kembali mengambil kotak makanan itu lalu mulai memakannya. Assisten Rama tersenyum tipis, setidaknya sahabatnya tak akan sakit karena tak memakan apa pun.


Kini kotak makanan itu terlihat bersih dan tak tersisa apa pun, memang tak dapat di pungkiri Azka sangatlah lapar karena sedari pagi tadi dirinya hanya memakan beberapa helai roti tawar saja dan belum lagi lelah karena mencari istrinya tersebut.


Tak lama kemudian seorang gadis pun ke luar dari ruangan itu, gadis itu menangkap dua pria yang tengah membereskan kotak makanan yang telah bersih tersebut. Gadis itu kini melangkahkan kakinya untuk mendekati kedua pria itu.

__ADS_1


"Nona Diana, duduklah ini untukmu!" ujar Assisten Rama kala ia melihat gadis itu tepat di depannya seraya menyodorkan sekotak makanan tersebut.


Diana ingin menaut kotak makanan itu namun ia hentikan tatkala suara ponsel terdengar sangat nyaring di dalam tas yang sedari tadi di pakainya. Gadis itu kini melangkahkan kakinya menuju sudut lain dari ruang tunggu itu lalu segera mengangkat ponselnya yang sedari tadi terus berdering. Dilihatnya si pemanggil yang tak lain adalah kakak kandungnya.


"Hallo Kakak, ada apa?" tanya Diana kala panggilan itu telah ia terima.


"Kakak hanya ingin mengetahui kabarmu, apa kau baik-baik saja?" tanya kembali seorang pria dari balik ponsel tersebut.


"Aku baik-baik saja Kak," balas Diana di selingi senyuman getir.


"Kau kenapa?mengapa suara mu seperti telah menangis, apa ada masalah?" tanya seorang pria itu. Ya pria itu sangat menyadari ada yang beda dari suara adiknya itu. Diana hanya terdiam dan itu membuat kakaknya semakin curiga.


"Diana!" ujar pria itu dengan setengah berteriak karena tak mendapatkan jawaban apa pun dari adiknya itu.


"Katakanlah Diana!" ujar pria itu kembali, spontan Diana pun terperanjat dan sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Itu kakak, aku hanya sedih karena Camelia sedang di rawat di rumah sakit," jelas Diana kedua sudut mata itu kini mulai membasah.


"Camelia?siapa dia?apa dia temanmu?" tanya pria itu. Diana pun mengiyakannya.


Diana mulai membalikan tubuhnya kembali dirinya di buat terperanjat karena melihat sosok pria tampan yang terus berdiri tepat di depannya.


"Ada apa?" tanya Diana seraya sedikit mendogakkan sedikit wajahnya untuk melihat wajah orang itu. Ya karena tubuh Diana hanya sampai sebahu pria itu.


"Tidak ada, Nona Diana jangan bersedih!Nona Amel pasti kuat!" imbuh pria itu seraya menyeka cairan bening yang jatuh ke pipi gadis itu.


"Assisten Rama?sejak kapan kau disini?" tanya Diana seraya mengerutkan dahinya. Assisten Rama hanya tersenyum tipis lalu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu hingga kini jaraknya hanya lima senti meter. seketika jantung Diana pun berdetak begitu kencang.


"Sejak kau menghawatirkan sahabatmu!" bisik Assisten Rama saat wajahnya kini ia arahkan tepat di telinga Diana. Perlakuan itu spontan membuat Diana salah tingkah dan mundur beberapa langkah dari posisi sebelumnya.


"A-apa yang ka-u la-kukan!" ujar Diana dengan terbata-bata. Lagi-lagi Assisten Rama hanya tersenyum tipis lalu meninggalkan Diana yang tengah mematung sendiri.


Fiuh .. ku kira dia akan menciumku tadi! batin Diana seraya mengelus dadanya yang seketika legah.


Diana kini kembali melangkahkan kakinya untuk melihat sahabatnya itu, namun setibanya di ruangan tunggu dirinya tak diperbolehkan masuk kerena kini seorang perawat tengah mengecek keadaan Amel.


"Mengapa kau belum pulang?" tanya Azka saat ia melihat gadis itu.

__ADS_1


"Aku ingin menemani sahabatku," balas Diana


"Pulanglah aku yang akan menjaga istriku!" ujar Azka kembali.


"Tapi .." belum sempat Diana meneruskan perkataanya tiba-tiba Asssiten Rama menyela pembicaraan itu.


"Azka benar, kau harus pulang!mari ku antar." Assisten Rama kini menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk senyuman tipis.


Apa?aku pulang dengannya?Tidak-tidak nanti dia berbuat aneh lagi!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku kembaliii mohon maaf banget karena aku telatt up di karena'kan buntu imajinasi wkkk. Tapi aku gak ada niatan gantungin story ini kok dan insya allah aku pasti bakal Tamatin kok jadi kalian jangan khawatir cerita ini ngegantung ya.


Oke jangan lupa bagi vote karena hari ini senin lho, jangan lupa juga Like and komen sebanyak-banyaknya.


Jangan jadi pembaca gelap ya wkkk😂


Lope-Lope buat klean Dah😍😚

__ADS_1


__ADS_2