Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Salah Paham


__ADS_3

“Baik langsung ke intinya saja, dekorasi mana yang terbaik dari tim anda,” Azka tiba-tiba berbicara. Pria itu tak suka dengan hal berbau basa-basi. Apalagi wanita yang berada di hadapannya ini terus memandangnya tanpa berkedip, itu membuat Azka sedikit risih.


“Baik Tuan, anda bisa duduk terlebih dahulu dan ini contoh-contohnya," balas wanita itu seraya menyerahkan sebuah buku besar berisikan contoh-contoh dekorasinya. Tina adalah nama dari wanita itu, sangat jelas karena namanya tercantum di name tage yang dia pakai saat ini. Tina pun mulai menjelaskan beberapa hal tentang dekorasi-dekirasi tersebut. Hingga beberapa saat Assisten Rama izin undur diri karena sebuah panggilan alam. Iya dirinya ingin pergi ke toilet. Kini tinggallah Azka dan Tina saja di meja tersebut. Keduanya hanya diam setelah membahas beberapa hal.


Sementara itu di halaman parkir sebuah mobil Ferrari berwarna hitam terparkir dengan sempurna di depan restoran tersebut. Seorang pria setengah paruh baya turun dari mobil tersebut lalu membukakan pintu mobil untuk majikannya.


“Terimakasih Pak Tio,” ujar wanita itu seraya tersenyum manis.


“Sama-sama Nona, ini sudah menjadi tugas saya,” balas pak Tio.


“Baik pak, mari ikut masuk,” ujar wanita itu dan di balas satu anggukan oleh pak tio—supirnya itu.


Didetik selanjutnya wanita itu melihat mobil milik suaminya terparkir di sebelah kanan mobil yang tadi ia pakai. Matanya menyipit seraya terus mencari-cari keberadaan suaminya tersebut, hingga beberapa saat kemudian mata indah itu membulat sempurna tatkala ia melihat suaminya tengah berbincang dengan seorang wanita.


“Itukan Azka, dan restoran ini cukup jauh dari kantornya lalu sedang apa dia berdua dengan wanita itu.”pertanyaan itu spontan muncul di kepala milik wanita itu. Iya wanita itu adalah Amel.


Inikan jam makan siang, tidak mungkinkan itu adalah kliennya. Gumam Amel. Beberapa saat kemudian hatinya terasa sesak saat melihat Azka dan wanita itu berpegangan tangan, butiran benih jatuh dengan bebas di kelopak matanya. Wanita itu memilih berbalik dan segera memasuki mobil, saat ini nafsu makannya sudah hilang. Pak supir hanya diam, pria setengah paruh baya itu tak paham mengapa majikannya menangis, dia dengan cepat menanyakan apa yang terjadi pada Amel.


“Non kenapa menangis?”tanya pak Tio seraya ikut memasuki mobil itu.


“Tidak pak, saya tidak menangis ini hanya kelilipan saja,” sangkalnya. Wanita itu kini sedang tak ingin bercerita apapun.


“pak kita pulang saja ya,” pinta Amel, wanita itu masih merasakan nyeri di hatinya. Beberapa kali ia berpikir. Mengapa ia begitu berlebihan saat melihat Azka bersama wanita, perasaan apa ini? Apa dia sudah mencintai pria dingin itu? Entahlah Amel pun bingung.


Sesampainya di mansion Amel segera berlarian menuju kamar yang di sediakan Azka dulu untuknya sendiri. Wanita itu turun dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun pada pak Tio. Padahal biasanya Amel berbicara walaupun hanya sebatas ucapan terimakasih.


Amel mulai memasuki kamarnya dan menutup pintu itu rapat-rapat tak lupa wanita itu pun mengunci pintunya dan membaringkan tubuh mungilnya di atas tempat tidur. Seketika Amel teringat dengan apa yang ia lihat di restoran tadi. Butiran bening itu jatuh bebas tanpa di pinta melalui kelopak matanya.


Ada apa ini? Aku mulai mencintainya? Gumam Amel. Lagi-lagi pertanyaan itu berkecamuk di dalam pikirannya. Amel pun terisak ini perasaan ini sungguh menyiksanya. Sebuah ide tiba-tiba muncul di benak wanita itu, diraihnya ponsel yang ia miliki lalu dengan cepat jari-jari itu mengetik beberapa huruf, ternyata Amel mencari kebenaran tentang perasaannya di internet. Beberapa ciri-ci pun muncul, wanita itupun mulai membacanya nya satu per satu. Hingga entah di nomor sekian tertulis jika anda melihat pasangan anda tengah berdua dengan orang lain dan ada merasakan sakit, berarti anda mencintaninya. Amel begitu terkejut saat membaca kalimat tersebut, kata-kata itu sama dengan yang rasakan saat ini.


Iya aku mencintainya sekarang. Gumam Amel seraya menatap nanar ke arah jendela yang ada di dalam kamarnya itu, wanita itu telah menyadari perasaanya sekarang. Amel kembali terisak, mungkin hanya menangis lah hal yang terbaik saat ini agar mengurangi rasa sakit itu. Di waktu yang bersamaan seorang pria tampan memasuki mansion tersebut, pria itu berniat untuk membersihkan diri agar bisa menetralkan amarahnya yang memuncak saat ini.

__ADS_1


Flashback


Saat itu Assisten Rama sedang berada di toilet, lalu Azka dan Tina hanya berdiam tanpa berbicara apapun. Hingga dimenit selanjutnya Tina tiba-tiba menggenggam tangan Azka seraya tersenyum menggoda. Azka pun terkejut secepat mungkin pria itu melepaskan genggaman Tina seraya berkata, “Berani-beraninya kau!”bentak Azka. Kini Tina terlihat takut dan menciut, wanita itu berpikir bahwa Azka sama saja dengan pria di luaran sana yang mudah tergoda oleh wanita.


“Ma-maafkan saya tuan,” sesal Tina.


“Cih, saya tidak akan memakai jasa dari kantormu!”cetus Azka. Pria itu memilih pulang dan meninggalkan restoran tersebut tanpa memberitahu Assisten Rama guna meredam amarahnya.


Flashback off


Azka terus berjalan melewati setiap ruangan yang ada di mansion tersebut, hingga saat dirinya berjalan melewati kamar yang dulu ia sediakan untuk amel, terdengar sayup suara isakan dari dalam kamar tersebut.


Siapa yang sedang menangis? Apa mungkin Amel? Gumam Azka seraya mengernyitkan dahinya karena heran, dengan cepat pria itu mengetuk pintu kayu tersebut beberapa kali karena merasa khawatir.


“Sebentar,” teriak seseorang wanita dari dalam kamar tersebut.


Ternyata memang benar Amel. Gumam Azka, pria itu menjadi khawatir sekarang.


Pintu pun terbuka dan menampakan seorang wanita cantik yang terus menundukkan wajah cantiknya agar Azka tak mengetahui bahwa dirinya habis menangis.


“Kenapa? Mengapa kau menunduk seperti itu? Apa kau menangis?”tanya Azka dengan wajah datarnya. Sebenarnya pria itu khatwatir terhadap Amel. Namun, dirinya teringat kata-kata Assisten Rama bahwa jika ingin membuat kejutan kau harus bersikap dingin dan seolah-olah menjauh. Azka pun mengiyakannya walau kini hati pria itu sudah luluh oleh wanita yang ada di hadapannya itu.


“Tidak apa-apa ini hanya kelilipan saja,” elak Amel. Tidak mungkinkan jika dirinya harus menceritakan yang sebenarnya. Itulah yang ada di pikiran Amel saat ini.


“Baiklah, jika tidak apa-apa,” balas Azka dengan ekspresi datarnya, pria itu kini memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar utama.


Sepeninggalan Azka, Amel kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur hingga beberapa saat kemudian wanita itu pun terlelap dengan cepat karena lelah menagis.


Azka kini telah sampai di kamar utama, pria itu mulai membuka semua kain yang melekat pada tubuh kekarnya. Di detik selanjut pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian....

__ADS_1


Azka kini telah memakai pakaian santainya, pria itu memilih duduk di tepian ranjang seraya memikirkan penyebab istrinya itu menangis. Walau Amel mengatakan itu hanya kelilipaan, namun, Azka tahu bahwa wanita itu habis menangis.


Nanti saja ku tanyakan lagi. Gumam pria itu. Beberapa saat kemudian terdengar sebuah ponsel berdering dengan sangat keras, menandakan sebuah panggilan masuk. Azka mulai meraih ponsel miliknya yang ia letakan sebelumnya di atas nakas. Pria itu segera menjawab panggilan tersebut tatkala nama dari si pemanggil tertulis di layar ponselnya.


“Saya tidak akan menggunakan jasa wanita murahan itu, dan tolong carikan saya kembali birthday organizer dan urus semua dekorasinya ,” perintah Azka tanpa mendengarkan apa yang akan Assisten Rama katakan. Pria itu seolah tahu bahwa Assistennya akan menanyakan mengapa membatalkan menyewa jasa dari perusahaan Tina.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku backkkk, yok adakah yang masih menanti story otor remahan ini, yakkkk pasti gada:). ywdh GK papa. oke Jan lupa like,komen sebanyak²nya ya!

__ADS_1


__ADS_2