Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Jangan Ganggu Istriku!


__ADS_3

Namun tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara yang menggema di lorong kelas itu, suara pria yang tak asing lagi di telinga Amel.


"Siapa yang kau sebut sebagai wanita murahan itu?" Sergah pria itu


Amel spontan terperanjat dengan kehadiran pria itu. suara, wajah, dan harum tubuhnya yang sudah tak asing baginya. Ya dia adalah Azka suaminya.


Flashback On


Saat Azka mulai meninggalkan area kampus itu, ia merasa tak enak di hati. Sehingga ia memutuskan untuk putar balik dan mengecek keadaan wanitanya, sesampainya disana kini ia bergegas mencari keberadaan istrinya tersebut. Namun saat itu ia menyaksikan bahwa kini wanitanya tengah dipermalukan, ia sedari tadi terus menahan emosinya namun saat wanita lain menyebut istrinya murahan Azka semakin tak terima dan mulai menghadapi mereka semua.


Flashback Off


Kehadiran Azka sontak membuat semua orang membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Pasalnya mereka pun tahu bahwa kini Amel adalah istri dari seorang miliarder kaya raya di kota S. Pria itu kini melangkah maju dan semakin mendekati Tiwi, lalu menautkan kedua alisnya dan mendorong tubuh gadis itu hingga tersungkur ke lantai.


Azka kini membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan gadis itu, ia kini mulai mengancam mereka semua.


"Itu balasan untukmu!lain kali jangan pernah kau ganggu istriku lagi!" ancam Azka dengan penuh penekanan seraya membangkitkan tubuhnya dan berbalik menuju ke arah istrinya.


Sedangkan Tiwi gadis itu kini hanya terdiam, dan tak henti-hentinya mengumpat Amel dalam hatinya.


Azka kini memeluk tubuh mungil istrinya, seraya bertanya, "Apa kau baik-baik saja?" tanya Azka seraya menghujani istri itu dengan ciuman di puncuk kepalanya.


"Aku baik-baik saja, sudahlah tak apa Tuan!" balas Amel, namun kini Azka mengalihkan pandangannya pada lutut istrinya yang berubah membiru. Sontak itu membuatnya kembali mendidih.


"Mari kita pulang saja!" Perintah Azka seraya mengangkat tubuh mungil milik istrinya itu. perlakuan itu berhasil membuat Amel tersipu malu hingga kini pipinya berubah memerah bak kepiting rebus.


"Ku ingatkan sekali lagi pada kalian semua, jangan pernah ganggu istriku atau nanti kalian akan menanggung akibatnya!" Ancam Azka dengan penuh penekanan seraya melangkahkan kaki lenggannya untu meninggalkan tempat itu, suaranya kini terus menggema di lorong kelas tersebut. Sedangkan Diana gadis itu juga ikut mengekor di belakang sahabatnya tersebut.


Perkataan itu kini berhasil membuat Tiwi dan para temannya menggigil ketakutan. Namun itu tak cukup membuat gadis pemilik bola mata biru itu jera, ia kini semakin meremas kuat ujung pakaiannya dan terus melontarkan kata-kata kasar pada Amel di dalam hatinya.

__ADS_1


****


Azka kini meletakkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati di mobil, ia dengan segera mendaratkan tubuhnya tepat di samping Amel. Sedangkan Diana kini duduk di bagian depan bersama sang supir.


"Mengapa kau masuk?" tanya Azka seraya mengeryitkan keningnya.


"Sudahlah Tuan, biarkan dia ikut aku sudah lama tak mengobrol dengannya toh kau juga kan pergi ke kantor." Ujar Amel.


Pak supir pun kini mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Di perjalanan kini suasana menjadi hening, Amel terus menatap ke arah kaca mobil, sedangkan Azka pria itu kini tengah memandang lekat wajah istrinya.


Skip.


Dua puluh menit kemudian


Pak supir kini terlihat memasuki halaman luas nan megah, terdapat banyak bunga dan tumbuhan lainnya yang berada tepat di sisi-sisi halaman itu. Kemudian pak supir pun mematikan mesin mobil tersebut, lalu Azka kini membuka pintu mobil itu dan berlari kecil memutari mobil untuk membuka pintu mobil tersebut dan segera mengangkat tubuh mungil istrinya itu. Sedangkan Diana kini kembali mengekor mereka berdua, Saat mereka tepat di depan pintu itu, salah satu pelayan pun membukanya dan terdapat beberapa pelayan yang menyambut mereka bertiga. Diana spontan merasa terperanjat kaget karena memang mansion semegah ini pun memiliki banyak pelayan.


Sedangkan Azka pria itu kini melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, kemudian mendudukan wanitanya di sofa yang begitu empuk. Sesaat ia mengalihkan pandangannya pada lutut Amel yang membiru karena memar, dengan sigap ia pun menyuruh pelayan untuk membawakan kotak P3K dan es batu untuk mengompres. Dengan segera pelayan pun memberikan kotak itu pada Tuannya.


"Tu-Tuan tidak usah, biarkan aku saja yang melakukkannya." Ujar Amel terbata-bata.


"Diamlah!jika kau tak ingin luka ini semakin membengkak!" perintah Azka, Amel pun dengan secepat kilat kembali diam dan menutup mulutnya.


Azka masih penasaran mengapa gadis itu berani mengganggu istrinya, ia pun berinisiatif bertanya.


"Kau ada masalah apa dengan gadis itu?" tanya Azka penuh selidik, namun itu tak membuatnya mengalihkan pandangan dari lutut memar milik istrinya.


"Tidak tahu, mungkin dia hanya iri karena aku ini cantik!" ujar Amel dengan santai seraya menyombongkan dirinya. Azka hanya diam dan sesekali ia menggelengkan kepalanya karena mendengar perkataan istrinya itu, bagaimana tidak?kini gaya bicara istrinya semakin mirip dengannya.


Setelah mengompres lalu Azka kini membuka kotak P3K itu dan mengambil sehelai kapas untuk ia balut di lutut milik istrinya. Sedangkan Amel kini ia menatap lekat wajah tampan milik suaminya dan sesekali tersenyum simpul. Diana yang menyaksikan pemandangan itu pun seketika jiwa lajangnya meronta-ronta.

__ADS_1


Setelah mengobati luka istrinya itu, Azka kini bangkit dan duduk tepat di samping istrinya tersebut. Amel yang melihatnya mengeryitkan kening dan bertanya, "Kau tidak ke kantor?" tanya Amel.


"Aku akan pergi sekarang, kau tak apakan jika ku tinggal?" ujar Azka seraya bangkit dari duduknya.


"Tak apa, lagi pula disini ada Diana yang menemaniku!" balas Amel dengan cepat.


"Baiklah jika ada apa-apa kau hubungi aku saja!" Perintah Azka seraya meninggalkan ruangan tamu tersebut.


Setelah dirasa Azka sudah tak ada, Diana kini mulai mendekat pada sahabatnya itu dan sesekali menggodanya.


"Yah kau telah membuat jiwa lajangku meronta dengan adegan romantis tadi." Goda Diana seraya sesekali menepuk-nepuk bahu milik sahabatnya itu.


"Diamlah, mari kita nonton televisi saja!" ujar Amel, Diana pun mengiyakannya dan mengambil remote televisi itu.


Kini mereka berdua tengah melihat drama korea yang tengah buming di dunia pertelevisian. Tak lama mereka melihatnya tiba-tiba cairan bening keluar dari pelupuk mata mereka dengan mudahnya.


"Huhu, film ini sedih sekali!bila nanti aku punya suami yang menyelingkuhiku aku akan beri dia teh berisikan racun sianida!" Ujar Diana seraya menyeka cairan bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Sedangkan Amel wanita itu kini hanya diam dan mengabaikan perkataan sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


**Author up lagi nih, jangan lupa LIKE, COMEN AND VOTE YA!Biar Author lebih semangat up nya


#AuthorNgarep😁**


__ADS_2