
Azka melangkahkan kakinya dengan mengangkat tubuh Amel, ia membawanya untuk menuju ke satu ruangan.
Kini mereka berdua sampai di depan sebuah pintu bewarna putih dengan corak yang amat khas, seketika Azka menurunkan tubuh mungil Amel dengan sangat hati-hati.
' Cih untuk apa dia membawaku kemari.' Ujar Amel dalam hati, sembari membuat muka kesalnya yang di buat-buat itu.
" Masuklah." Ujar Azka menekan intonasinya.
" Untuk apa?" Tanya Amel ketus sembari melipat kedua tangannya di atas perut.
" Ku bilang masuk, jangan banyak bicara!" Perintah Azka setengah berteriak.
Amel yang mendengarnya pun gemetar dan dengan secepat kilat ia memasuki ruangan itu, ia melihat ruangan yang sangat indah dengan warna dominan putih seputih tulang, ruang tersebut tak lain adalah sebuah kamar tidur yang di lengkapi dengan satu ruang kamar mandi dengan berisikan bath up dan peralatan mandi lainnya, sebuah lemari yang menjulang tinggi nan lebar beserta isinya. Amel yang melihatnya spontan terkagum-kagum dan terlihat jelas senyum yang mereka di wajah mungilnya itu.
' Wah,, kamar ini bagus apa ini kamar untukku?Hihihi.' Ujar Amel dalam hati sembari cekikikan.
Azka yang melihat tingkah istrinya pun berkata, " ini kamarmu, kamarku ada di sebelah, jika ada yang kurang kau bisa minta tolong pada Paman Tio," Ujar Azka sembari meninggalkan kamar wanita yang kini menjadi istrinya itu. Paman Tio merupakan pengurus setia mansion tersebut, ia telah bekerja kurang lebih 25 tahun lamanya dengan keluarga Putra, pria paruh baya itu kini menginjak usia 57 tahun, namun ia masih terlihat sangat gagah dan berwibawa.
Tanpa sadar Amel menghiraukan perkataan Azka, dan terus melihat-lihat tiap detail dari kamar yang kini akan ia tempati itu. dan kini ia terlihat sedang duduk di tepian ranjang dan menjatuhkan dirinya pada sebuah kasur yang amat sangat empuk itu.
Sementara itu Azka kini berjalan menuju ke satu ruangan, ruangan itu nampak rapih semua dokumen tersusun dengan sangat rapih. Ya ruangan itu merupakan ruangan kerja Azka saat di mansion. Ia kini mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi berwarna hitam yan amat nyaman, lalu ia membuka sebuah laptop kerjanya untuk melihat email-email yang di kirim asisten Rama sedari tadi. Azka nampak sangat serius menanggapi pekerjaannya itu, tak heran ia bisa membangun sebuah perusahaan yang cukup besar yang kini di kenal dengan Fire Group.
__ADS_1
Sementara itu Amel yang masih berbaring di sebuah tempat tidur yang nyaman terpikir untuk berterimakasih pada gunung es itu, dengan cara membuatkannya makan malam.
****
Siang telah berganti sore kini saatnya Amel keluar dari sebuah ruangan yang tak lain adalah kamarnya untuk membuat kejutan pada Azka. Kini ia menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati, sampai pada saatnya ia pun sampai di sebuah dapur yang amat mewah.
' Wah dapur ini sangat besar, jika di samakan dengan rumahku mungkin lebih besar dapur ini, Hihi.' Ujar Amel dalam hati sembari membuka mulutnya dan sesekali tersenyum cekikikan.
Terlihat beberapa pelayan yang tengah mempersiapkan makanan untuk makan malam nanti, namun Amel mendatangi salah satu pelayan tersebut dan berkata, " Biar Saya saja bi, Bibi kerjakan saja yang lain." Ujar Amel sembari mengambil sebuah pisau yang tengah di pegang oleh seorang pelayan untuk memotong sayuran. Spontan pelayan itu tercengang dan kaget, pasalnya banyak nona sombong yang tak ingin memasak di dapur, tapi Amel malah memilih untuk memasaknya sendiri.
" J-jangan Nona, nanti saya bisa di marahi dan di pecat oleh Tuan." Ujar pelayan tersebut dengan terbata-bata.
" Sudah, kau tenang saja tak akan terjadi apa-apa." Jelas Amel.
" Kau ini! Mengapa kau biarkan Nona memasak sendiri, kau ingin do pecat?" Ujar Pria paruh baya itu dengan setengah berteriak.
Amel yang melihat pria paruh baya itu sudah bisa menebak bahwa ia adalah paman Tio pengurus mansion ini.
" Pama Tio, tak apa aku yang menginginkannya." Jelas Amel.
" Tapi Nona ... Tuan ..." Ujar Paman Tio
__ADS_1
belum sempat Paman Tion menyelesaikan ucapannya Amel pun berkata, " Tak apa, aku hanya ingin membuat Tuan-mu senang dengan membuatkannya makan malam, kau tak perlu khawatir ia takkan marah." Jelas Amel.
Setelah mendengar penjelasan dari Nyonya mudanya, kini paman Tio membolehkan Amel untuk memasak makan malam. Namun tetap jantungnya berdebar seakan sedang berlari marathon ia takut Azka akan marah bila tahu jika Amel yang memasak makanannya dan memecat semua pelayan di mansion tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
Author Up di puasa pertama Nih,, Yuk mari spam komennya dan like biar kaya novel yang lain. Wkkkđ
kalian ngapain aja nih sewaktu #dirumahaja?
__ADS_1
Jan lupa like and komen dan juga vote ya Readers2Qđđ