Terpaksa Menikahi Gunung Es

Terpaksa Menikahi Gunung Es
Kritis


__ADS_3

Beberapa menit kemudian,


Mereka berdua berhasil melewati jalan terjang itu. Azka kini mulai menyapu pandangannya untuk mencari wanita yang ia cari sedari tadi.


"Camelia!" teriak Azka seraya terus mencari keberadaan istrinya tersebut.


Saat Azka baru melangkahkan kakinya sebanyak 3 langkah, dirinya di buat terkejut karena melihat sesosok wanita yang tak asing lagi baginya, wanita itu kini tergeletak


di sisi sungai dan banyak mengeluarkan darah segar dari pelipisnya. Dengan cepat pria itu pun berlari kearah wanita itu.


"Camelia!sadarlah!" ujar Azka seraya menepuk pelan pipi istrinya itu. Ya wanita yang tengah tergeletak itu adalah Amel. Pria itu kini segera menggendong istrinya ala bridal style lalu meninggalkan jurang itu.


Hari semakin gelap mereka berdua masih berada di dalam hutan tersebut. Hingga beberapa menit kemudian, ketiganya telah keluar dari hutan itu.


Azka segera memasukan istrinya ke dalam mobil lalu menjadikan pahanya sebagai alas kepala istrinya itu. Sedangkan kini Assisten Rama lah yang mengemudikan mobil tersebut, tanpa menunggu lama pria itu pun menancap gas nya lalu melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.


Raut wajah Azka kini begitu sangat khawatir, bagaimana tidak?kini wanita yang ia cintai tak sadarkan diri dan terus mengeluarkan darah segar dari pelipisnya. Pria itu tak dapat memungkiri lagi bahwa dirinya kini telah jatuh hati pada Amel.


Tanpa pikir panjang Azka pun langsung merobek kemeja bagian lengannya untuk menghentikan aliran darah yang terus keluar dari pelipis istrinya tersebut. Sedangkan Assisten Rama masih sibuk mengendarakan mobil itu seraya berusaha melihat apa ada rumah sakit terdekat. Namun mereka tak kunjung menemukan Rumah sakit maupun puskesmas karena memang daerah itu terpencil dan minim penduduk.


Dua puluh menit kemudian,


Mereka terlihat telah melewati daerah terpencil tersebut, lalu Assisten Rama semakin mempercepat laju mabilnya menuju ke rumah sakit kota.


Assisten Rama kini menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah bangunan pencakar langit yang khas dengan nuansa putih. Ya mereka kini telah sampai di Rumah Sakit kota. Dengan cepat Azka kembali menggendong tubuh mungil istrinya ala bridal style lalu berlari kecil untuk memasuki Rumah Sakit tersebut.


Di dalam Rumah Sakit Azka terus berlari kecil seraya berteriak, "Perawat!tolonglah istri saya!"


Perawat pun segera bergegas mengambil brankar lalu Azka pun membaringkan istrinya di brankar dengan sangat hati-hati. Amel kini dilarikan ke unit gawat darurat dan mengharuskan Azka untuk menunggu di ruang tunggu yang telah di sediakan.


Azka kini mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu, perasaan pria itu kini bercampur aduk, hatinya terus berkecamuk mengingat kejadian yang di alami istrinya. Di sudut lain seorang pria tengah memperhatikan bosnya lalu pria itu merogoh saku celananya untuk mengambil benda kontak pipih itu dan mulai menekan beberapa untuk menghubungi seseorang.


"Halo, dengan siapa saya bicara?" tanya seorang wanita dari balik ponsel tersebut.


"Saya Rama, Assistennya Azka. Hanya ingin memberitahu Nona Diana bahwa Nona Amel kini tengah di Rumah Sakit," jelas Assisten Rama. Ya Assisten Rama kini tengah menghubungi Diana, Nomor tersebut ia dapatkan dari Amel sewaktu acara resepsi pernikahan bosnya itu.

__ADS_1


"Apa!bagaimana bisa?!" Diana pun terperanjat, suara wanita itu terdengar penuh kekhawatiran.


"Jika ingin tahu Nona bisa datang ke Rumah sakit kota," balas Assisten Rama. Diana pun mengiyakan lalu menutup panggilan itu dan bergegas menuju Rumah Sakit tersebut.


Setelah menghubungi Diana, Assisten Rama kini melangkahkan kaki lenggangnya menuju Azka bermaksud untuk menenangkan pria itu. Assisten Rama mulai mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu, tepatnya di samping Azka sahabat sekaligus bosnya.


"Bersabarlah Bos, Nona Amel pasti akan baik-baik saja." Ujar Assisten Rama seraya menepuk pelan punggung milik Azka, bermaksud untuk membuat pria itu sedikit tenang.


Lima belas menit sudah Amel berada di dalam ruangan tersebut, Azka semakin khawatir kala istrinya masih saja di ruang gawat darurat di tambah beberapa perawat keluar dari ruangan itu dengan berlari kecil. Namun beberapa menit kemudian seorang wanita cantik pun datang, terlihat jelas kekhawatiran di wajah wanita cantik itu.


"Rama bagaimana bisa ini terjadi?" tanya Diana, Assisten Rama pun menuntun wanita itu untuk berbicara di sudut lain lalu duduk terlebih dahulu dan menceritakan semua yang terjadi.


Diana pun terperanjat kaget, wanita itu tak menyangka bahwa sahabatnya mengalami kejadian itu, tanpa sadar Diana pun menitikkan air matanya. Denga sigap Assisten Rama pun menyeka air mata itu.


Setelah mengetahui apa yang terjadi, Diana kembali berjalan menuju Unit Gawat Darurat. Diana hanya bisa melihat sahabatnya yang tengah di tangani oleh tim medis dari balik pintu itu, Hatinya terhenyak kala sahabatnya terbaring lemas tak sadarkan diri dengan bantuan ventilator untuk bernafas.


Selam beberapa menit kemudian, seorang dokter dan dua perawat pun keluar dari ruangan itu, dengan cepat Azka pun menghampiri dokter itu lalu menanyakan kondisi istrinya tersebut.


"Bagaimana Dok kondisi istri saya, apa saya boleh menemuinya?" tanya Azka.


Sementara itu di sebuah Mansion,


Terlihat seorang wanita cantik yang tengah asik dengan minumannya, wanita itu terlihat tengah bersantai seraya menunggu kabar dari para anak buahnya itu.


Mengapa anak buah ku belum juga memberitahu kemana wanita itu di pindahkan? ujar Lisa dalam hati. Wanita itu kini kembali mengambil ponsel pintarnya lalu menghubungi para ajak buahnya itu. Namun tak satu pun yang menjawabnya.


Siallan!kemana para pria bodoh itu! gerutu Lisa, kini ada sedikit rasa khawatir di diri wanita itu.


...


Azka mulai memasuki ruangan itu, kedua bola matanya kini menangkap sesosok wanita yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan pucuk kepala yang di balut dengan perban dan sebuah ventilator yang terpasang di area hidung hingga mulut mungilnya. Pria itu mulai mendekati istrinya lalu menarik sebuah kursi yang berada tepat di samping tempat berbaring pasien. Azka kini menggenggam salah satu lengan istrinya itu lalu meletakkannya di rahang kokohnya.


Tak lama kemudian handle pintu pun terlihat bergerak lalu pintu ruangan itu pun terbuka. Terlihat sesosok pria tampan yang menghampiri mereka berdua.


"Bos sebaiknya kau makan malam, mau ku belikan apa?" tanya Assisten Rama. Ya pria yang memasuki ruangan itu adalah Assisten Rama

__ADS_1


"Saya sedang tidak ingin makan!" bentak ringan Azka. Assisten Rama dapat mengerti mengapa bosnya bisa sesensitif ini.


"Setidaknya makanlah sedikit saja, aku ini menyarankan sebagai sahabatmu," ujar Assisten Rama dengan menaikan sedikit nada bicaranya.


"Baiklah terserah kau saja, maaf tadi aku membentakmu." Balas Azka tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari istrinya, Assisten Rama pun hanya membalasnya dengan sebuah anggukan lalu kembali meninggalkan mereka berdua.


Camelia sadarlah!apa kau tahu aku mencintaimu!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Oke jangan lupa Like Coment and Votenya agar author lebih semangat up nya lagi


Jangan jadi pembaca gelap ya wkkk


luvluv buat klean😚😍😊😍

__ADS_1


__ADS_2