
"Memangnya suamimu mengijankan?" tanya Bu Rahma, Amel pun mengiyakannya.
"Baiklah syukur jika begitu, ibu tutup teleponnya dulu ya!" Ujar Bu Sarah seraya memutus panggilan tersebut.
Amel pun kembali menaruh ponselnya di saku celana-nya.
"Sudah?" Tanya Azka, Amel mengiyakannya.
"Aku akan mengantarmu ke kampus!" Ujar Azka seraya memakan sandwich
"Tak apa, aku bisa menaiki bus atau di antar supir." Balas Amel sembari sesekali meneguk teh hijau yang berada tepat di depannya.
"Tidak!ku bilang aku yang akan mengantarmu!" Perintah Azka sembari menekan intonasinya. Amel yang mendengarnya dengan secepat kilat mengiyakan perkataan suaminya itu.
Kini mereka mulai menyantap sarapannya masing-masing.
Beberapa menit kemudian, terlihat keduanya kini telah selesai menyantap sarapan paginya. kemudian para pelayan pun bergegas membersihkan alat makan tersebut.
"Sudah siap?" Tanya Azka seraya beranjak dari duduknya.
"Sebentar aku akan mengambil tas ku dulu." Ujar Amel seraya beranjak dari duduknya dan bergegas melangkah lebar meninggalkan suaminya di meja makan.
'Aish... tas ku!'Ujar Azka dalam hati seraya menepuk dahinya.
" Tolong kau ambil juga tas kantor milikku!" Perintah Azka dengan berteriak, karena kini wanita itu mulai menjauh dari penglihatannya.
Tak lama kemudian kini Amel memakai sebuah hand bag yang menggantung di antara lengan dan bahunya. Tak lupa ia membawakan tas berwarna hitam, tas itu tak lain adalah tas milik Azka suaminya.
Sedangkan Azka kini tak terlihat berada di meja makan, karena setelah ia meminta Amel untuk membawa tas-nya ia lebih memilih melangkahkan kaki lengganya menuju mobil yang telah di siapkan oleh sang supir sebelumnya. Amel telah menduga bahwa suaminya kini pasti telah berada di mobil. Saat ia memasukinya benar saja dugaannya. Ia kini duduk bersanding dengan suaminya, dan Pak Supir mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Saat di perjalanan Azka mulai merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda berbentuk kotak yang tak lain adalah ponsel miliknya. Ia mulai menghubungi seaeorang, sedangkan Amel kini hanya terdiam dan terus menatap ke arah jendela mobil.
"Hallo Tuan." Ujar seseorang dari balik telepon itu.
"Halo Pak Rektor, saya Azka Putra suami dari Camelia Anindita. Sekarang dia ingin kuliah kembali bisakan?" Tanya Azka dengan nada santai.
Ya Azka kini tengah menghubungi Rektor kampus istrinya itu.
"Tuan Azka jangan khawatir, tentu saja boleh." Balas Pak Rektor dengan cepat.
"Oke terimakasih!" Ujar Azka seraya memutus panggilan tersebut.
__ADS_1
Amel yang menguping sedari tadi pun bertanya, "Bagaimana?bolehkan," Tanya Amel seraya menaikan salah satu alisnya.
"Tentu saja boleh, karena kau ini istriku!" Balas Azka dengan menyombongkan nada bicaranya.
'Sombong sekali!' Umpat Amel dalam hati seraya memalingkan pandangannya dan menaruh lengannya di atas perut.
"Hey kau mengambil jurusan apa?" tanya Azka.
"Fashion desain, memangnya kenapa?" balas Amel dengan cepat.
"Aku tak pernah melihatmu menggambar," Ujar Azka seraya mengeryitkan keningnya.
"Apa aku harus bicara dulu jika aku ingin menggambar!" balas Amel seraya memutar kedua bola matanya jengah.
"Sudahlah aku tak ingin berdebat denganmu!" Ujar Azka, mendengar kata-kata itu membuat Amel mendidih dan spontan terus mengumpat laki-laki yang berada tepat di sampingnya itu.
***
dua puluh menit kemudian
Kini pak supir terlihat memasuki area parkir kampus dan segera mematikan mesin mobil tersebut. Sedangkan Amel kini mulai merapihkan pakaian serta rambutnya yang tergerai panjang. Azka terus memandang kegiatan istrinya itu, saat Amel akan membuka pintu mobil tiba-tiba sebuah lengan kekar menahan lengan kecilnya dan itu membuat Amel terduduk kembali.
"Mengapa kau menarik lenganku?" Ujar Amel seraya mengeryitkan keningnya.
"Oke Tuan, ada lagi?" Tanya Amel seraya memutar matanya jengah.
"Tidak!jika ada apa-apa kau hubungi aku." Ujar Azka seraya mendekatkan wajahnya lalu mencium kening istrinya itu. Seketika pipi wanita itu menjadi merah bak sebuah tomat, ia kini berjalan keluar dengan segera karena memang ia merasa malu.
Azka masih merasa tak enak dengan perasaannya terhadap Amel, namun ia tak mau ambil pusing dan bergegas pergi meninggalkan area kampus tersebut.
Sementara itu Amel terus melangkah lebar meninggalkan area parkir, sebenarnya ia merasa tak nyaman karena sedari tadi orang-orang melihatnya dengan tatapan tak suka. Tiba-tiba wanita itu mendengar sayup-sayup suara yang sangat ia kenal dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan menemukan seorang wanita cantik yang tak asing lagi dengannya.
"Diana!ternyata kau!" Sapa Amel seraya tersenyum bahagia dan mendekap sahabatnya itu.
"Memangnya siapa lagi!" balas Diana seraya sesekali menepuk bahu sahabatnya itu.
"Kenapa kau ingin kembali kuliah?" tanya Diana penuh selidik.
"Memangnya tidak boleh?" Tukas Amel.
"Bukan begitu, kau belakangan in temperamen ya!kau ini sudah menikah mengapa masih ingin kuliah?" Ujar Diana.
__ADS_1
" Sudahlah mari kita pergi, nanti jika terlambat para dosen akan memarahi kita!" balas Amel.
Mereka pun berjalan menuju ruang kelas dengan sesekali bersenda gurau. Sementara itu terlihat beberapa gadis yang kini tengah bersandar tepat di sebelah pintu kelas dan terus menatap Amel dengan tatapan tak suka.
Gadis itu tiba-tiba dengan sengaja menyandung kaki mungil Amel, hingga membuat wanita itu tersungkur ke lantai.
Brukk..
Tubuh mungil Amel kini tersungkur dengan kerasnya, semua orang yang melihatnya malah menertawakan wanita itu. Sungguh mereka tak punya hati bukan? pasalnya mereka kini tertawa di atas penderitaan orang lain. Sedangkan Diana gadis itu kini mulai geram dengan perlakuan para gadis yang berada tepat di depannya hingga membuat salah satu dari mereka terjatuh karena dorongan Diana yang teramat kuat.
Setelah itu kini Diana membantu sahabatnya untuk bangkit kembali dan tak henti-hentinya ia mengumpat di dalam hatinya. Sedangkan kini gadis yang di dorong oleh Diana pun merasa tak terima dan malah mencerca mereka berdua.
"Kau berani-beraninya!" Ujar gadis itu geram.
"Seharusnya kami yang berkata seperti itu!mengapa kau dari dulu selalu mengganggu kami Tiwi?" Tukas Diana, ia ingin sekali menampar pipi milik gadis yang berada tepat di depannya itu, namun kini sebuah lengan yang mungil dan lembut segera memberikan isyarat. Diana pun mengerti hingga ia mengurungkan niatnya itu.
Ya gadis itu bernama Tiwi Laureen, gadis berparas cantik, namun kelakuannya tak secantik wajahnya. Sejak dulu ia dan para temannya selalu menggangu Amel dan sahabatnya, namun Amel tak mau ambil pusing dengan perlakuan Tiwi. Sehingga ia sering mengabaikan cercaanya maupun hinaannya.
"Sudahlah Diana mari kita pergi dari sini." Lirih Amel, namun masih terdengar jelas di telinga sahabatnya itu.
"Hey kau wanita murahan!kau mau kemana!" Cerca Tiwi, perkataan itu sontak membuat Diana kembali mendidih. Bagaimana tidak?jika sahabatmu di perlakukan seperti itu kau pasti tak terima bukan?
Namun tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara yang menggema di lorong kelas itu, suara pria yang tak asing lagi di telinga Amel.
"Siapa yang kau sebut sebagai wanita murahan itu?" Sergah pria itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
**Author Up lagi nih😁masih ada yang nunggu story ini nggak🤔 Jangan lupa LIKE, COMENT AND VOTE! agar Author lebih semangat up lagi!
#AuthorNgarep😂**