
Saat ia mulai beranjak dari tidurnya, ia melihat sosok pria tampan yang tengah bercermin spontan itu membuat Amel mengeryitkan keningnya seraya berkata, "Mau kemana?" tanya Amel
"Aku ingin menangkap ikan untuk makan malam kita!" balas Azka dengan cepat
"Ikut!" rengek Amel manja, entah mengapa kata-kata itu lolos dengan sendirinya dari mulut wanita itu.
"Baiklah, ayo!" ujar Azka seraya berjalan meninggalkan ruangan itu, dengan cepat Amel mulai menata kembali rambutnya dan pergi menangkap ikan bersama suaminya tersebut. Wanita itu kini berusaha mengejar langkah suaminya itu seraya bertanya, "Tuan kita akan menangkap ikan dimana?" tanya Amel.
"Di sungai yang tadi!" balas Azka
Sesampainya di sungai, pria itu kini memungut beberapa ranting pohon yang cukup besar untuk di jadikan tombak ikan. Ia mulai membentuk sisi runcing tersebut, sedangkan Amel wanita itu hanya diam dan memerhatikan kegiatan suaminya tersebut.
"Kau mau membuat apa?" tanya Amel seraya mengeryitkan keningnya
"Aku akan membuat tombak!" balas Azka, namun itu tak membuatnya mengalihkan pandangan.
"Buatlah dua!aku juga ingin mencoba menangkap ikan! perintah Amel, Azka pun mengiyakan
Beberapa menit kemudian akhirnya sepasang tombak pun telah dibuatnya, ia memberikan satu tombak itu pada istrinya. Lalu mereka berdua pun mulai menuruni sungai itu, kini aliran sungai itu tak sederas di waktu siang tadi. Mereka berdua mulai menundukkan pandangannya untuk memastikan apa ada ikan di sungai ini. Tak lama kemudian terlihat seekor ikan mujair yang tengah berenang dengan santainya mulai menghampiri Azka, dengan cepat pria itu menusukkan ujung tombak itu pada tubuh ikan tersebut.
Jlebbb
Sebuah ikan kini telah ia dapat, pria itu mulai melangkahkan kakinya menuju daratan untuk menyimpan seekor ikan tadi di sebuah baki yang sebelumnya ia bawa. Dengan segera pria itu pun menuruni sungai itu kembali dan mulai mengawasi apakah masih ada ikan yang tengah berenang bebas?. Sedangkan Amel wanita itu kini tak kunjung mendapat ikan seekor pun, hingga kini ia merasa sangat bosan. Namun tak lama kemudian ia melihat seekor ikan mujair berukuran sedang yang tengah berenang ke arahnya dengan cepat ia mulai menancapkan ujung tombak itu pada tubuh ikan tersebut. Wanita itu kini terlihat berdecak gembira seraya berkata, "Hey Tuan, lihatlah ini aku mendapatkan seekor ikan!" wanita itu kini menunjukan ikan yang telah ia dapat, namun reaksi Azka hanya biasa saja membuat wanita itu berdecak kesal dan sesekali mengumpat pria itu di dalam hatinya.
"Aku telah mendapatkan ikan lebih dulu darimu!" balas Azka seraya menyombongkan dirinya.
"Cih Sombol sekali!" Gerutu Amel pelan, namun masih terdengar jelas di telinga pria itu.
"Apa kau bilang?! ujar Azka setengah berteriak.
"Ti-tidak, i-ini batu ini kosong ya!" balas Amel terbata-bata seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah batu yang kini tepat berada di sampingnya.
"Memangnya batu memiliki isi?dasar bodoh!" ujar Azka seraya melangkah lebar menuju daratan.
"Tuan mau kemana?" teriak Amel saat pria itu semakin jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Pulang!" Teriak Azka seraya terus berjalan meninggalkan istrinya tersebut.
Dengan cepat Amel pun berusaha mengejar suaminya tersebut, namun saat ia mulai menginjakkan satu kakinya di tanah, tiba-tiba kaki lainnya terasa keram hingga membuatnya terjatuh dan spontan menjerit, "Awww... Tuan tolong aku!" Teriak Amel, Azka yang mendengarnya dengan secepat kilat berbalik dan berlari menuju ke arah istrinya tersebut.
"Aww...Tuan tolong!" lirih Amel, seraya terus memegangi salah satu kakinya yang terus mengeluarkan tetesan darah segar karena sempat tersayat oleh sebuah batu saat ia terjatuh.
"Tenanglah!" ujar Azka, hanya kata-kata itu yang bisa ia katakan. Karena saat melihat istrinya terluka entah mengapa ia pun merasakannya. Dengan cepat pria itu kini mulai menggendong tubuh mungil istrinya tersebut seraya membawa sebuah baki yang berisikan dua ekor ikan lalu melangkahkan kakinya untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Azka mendudukan istrinya di teras rumah tak lupa ia pun menaruh baki berisikan ikan itu di sampingnya. Pria itu terlihat memasuki rumah tersebut dan mencari sebuah kotak obat, tak lama ia pun menemukannya dan membawa kotak obat itu, lalu dengan segera ia mulai membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan istrinya itu. pria itu mulai membersihkan luka istrinya lalu membalutkan perban. Setelah itu kini ia mulai bangkit seraya berkata, "Aku akan mencari kayu bakar untuk ikan itu!" ujar Azka, Amel pun mengiyakan
"Ah satu lagi, kau bersihkan ikan itu!" perintah Azka.
"Tak perlu kau perintah aku pun tahu!" balas Amel seraya berdecak kesal. Azka kini mulai berbalik dan melangkahkan kakinya untuk mencari kayu bakar, namun niatnya terurungkan tatkala wanita itu menghentikannya.
"Tunggu!" Ujar Amel
"Ada apa?" tanya Azka seraya mengeryitkan keningnya.
"Cepatlah kembali!" ujar Amel seraya memalingkan wajahnya, entah apa yang membuatnya bisa berkataseperti itu.
"Heh, apa kau jatuh cinta padaku?hingga tak rela berada jauh dariku sedetik pun?" tanya Azka seraya menyunggingkan senyuman seribu arti.
Azka kini mulai mengumpulkan beberapa ranting pohon yang berjatuhan di dekat sebuah pohon yang amat besar dan berdiri dengan sangat kokoh, setelah dirasa cukup pria itu mulai melangkahkan kakinya ke arah jalan pulang. Saat dalam perjalanan pulang sempat terlintas di pikirannya sebuah senyuman wanita yang amat manis dan tulus, namun dengan cepat ia menyingkirkan bayangan itu.
......
Sesampainya di rumah, pria itu kini menaruh beberapa ranting kayu tersebut, lalu ia menghampiri istrinya yang sedari tadi duduk menunggunya.
"Apa lukamu masih terasa sakit?" tanya Azka seraya memandang sebuah kaki yang terbalut oleh perban.
"Sudah tidak!" balas Amel dengan cepat.
"Apa ikan ini telah kau bersihkan?" tanya Azka seraya berusaha meraih baki berisikan ikan tersebut.
"Sudah!cepatlah aku sudah lapar!" balas Amel seraya sesekali mengelus perut rampingnya.
__ADS_1
Azka kini mulai menyusun ranting-ranting tersebut dan mulai menyalakan api, setelah itu ia mengambil ikan tersebut untuk di tusuk kemudian ia bakar hingga matang. Tak beberapa dua ekor ikan bakar pun telah siap, mereka berdua kini menyantapnya dengan lahap karena ikan bakar itu terasa sangat lezat dan terasa manis karena segar.
Hari mulai gelap, mereka berdua kini memilih memasuki rumah dan beristrihat karena sangat lelah, tak butuh waktu lama mereka pun tertidur dengan lelapnya.
Sang surya mulai menyinari ibu pertiwi, semburat jingga nampak di ufuk timur, cahayanya kini mulai merasuk ke celah-celah jendela yang berada di bangunan sederhana tersebut. Saat sinarnya kini memantul ke arah seorang pria yang masih tertidur dengan lelapnya, namun saat lengan itu berusaha mencari keberadaan seseorang, dengan cepat ia pun mengerjapkan kedua matanya. Saat ia melirik ke arah samping ia tak menemukan istrinya tersebut. Awalnya ia berpikir bahwa Amel tengah di toilet, namun setelah beberapa menit ia mencoba mencari istrinya itu ke toilet namun ia tak menemukan siapapun. Hingga ia mulai berjalan ke arah teras, namun hal sama yang ia dapatkan, wanita itu tak ada.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Author up lagi nih, masih adakah yang menunggu kelanjutan story ini?
Hay para readers jangan lupa bagi Author like, coment and vote nya dong biar author semakin semangat up nya!😂
__ADS_1
Ah Iya besok udah hari raya!gimana buat kalian yang berpuasa apa kali ini puasa kalian semua penuh?semoga saja ya😊
Author hanya ingin mengucapkan minalaizin wal faizin mohon maaf lahir dan batin untuk kalian yang menjalankan😊**