Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
kabarmu


__ADS_3

Rani sedang menyapu teras saat sebuah mobil pajero hitam berhenti di depan rumah nya.


Rani memandang mobil itu heran,


seumur umur belum pernah ada mobil yang parkir di depan rumahnya.


Namun rasa herannya berganti dengan rasa kaget saat ia melihat sosok Hangga keluar dari dalam mobil.


laki laki itu menggunakan kaos berkerah warna hitam, dan celana jeans.


Tentu saja terlihat lebih ganteng dan matang dari pada beberapa tahun yang lalu.


Melihat Rani yang tertegun di teras, laki laki itu membuka pagar yang tidak di kunci dan berjalan masuk ke halaman begitu saja.


" Dari mana kau tau rumahku?" tanya Rani tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


" Tidak mempersilahkan aku masuk?" laki laki itu berdiri tepat depan teras.


" Memangnya ada urusan apa mau masuk?" Rani masih memegang sapunya.


" Kau dulu tidak segalak ini.." ujar Hangga,


" kau dulu juga tidak se cerewet ini," balas Rani ketus.


" Kirani.." panggil Hangga pelan,


" pergilah, aku seorang janda, tidak bisa menerima tamu."


" meski tamu itu mantan suamimu?" tanya Hangga,


keduanya saling berpandangan.


" justru karena mantan suami, sudah tidak ada urusan untuk masuk kerumah mantan istrinya!" tegas Rani, entah kenapa perempuan yang biasanya kalem itu menjelma menjadi ketus dan sangat waspada di hadapan Hangga.


Rani sungguh sungguh tidak ingin kehadiran Tiara sampai di ketahui oleh Hangga.


Tapi.. Bagaimana dengan warga sekitar, mereka tau kalau Rani mempunyai seorang putri,


Bagaimana jika kabar itu akhirnya sampai ke telinga Hangga?,


Rani harus mempunyai alasan yang tepat jika keberadaan Tiara suatu hari nanti di pertanyakan.


" Bukankan tidak ada salahnya kita berbincang sedikit,


bertanya tentang kabarmu?" Hangga terlihat begitu tenang meski di perlakukan dengan ketus.


" Setelah bertahun tahun acuh? Sekarang kau bertanya tentang kabarku?" Rani tersenyum getir.


Hangga terdiam, tatapan matanya tiba tiba terlihat sedih.


" Aku akan terus menemui mu meski kau tidak suka.." ujar Hangga,


" kenapa?, apa hobimu sekarang mengganggu orang?"


mendengar itu hanya tertunduk sejenak, seperti meredam sesuatu yang bergejolak di hatinya.

__ADS_1


" kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat.." ucap Hangga lalu berbalik pergi,


laki laki itu berjalan keluar dari halaman,


menutup pagar rumah Rani, dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


Sesampainya di villa, Hangga duduk di teras, di atas kursi panjangnya yang terbuat dari rotan.


Diam diam ia berpikir,


Benar kata kata Kirani,


Setelah bertahun tahun, kenapa baru dirinya perduli, kenapa dirinya baru bertanya kabar.


Sesungguhnya tidak begitu yang terjadi, atau memang Rani tidak tau bahwa ia pernah datang mencari, tapi malah mendapatkan pukulan dari Yudi.


Tak menyerah begitu saja, ia datang mencari kirani kembali, meski dengan resiko di pukul lagi.


Tapi jangankan bicara, hanya amarah Yudi yang ia terima dengan bertubi tubi.


Tidak ada seorangpun yang tau, bahwa menceraikan Rani adalah keputusan yang paling sulit,


ada beberapa sebab kenapa keputusan itu ia ambil,


yang jelas, ia mengambil keputusan itu demi kebaikan Kirani,


agar ia hidup di lingkungan yang sehat setelah bercerai.


Meski sesungguhnya Hangga harus mengorbankan perasaannya sendiri.


Beberapa bulan setelah bercerai, baginya dunia tampak seperti tempat penyiksaan.


rasanya seperti tercekik, ia rindu, ingin berjumpa,


bahkan ingin memeluk wanita itu, namun berkali kali di tampar dirinya agar tetap sadar.


Perceraian adalah jalan terbaik, ia takut perasaannya yang semakin besar melukai Kirani yang tidak mencintainya sama sekali itu.


Ia juga harus menyelamatkan Kirani dari Genta,


Yah.. Genta, genta yang sudah meninggalkannya itu nyatanya tidak pernah rela dengan pernikahan adiknya dan mantan kekasihnya, itu terlihat jelas dari sikapnya.


Bahkan beberapa kali Genta menyindir, bahwa Hangga sudah merebutnya,


padahal genta sendirilah yang membuat ulah hingga semua ini terjadi.


Seakan tidak puas dengan perempuan yang ia bawa pulang,


ia masih saja sering menanyakan kabar Kirani pada Hangga.


Dada Hangga sesak,


setiap melihat kirani ia selalu saja meyakini bahwa perempuan itu masih begitu mencintai Genta.


" Kopinya mas.." bu Woyo meletakkan secangkir kopi di atas meja, membuyarkan lamunan Hangga yang sejenak kembali ke masa lalu.

__ADS_1


" Maturnuwun bu,"


" sami sami mas.." bu Woyo tersenyum,


" pripun mas, sudah ketemu rumahnya?" tanya bu Woyo,


" sudah.. Saya tanya pak RT, ternyata tidak jauh dari sini bu,


bisa bisanya.." ujar Hangga menyesal hampir setahun dia disini, tapi baru mengetahui keberadaan Rani.


" Memang cantik.. Katanya juga banyak yang naksir.."


" masa bu, siapa saja?" tanya Hangga menatap bu Woyo serius,


" Pak guru Ruri, anak pak carik.."


" lha itu cuma dua,"


" yang kelihatan mata orang kampung itu mas, yang tidak kelihatan ya banyak..


sekarang tambah satu..


njenengan.." bu Woyo tersenyum.


Mendengar itu Hangga tersenyum seadanya.


" Pak Woyo dan Sunar sudah pulang bu?" Hangga mengalihkan pembicaraan,


" Belum, masih di kebun jeruk mas.."


" Kenapa belum pulang?"


" lha saya juga tidak tau mas, mungkin masih memperbaiki aliran air.."


Hangga mengangguk,


" Ya sudah, bu Woyo kembali saja ke dapur.."


mendengar ucapan Hangga bu Woyo mengangguk, dan segera kembali ke dapur.


Kembalilah Hangga sendiri, bersama kopinya.


Diam diam ia terngiang ucapan bu Woyo,


" Banyak yang naksir.."


Hangga menghela nafas,


setelah bertahun tahun tidak bertemu memang Rani terlihat lebih dewasa dan cantik.


Rambut yang semula pendek itu kini panjang,


dan tubuh yang semula kurus itu sekarang lebih berisi.


Kalau begitu bukankah Rani hidup dengan baik tanpanya?

__ADS_1


apa dia sudah melupakan mas Genta?,


Hangga masih saja memikirkan hal itu setelah sekian tahun lamanya.


__ADS_2