Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
Danu


__ADS_3

Saat semua orang sedang berbincang, hanya santi yang duduk sendiri, ia mengawasi Gio dan Tiara yang sedang bermain.


" Kau yang sabar ya?" suara mama Hangga dari balik punggung Santi tiba tiba saja mengagetkan santi.


" Iya ma.." jawab Santi, ia tau maksud mamanya, karena genta tidak mau hadir, jadi ia terpaksa sendiri.


" Saya baik baik saja kok ma.. Tenang saja, mama dan papa lanjutkan saja.." ujar santi tersenyum.


Sesedih apapun hatinya, wajahnya tetap menunjukkan senyum yang tulus, apalagi untuk kedua mempelai hari ini, ia sungguh turut bahagia, melihat Hangga dan Rani akhirnya bersatu.


Senja sudah naik, Sunar dan pekerja lain membantu membersihkan sisa sisa sampah.


Sementara semua kain sudah di lepas, tinggal rangkaian rangkain bunga saja yang masih terpasang.


Meja dan kursipun sudah bersih, itu karena permintaan dari hangga, malam ini semua sudah harus bersih, sehingga besok semua pekerjanya bisa libur dengan tenang.


" Besok saja pulang mas?" ujar hangga pada Yudi dan keluarganya.


" Tidak, aku dan danu besok harus bekerja, kau sih enak, tidak punya jam kerja," ujar Yudi sudah bersiap siap pulang.


" Iya, aku harus bekerja besok pagi.." danu ikut bicara, sementara matanya melirik Hanum yang duduk disamping santi, Hanum juga menatapnya, seakan enggan berpisah.


" Ya sudah, terimakasih ya mas, Dan.." ujar Hangga untuk pertama kalinya menyalami Danu dengan ramah, di tambah lagi sebuah pelukan perdamaian.


Danu tersenyum,


" Kau sudah tidak waspada padaku sekarang?" tanya Danu,


" Ah, sudah tidak perlu.." jawab Hangga dengan tawa renyah, di ikuti dengan tawa yang lainnya.


" Baik baik jaga Rani, awas kalau kau buat dia menangis," peringat Danu pada Hangga,


" Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kebahagiaannya.." jawab Hangga.


Danu mengangguk, dan menyalami Hangga sekali lagi.


Yudi dan keluarga akhirnya berpamitan,


" Hati hati mas Danu.." ujar Hanum membuat Hangga dan Rani menatap keduanya,


" Hati hati mas Danu katanya..?" Hangga saling menatap dengan Rani, seakan bisa membaca isi hati si pengucap kalimat.

__ADS_1


Sementara Danupun sama, tatapannya pada Hanum sungguh berbeda, membuat Rani dan Hangga hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.


" Ada apa antara kau dan teman Rani?" tanya Hangga saat semua keluarga sudah selesai makan malam dan keduanya duduk di teras.


" Tidak ada," jawab Hanum cepat,


" alah.. Ngapusi ( bohong ).." kata Hangga,


" kau suka dengan dia ya?" tanya Hangga,


" ti tidak?!" Hanum gelagapan,


" tidak opo.. Wajahmu iku lho, jelas berseri seri saat memandangnya,"


" mosok e mas?!" Hanum malah balik bertanya,


" lho ya, iyo tho.."


mendengar itu Hanum diam, ia mengigit bibir bawahnya seperti sudah ketahuan.


" Awas yo, kuliah harus selesai..!" tegas Hangga,


" siapa tau mau nyusul?!"


" nyusul opo?!"


" rabi..! ( nikah..!)"


" huss! Opo seh mas iki!"


" temenan iki num, Danu iku wes cukup umure yo, opo maneh lek ga golek bojo..


( sungguh ini num, Danu itu sudah cukup usianya, apalagi kalau tidak mencari istri..)" kata Hangga,


" jangan main main sama dia num, kasian kalau kau beri harapan palsu.. Kau maunya pacaran saja, dia maunya menikah.." lanjut Hangga memberi nasehat adiknya.


" Memangnya siapa yang mau main main mas?!"


" lho? Jadi kau mau menikah cepat?!"


" mas ini lho! aku mau selsaikan kuliahku!"

__ADS_1


" Ya wes kalau begitu cari pacar yang setara, maksudku setara usianya, jangan yang terlalu jauh.."


" memangnya kenapa kalau jauh?"


" lulus kuliah kau pasti akan di nikahi, percaya padaku.."


Hanum diam, ia terlihat berpikir,


" Awas.. Danu punya trauma gagal menikah, jadi kalau mau main main jangan dengan Danu num.." suara Rani tiba tiba ikut duduk disamping Hangga, ia terlihat sudah rapi dan harum, rambutnya juga masih basah.


Seperti di serang bertubi tubi, Hanum membeku seketika.


" Danu itu sulit lho orangnya Num.. Jarang suka perempuan duluan sejak dulu, jadi kalau dia memusatkan perhatiannya padamu, itu tandanya dia serius.." suara Rani tenang,


" kok semua orang menakutiku??" tanya Hanum,


" memangnya aku seorang playgirl??" Hanum tidak habis pikir,


" bukan menakuti, tapi memberi masukan..


kasihan danu kalau kaunya tidak serius.." ujar Rani,


" Aku serius mbak, serius..?!"


" berarti kau mau kalau dia mengajakmu menikah tiba tiba?" pertanyaan Rani membuat Hanum terdiam seketika.


Melihat itu Rani tersenyum,


" Nah.. Pikir pikirlah dulu.." katanya lalu bangkit,


" kemana Ran?" tanya Hangga,


" ke dalam, ngobrol dengan orang orang.." jawab Rani,


" tidak ke kamar saja? ayo ke kamar??" ajak Hangga menarik ujung baju Rani seperti anak kecil.


Rani memukul tangan hangga agar melepaskan ujung bajunya.


" Banyak orang dirumah ini..!" ujarnya lalu berjalan masuk.


" Hihihi.. Kapok.." Hanum mengejek Hangga.

__ADS_1


__ADS_2