Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
pagi buta


__ADS_3

Seperti biasa, kabut turun dengan pekat, Rani menarik selimutnya karena hawa dingin menyentuh kulitnya.


Sementara Hangga yang sudah bangun sedari tadi hanya tersenyum melihat istrinya itu menggeliat kedinginan.


Hangga sengaja bangun meski masih pagi buta, ia khawatir dengan Tiara yang tidur sendiri.


Cuaca sedingin ini, ia takut tiara menendang selimutnya dan kedinginan, tapi ternyata tiara tetap tidur dengan posisi awal saat hangga membaringkannya semalam.


Laki laki mencium pundak Rani yang terbuka itu, menyelimutinya, lalu berjalan keluar.


Laki laki itu duduk di ruang tamu, di kursi rotannya.


Masih dengan celana pendek dan kaos putih polosnya, ia membakar sebatang rokok.


Di hisapnya rokok itu perlahan dan menghembuskannya ke udara.


Matanya melirik sofa tengah sesaat lamanya, rautnya tiba tiba berubah malu namun di penuhi kesenangan, senyumnya pun terkembang, mengingat apa yang sudah ia dan Rani lakukan disana.


Bahkan tidak cukup sekali, mereka melakukannya sampai tiga kali dan akhirnya keduanya berpindah ke kamar.


Wajahnya tiba tiba panas, ia bahkan masih bisa mengingat jelas sentuhan Rani di punggung dan kuduknya, sentuhan lembut yang sudah cukup lama ia tunggu, sentuhan hangat dan kepasrahan yang membuatnya mabuk kepayang.


Hangga tidak menyangka, di usianya yang sudah tidak lagi muda, begitu pula Rani, mereka masih bisa memadu kasih seluar biasa itu, bagi Hangga itu cukup luar biasa, karena rani tidak lagi menahan dirinya dan membalas semua sentuhan Hangga dengan mesra, Hangat dan penuh semangat,


seperti dua orang remaja yang baru saja mengenal apa itu cinta.


Andai saja.. pikir hangga, hal semacam ini terjadi pada saat malam pertama mereka tujuh tahun lalu, andai saja...


ahhh.. sudahlah, rasanya percuma hangga berandai andai tentang masa lalu,


Toh dengan kelahiran tiara ia sudah cukup bersyukur, bagaimanapun prosesnya, yang penting sekarang mereka sudah kembali menjadi suami istri.

__ADS_1


Sayangnya nya..


hal yang dulu terjadi kembali terulang..


tidak ada genta dalam acara kebahagiaannya,


kakaknya itu lebih memilih alpha dan tidak sudi melihat betapa bahagia adiknya dan mantan kekasihnya.


Hangga menghela nafas berat,


dalam hati ia menyesali hal ini, kenapa harus terjadi kembali..


kenapa pola pikir kakaknya itu tidak juga dewasa seiring usianya.


Ia sungguh kasihan pada kedua orang tuanya,


Bagaimanapun Gentalah yang akan menggantikan posisi papanya nanti, apa yang akan terjadi jika Genta masih seperti itu?.


Di dunia ini, mana ada adik yang tidak menyayangi kakaknya, ia sungguh menyayangi Genta, tapi semakin ia mengalah genta semakin seenaknya.


Lampu ruang tamu yang remang itu tiba tiba menyala terang, membuat Hangga sedikit kaget.


" Sudah subuh, kenapa tidak membangunkanku?" suara Rani kalem, perempuan berpiyama biru muda itu mendekat.


" Apa yang sedang kau pikirkan?" Rani duduk di atas pangkuan Hangga, entah kenapa bau tembakau begitu pekat dari tangan hangga yang membelai wajah Rani.


" Hanya sedang merokok.." jawab Hangga mengulas senyum, di kecupnya ujung hidung Rani.


" lalu kenapa tidak membangunkanku? malah duduk sendiri disini?"


Rani merebahkan kepalanya di bahu Hangga.

__ADS_1


" Kau terlihat lelah, mana aku tega.." jawab Hangga mendekap Rani.


" Aku juga tidak tenang, takut tiara kedinginan.. tapi ternyata dia nyenyak sekali.." ujar Hangga.


" Dia sudah terbiasa disini, karena itu nyenyak.."


" iya, kau yang belum.. Kau tau rumah ini diselimuti kabut setiap tengah malam sampai subuh.." ucap Hangga mengeratkan pelukannya.


" Jadi.. Bagaimana dengan rumahmu?" tanya Hangga akhirnya,


" di kontrakkan saja.."


" dengan barang barangnya juga?"


" aku hanya akan membawa barang yang penting saja, kulihat villa ini sudah punya cukup banyak barang.."


" aku akan mengosongkan satu ruangan untukmu bekerja dan menyimpan barang barang mu.."


" baguslah.." Rani tersenyum, dan menggosokkan kepalanya ke dada Hangga.


Merasakan gerakan Rani di atas tubuhnya, wajah Hangga tiba tiba memerah kembali, Rani tidak sengaja menyentuh bagian sensitifnya.


Di taruh rokoknya di atas asbak, tundukkan kepalanya, lalu di helanya dagu istrinya itu.


Di ciumnya bibir Rani dengan bibirnya yang beraroma tembakau itu, dan sepertinya Rani sudah mulai terbiasa dengan itu.


" Sekali lagi ya? mumpung Tiara belum bangun.." ujar Hangga dengan tangan yang sudah menyusup ke dalam piyama Rani.


" Lagi??" tanya Rani menatap Hangga,


" he'em.." Hangga mengangguk, lalu mencium istrinya kembali dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2