Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
senang


__ADS_3

" Tiara mulai sekarang tidak boleh ketempat om Hangga tanpa ijin bunda oke?" ujar Rani sembari membelai lembut kepala putrinya.


" Kenapa bunda?" tanya Tiara bingung,


" Tia sayang bunda?"


" sayang.." Tiara mengangguk,


" kalau sayang, Tiara harus patuh ya..?"


" Tapi dirumah om Hangga enak bun.. Tiara bisa main apa saja.."


mendengar itu Rani menghela nafas, ia bingung harus bagaimana mencegah putrinya agar tidak terlalu dekat dengan Hangga.


" Mbah uti, mbah kung juga baik, apalagi tante Hanum..


Tiara di belikan baju cantik cantik.."


mendengar itu perasaan Rani seperti di aduk aduk,


" siapa yang menyuruh Tia memanggil mbah uti dan mbah Kung?"


" ya mbah uti sama mbah kung.." jawab Tiara yang sedang rebahan dengan Rani itu.


Rasa nelangsa menyusupi hati Rani, hal yang seharusnya Tiara rasakan sejak dulu, oh.. Sungguh bersalah dirinya sebagai ibu..


tapi semua sudah terlanjur, mau bagaimana..


" Tadi tamu siapa bun?" tanya Tiara membuyarkan pikiran Rani,


" Tadi? Oh.. Itu namanya om Yanwar, dia kesini ingin meminta bunda untuk mengajar les keponakannya.."


" keponakannya? Les?"


" iya.. Les baca tulis.."


" oh.. bunda mau?"


" Bunda menyetujuinya, tapi hanya seminggu tiga kali.."


mendengar penjelasan bundanya Tiara mengangguk.


" Tiara.." suara Rani pelan sesaat kemudian,


" Tiara lebih senang mana bermain dengan om Danu atau om Hangga..?"


" Sama sama senang.. tapi lebih senang om Hangga..?"


Rani mengangkat kepalanya, di pandang putrinya itu baik baik.


" Kenapa?" tanya Rani,


" Rumah om Hangga luas, Tia bebas bermain.. Apalagi mbah kung dan mbah uti..

__ADS_1


tia suka..


mbak kung dan mbah uti tia kan sudah meninggal kata bunda.."


Rani terdiam, matanya mendadak berkaca kaca, benar.. Kedua orang tuanya sudah meninggal, andai saja keduanya masih ada, mungkin Tiara tidak akan merasakan kasih sayang kakek dan neneknya.


Hangga berjalan melewati papa dan mamanya begitu saja, ia kembali ke setelan awal, malas berbincang tanpa Rani disampingnya.


" Hemm, lihat kelakuannya kalau tidak ada Rani, kembali malas bicara pada orang!" gerutu mamanya.


" Sudahlah ma, dari dulu juga begitu, kok mama baru ngeluh sekarang?" Hanum menyahut.


" Tidak becus, masa mengambil hati Rani saja rumitnya minta ampun!"


" Bukan rumit.. Dia hanya tidak mau di paksa.. anak itu berbeda dengan Genta yang maunya serba ada dan mulus mulus saja,


dia mau Rani ia dapatkan dengan perjuangannya sendiri.." sekarang Hermawan yang menyahut,


" Berjuang? Dengan mencumbu Rani sampai seperti itu?!"


" Ah, mama.. seperti tidak tau saja, mereka itu pernah menikah.." Hermawan mencoba memberi pengertian istrinya.


" Tapi yo ndak begitu juga kelakuannya..! Wes pokok e kita harus ke Yudi!"


" yo pasti kita ke Yudi," jawab Hermawan tenang.


" Langsung di takokno piye? opo di lamar ae?"


" nunggu Hangga lemot..!"


" mas Hangga juga sedang berusaha ma, tidak diam saja.. buktinya tadi siang.." sahut Hanum sembari memakan jeruk hasil panen kakaknya.


" Eh, Num.. kamu mbok sering main main kerumah Yudi, cari tau Num.. Siapa tau ada bukti kelahiran Tiara," usul mamanya tiba tiba,


" alasane opo tho ma aku main kesana? Moso ujuk ujuk kesana?" jawab Hanum,


" ya terserah alasanmu opo.. Kalau ndak gitu mana kita bisa tau Tiara sebenarnya anak siapa?


moso anaknya Yudi tapi mirip sama mas mu? Lak aneh tho??" ujar mamanya.


Hangga ternyata tidak masuk ke kamarnya, ia berjalan keluar melewati pintu belakang menuju kebun.


Suasana gelap, namun jalan menuju tempat tinggal para pekerja di sinari dengan lampu lampu kecil 10 watt.


Laki laki bercelana pendek dan berkaos putih polos itu berjalan menanjak, menuju ujung kebun di mana kamar kamar para pekerja berjejer disana.


Rupanya di gasebo ada beberapa orang yang masih berbincang.


" Boss?!" Suara Burhan,


Mendengar itu Hangga mendekat dan ikut duduk di gasebo,


rupanya Burhan dan pak Dirjo.

__ADS_1


" Berdua saja? yang lain mana?" tanya Hangga,


" Yang lain di dalam nonton tv mas, kalau sunar keluar mulai sore.. Naik ke atas.. Ketemu pacarnya.." jawab pak Dirjo.


" Wah.. Belum pulang dia sekarang?"


" belum mas, kalau sampai jam sepuluh belum pulang biar saja kita kunci pintunya supaya tidur di luar.." ucap Burhan.


" Ojo ngunu.. Mesakne.. Awakmu jomblo gaoleh esmosi Han.." ujar Pak Diryo membuat Hangga tersenyum.


" Sumpek lihat orang orang podo jatuh cinta aku pak,"


" hei, kau menyindirku?" sahut Hangga,


" lho? Mboten mas, mboten wantun kulo? ( lho? tidak mas, tidak berani saya?" jawab Burhan cepat,


" lha iku mau.."


" maksudnya bukan sampean.. banyak yang lain mas.." kilah Burhan, padahal dia memang menyindir Hangga, tapi ia tidak cukup berani untuk mengaku.


Hangga hanya tersenyum ringan melihat Burhan yang kelabakan karena takut menyinggung Hangga.


Hangga membenarkan letak duduknya, menyandarkan dirinya di papan bambu, lalu mulai membakar rokoknya.


" Bagaimana hasil panen di bawah mas..?" tanya pak Dirjo,


" bagus.." jawab Hangga santai,


" kalau tanah bekas tebunya mas? Mau di tanami apa?"


" biarkan dulu pak Dirjo, saya belum ada pikiran mau menanam apa.. lahannya sedikit jauh dari mata air soalnya.."


" di tanami tebu lagi saja mas,"


" saya kurang minat dengan tebu sebenarnya, tapi.. kita lihat saja ke depannya, saya juga menunggu pergantian musim.." jawab Hangga sembari menghisap dan membuang asap rokoknya.


Dari kejauhan terlihat Sunar berjalan kaki naik, ia melewati lampu lampu penerangan.


" lho? iki bocahe.." seru pak Dirjo melihat Sunar mendekat.


" lho, sepedamu endi lho Nar?" tanya Burhan,


" bocor e.. Di tukang tambal.. jalan kaki wes adohee.. Sebelahe omah e bu Rani.." Jelas Sunar.


Melihat Hangga duduk di gasebo langkah Sunar terhenti.


" Lho? pak Boss?" Sunar meringis, tiba tiba ia teringat sesuatu,


" lihat sampean saya kok tiba tiba ingat, tadi pas lewat depan rumah bu guru saya liat ada anak pak Carik keluar dari rumah bu Rani?" Sunar memberitahu bos nya, ia bahkan belum duduk.


" Aku sudah tau.." jawab hangga berubah muram, di hembuskan asap rokoknya ke atas.


Melihat ekspresi Hangga semua orang yang berada disana tentunya tau bahwa itu ekspresi tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2