
Danu duduk di salah satu kursi cafe, dimana Hanum sudah duduk terlebih dahulu disana.
" Sudah lama?" tanya Danu,
" baru saja.. mas mau pesan dulu?" tanya Hanum,
" nanti saja, apa yang mau di bicarakan?" tanya Danu langsung,
" Pesan apa dulu lah mas.."
" iya aku akan pesan nanti.. tenanglah.."
Hanum mengangguk,
" ya sudah.. terserah mas saja.."
" jadi...mau bicara apa?"
" ada yang mau kutanyakan tentang mba Rani dan Tiara.."
Danu terdiam, ia terlihat beberapa kali menghela nafas,
" Bukankah kakakmu dan Rani sudah bercerai?"
" mas ku mencintainya.."
" mencintainya?? lalu kenapa dulu ia menceraikan Rani?" Danu tiba tiba terlihat kesal.
" Dulu ada mas genta.."
" maksudmu Rani masih mencintai kakak pertamamu? sehingga kakak keduanya menceraikannya?"
Hanum mengangguk,
" Mas ku berpikir seperti itu.. Saat itu ia hanya ingin yang terbaik untuk mbak Rani?"
" kakakmu sudah membuat keputusan yang salah".
Tegas Danu pada Hanum,
" Karena itu kami ingin menebusnya.."
" dengan cara?!"
" mas Hangga ingin menikahi mbak Rani kembali.."
" oh ya? lalu bagaimana dengan kakak pertamamu? bukankan ini hubungan yang rumit?!"
" kami bersatu untuk melindungi mbak Rani dari apapun termasuk mas Genta.."
Danu terdiam sesaat, terlihat banyak berpikir.
" kau yakin mas mu itu mau berkorban dan tidak akan melepaskan Kirani lagi?"
Hanum mengangguk,
" Lalu Rani? Apa dia mau kembali pada mas mu?"
Hanum diam, tapi tak lama kemudian ia bertanya,
" apakah jika dua orang sudah saling bercumbu sudah bisa di katakan saling menerima??" dengan polosnya, membuat Danu malu sendiri mendengarnya.
" Omong kosong Rani begitu?!" Danu tak terima,
" sebab kedua orang tuaku datang menemui mas Yudi beberapa hari yang lalu adalah karena hal itu..
dan keduanya sudah tidak bisa menampiknya.."
__ADS_1
Danu lagi lagi terdiam, tak percaya.
" Lalu sekarang, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Danu kemudian,
" Tiara.. Dia sesungguhnya putri siapa?"
" kenapa kau bertanya tentang urusan pribadi orang lain padaku?!" Danu yang ramah tiba tiba galak.
" Karen mas adalah teman baiknya?"
" tapi tidak semua hal boleh kucampuri?!",
Keduanya saling menatap,
" itu anak mbak Rani kan? bukan mas Yudi??" Hanum tetap bertanya,
" jangan sok tau perkara hidup orang lain, berhenti bertanya padaku, tanyakan langsung pada yang bersangkutan,
aku permisi!" Danu bangkit dari kursinya dan berjalan pergi begitu saja, menyisakan rasa kesal di hati Hanum.
Hangga kembali, membawa dua kantong besar makanan, sebagian besar adalah kue kue yang mungkin saja di sukai Tiara.
" Sudah bangun mak?" tanya Hangga menaruh kantong berisi makanan itu di di atas meja ruang tengah yang jadi satu dengan ruang tv,
" Sudah, sedang bermain HP.." jawab mak Dar,
mendengar itu Hangga masuk ke dalam kamar,
" om.." panggil Tia dengan suaranya yang sedih, membuat hati hangga tak karu karuan rasanya.
" Mau makan kue?" tanya Hangga,
" tangan tia sakit.."
" om suapi ya.." Hangga mengambil satu biskuit keju, membukanya dan menyuapi Tia,
" bundanya masih tidur?" tanya Hangga pada mak Dar,
" efek obat, aku minta obat yang bagus tadi, supaya mereka bisa tidur nyenyak..
bagaimana kata tukang pijit?"
" tidak ada yang terkilir mas, hanya saja bengkak karena benturan.."
" pasti itu mak.. oh ya, motornya sudah di bawa sunar ke bengkel mak.. misal Rani mencarinya,"
mak Dar mengangguk,
" Ini sudah malam mak, mak pulang saja.." ujar Hangga,
" lha yang nunggu mbak Rani sama genduk siapa?"
" saya mak.. saya akan tidur disini,"
" lho?!"
" sudahlah mak, jangan pedulikan omongan orang, yang penting buat saya adalah Rani dan Tiara.. Wes mak pulang saja.."
" jangan mas, saya sudah ijin suami kok.. tidak apa apa..?"
" mak tidur disini ataupun pulang, saya tetap akan menemani mereka.."
" aduh, sampean ini mas.."
" pulang pun saya tidak akan bisa tidur mak.. Pikiran saya kesini terus.."
mendengar itu mak dar menghela nafas,
__ADS_1
" ya sudah.. biar saya tidur dengan Tiara,"
" terserah mak saja, saya bisa tidur di kursi atau di lantai,"
" jangan, saya ada kasur kecil di belakang, biar saya ambilkan, mas tidur di depan TV saja.."
" boleh mak.." jawab Hangga dengan tangan masih sibuk menyuapi Tiara.
Rani membuka matanya, jam setengah dua malam, ia membolak balikkan tubuhnya, rasanya sakit semua, tapi ia harus bangun untuk buang air kecil.
Ia berjalan pelan pelan keluar kamar,
" Mau kemana?" suara Hangga mengagetkannya.
" Hangga??" suara Rani tak percaya laki laki otu ada dirumahnya lewat tengah malam begini,
" kenapa kau disini?"
" tentu saja menungguimu dan Tia.." jawab Hangga bangkit dari tempat tidur kecil yang ia gunakan untuk berbaring, nyatanya laki laki itu tidak tidur, pikirannya penuh, semrawut.
" kau berlebihan, bagaimana kalau orang tau kau disini??"
" memangnya kenapa? Paling paling kita di nikahkan, jawab Hangga enteng.
" Kau mau ke kamar mandi?" tanya Hangga,
Rani mengangguk,
melihat anggukan Rani, Hangga langsung menggendong Rani dan berjalan ke arah kamar mandi.
Hangga berhenti di depan pintu kamar mandi dan menurunkan Rani.
" Perlu kubantu?" tanya Hangga khawatir Rani jatuh.
Rani menatap Hangga, dan Hangga tau arti tatapan itu.
" Aku punya hati, kau sehat saja aku menahan diri, apalagi kau sedang sakit?" ujar Hangga.
Setelah Rani kembali ke atas tempat tidur, Hangga mengolesi kaki rani yang bengkak dengan salep yang di berikan oleh dokter.
" Kau masih mau mengajar dalam kondisi begini? Jalan saja kau susah..
paling tidak ijinlah selama satu mingguan.." nasehat Hangga,
" tidak enak dengan kepala sekolah,"
" kepala sekolah urusanku, jangan terlalu.. Kau bukan pegawai negri.."
" tapi tetap saja, siapa yang akan mengajar kelas satu?"
" banyak guru pengganti, sudahlah jangan keras kepala," bujuk Hangga,
" nah sudah.. Sekarang tidurlah..
atau mau ku temani tidur?"
" tidak.."
" kupijit pijit maksudnya.."
" tidak, aku tidak percaya denganmu.."
" aku? Tidak di percayai? Wahh.. Apa kata rekan rekan bisnisku kalau tau..?" Hangga tersenyum,
" beda urusannya, kau yang sekarang sedikit ngawur.."
mendengar itu Hangga tertawa kecil.
__ADS_1
" kau benar.. Saat ada dirimu, aku bisa menjadi orang yang paling ngawur.. kau bahkan tidak akan bisa membayangkannya.." hangga mengecup tangan Rani,
" Tidurlah, aku akan menjagamu dan Tiara.." suaranya lembut.