Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
aku milikmu


__ADS_3

Kirani menatap Hangga kesal setengah mati,


" Aku? apa yang kumulai?" tanya Rani,


" Kau sengaja membiarkan para laki laki itu berada di sekitarmu?!"


" mereka sudah sejak dulu berteman denganku? Saat kau tak ada mereka yang membantuku?!"


" jadi salahku saat aku tidak ada?! Jadi salahku aku tidak disampingmu?! Sementara kau sendiri yang pergi membawa anakku dalam perutmu?!"


" kau menceraikanku!" tegas Rani keras.


" perempuan manapun punya harga diri! Kau kira aku akan kembali mencari laki laki yang sudah menceraikanku karena hal sepele??" imbuh Rani,


" Itu tidak sepele?!"


" lalu??"


Hangga terdiam sejenak,


" aku ingin kau bahagia saat itu, aku ingin kau bahagia, karena aku tau kau tidak mencintaiku.." jawab Hangga dengan suara lebih terkendali.


" kau kira rumah tangga di dasari oleh cinta saja?"


" kau tau aku bodoh, aku tidak pernah menjalin hubungan percintaan sebelumnya, aku bahkan tidak mengerti pola pikir wanita?"


" jadi kau mengakui kalau kau bodoh?"


" yah! aku bodoh.. aku bodoh karena sudah salah paham dan menceraikanmu.."


Rani tersenyum getir mendengarnya.


" lalu sekarang kau mengharapkan aku dengan mudah?"


Hangga diam, ia bingung harus bagaimana.


" Aku memang salah, tapi kau tau dengan jelas hatiku? Tapi kenapa kau seperti sengaja seakan menerima laki laki lain untuk berdiri kapan saja disampingmu?"


" aku tidak begitu."


" yah, kau begitu, kau tidak memberi batasan yang jelas pada mereka, sehingga aku merasa kapan saja mereka bisa merebutmu dariku?" ujar Hangga dengan sorot matanya yang tiba tiba saja redup.


" Aku tidak mau kehilanganmu lagi.." lanjutnya menatap Rani redup.


Rani yang awalnya kesal, melihat hangga yang seperti itu tentu saja iba, namun tidak di tunjukkan rasa ibanya.

__ADS_1


" Kau sendiri?" tanya Rani tiba tiba, masih sedikit ketus,


" aku kenapa Ran?"


" kau bersikap seperti tidak tau mana yang pantas dan tidak!"


Hangga menghela nafas panjang,


" baiklah, tentang mbak santi, aku yang salah, aku tidak akan membuka baju sembarangan lagi.."


" hanya baju?!"


Hangga diam, ia berpikir,


" apalagi? aku tidak pernah bersikap lembut padanya?" hangga tidak menyadari,


" tapi kau memberi kesempatan!"


" kesempatan opo tho Ran??!" keluh Hangga,


" kesempatan untuk mengagumi dirimu?! Kesempatan untuk membanding bandingkanmu dengan Genta!"


" Aku tidak pernah??"


" tidak Ran, percayalah.. semua ini hanya milikmu?" ujar Hangga,


" omong kosong, lalu kenapa kau biarkan dia disini terus? Dia istri kakakmu, sedang meminta cerai dengan suaminya, lalu kau menampungnya disini tanpa Hanum??!"


Hangga diam, cukup lama, ia memandang Rani dengan lembut, dan tak lama kemudian memeluk Rani tiba tiba.


Rani tidak mengelak, karena pelukan itu di rasakan cukup lembut.


" Tanpa kau katakan aku sudah tau tentang hal itu.." ujar Hangga pelan,


" Besok papa dan dan mama akan menjemputnya," imbuh Hangga,


Mendengar itu Rani membisu.


Bagaimana Rani tidak cemburu dan kesal, Santi adalah perempuan yang cukup cantik, terbukti dulu genta meninggalkannya demi Santi, dan sekarang, dengan entengnya santi memuji muji Hangga.


Rasanya ketakutan tiba tiba saja menghampirinya, marah, ingatan masa lalu, rasa tidak ingin kehilangan kembali, semua perasaan itu menyerangnya dan berakumulasi menjadi rasa marah pada Hangga.


" Aku juga tidak senang ada mbak Santi ditempatku, kau kira aku senang?" kata Hangga, tapi Rani tidak menjawab, perempuan yang sedang di pelukan Hangga itu tiba tiba saja menutup mulutnya rapat rapat.


" Kau kira aku tenang? Apalagi saat mendengarnya meminta cerai..

__ADS_1


apa jadinya,


apa yang harus kulakukan jika mas genta masih saja mengharapkanmu..


kau kira tidurku nyenyak?


kau kira aku tidak memikirkanmu setiap malam??" Hangga mengecup kening Rani.


" Bayangkan saja, aku sedang pusing memikirkan mbak santi dan mas Genta,


malah kau suguhi pemandangan yang tidak menyenangkan dengan pak guru itu,


laki laki mana yang tidak akan marah?


kau duduk dengan santainya disamping kedua orang tuanya, seakan akan mereka mengharapkan mu menjadi menantunya..


coba jadilah aku Ran, jadi aku..


kau ibu dari anakku, aku juga sudah menyentuhmu, menciummu..


mana aku tahan melihat kau dekat dekat dengan laki laki lain..


jangan mengujiku,


sudah cukup..


jangan dekat dekat dengan siapapun lagi..


kau dengar itu..?" Hangga memeluk Rani erat.


Rani masih saja diam, ia ingin mengangguk, tapi entah apa yang mencegahnya.


Saat keduanya sedang tenggelam dalam perasaannya masing masing, tiba tiba saja terdengar suara beberapa orang di luar rumah Rani.


" Tok!tok!tok!tok!tok!!!" ketukan pintu yang kasar dan keras.


" Bu Rani?! Bu Rani?! Tolong buka pintunya?!" suara itu keras.


Hangga dan Rani yang terkejut saling melepas pelukannya, berpandangan sesaat.


" Aduhhh..." kata hangga sembari menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


" Bagaimana ini?" tanya Rani dengan wajah yang tegang.


" Tidak apa, biar aku yang menghadapi mereka.." ujar Hangga menenangkan Rani.

__ADS_1


__ADS_2