
Hangga yang sedari tadi memantau tanah bekas kebun tebu memutuskan untuk pulang,
ia belum tau akan ia tanami apa tanah ini, karena posisi sinar matahari sedikit terik.
Rasanya kurang bagus untuk menanam jeruk, jadi ia harus memutar otaknya dan mencari bibit tanaman yang tepat agar tidak merugi nantinya.
Arah pulang tentu saja melewati rumah Kirani.
Melihat Tiara yang membatu mak Dar menjemur pakaian disamping rumah, Hangga memutuskan berhenti.
" Sebentar Nar.." ujar Hangga menepuk pundak Sunar,
tanpa di beritahu pun Sunar tau bahwa dia harus menghentikan motornya dan menunggu.
" Tiara..?" Panggil Hangga dari balik pagar,
" Mak, mak?!" seru Tiara saat melihat Hangga berdiri di depan pagar.
Mendengar seruan Tiara mak Dar mengehentikan kesibukannya dan berjalan menuju halaman depan.
" Pak..?" sapa mak Dar sembari membuka pagar.
Setelah Pagar di buka Hangga berjalan mendekati Tiara.
" Sudah pulang sekolah?" tanya Hangga membelai rambut Tiara,
" sudah.." jawab Tiara tersenyum,
" sudah makan?"
Tiara mengangguk,
" sedang bantu jemur pakaian ya? hebat.. bunda masih mengajar?" Hangga jongkok dihadapan Tiara,
" Iya, om cari bunda?"
" tidak, om cari Tia.." jawab Hangga.
" Masuk dulu pak, saya buatkan kopi.." ujar Mak Dar,
" Saya hanya menyapa Tiara mak.." Hangga berdiri,
" minum kopi sebentar saja pak, mumpung bapak kesini ketemu saya.." ujar mak Dar seperti ada sesuatu yang ingin di katakan.
Menyadari hal itu Hangga mengangguk,
" Ya sudah mak.. Jangan terlalu manis kopinya.." kata Hangga sembari menggandeng Tiara masuk, sementara Sunar di biarkan di pinggir jalan menunggu.
__ADS_1
Setelah kopi itu datang, mak Dar duduk, sedikit jauh dari Hangga.
" Tia.. Mlebu nduk ( masuk nak ), nonton TV nggih.." ujar mak Dar pada Tia, Tiara menatap Hangga,
" Iya, nonton TV dulu ya, om mau bicara dengan mak Dar sebentar.." lagi lagi kepala Tiara di elus,
Tiara mengangguk berat, dan berjalan masuk.
" Apa yang mau di bicarakan dengan saya mak?" tanya Hangga setelah Tiara masuk.
" Sebelumnya saya mohon maaf pak.."
" panggil nama saya langsung saja mak,"
" jangan.. Pripun kalau mas saja??"
" yah.. boleh.." angguk Hangga sembari membuka tutup cangkir kopinya agar kopinya dingin.
" Jujur saja.. saya khawatir terhadap mbak Rani dan njenengan," raut mak dar menjelaskan ke kekhawatirannya.
" Tentang?" Hangga mulai melihat mak Dar dengan serius,
" Sepulang dari menginap dirumah mas.. Mbak Rani.." ucapan mak Dar terhenti,
melihat itu Hangga mengerti kemana arah pembicaraan ini.
" saya tau mak mendukung saya.. Itu terbukti dengan informasi yang mak berikan saat Rani pulang kesurabaya waktu itu..
karena informasi dari mak saya bisa punya kesempatan berdua kembali dengannya..
saya sungguh berterimakasih mak..
sebagai bentuk terimakasih saya, saya akan menjaga Rani baik baik.." ujar Hangga,
" khawatirnya saya itu kalau ini terus berlanjut tanpa kepastian mas, mbak Rani janda.. Dan disini desa, bukan kota.. apa kata orang kalau melihat mbak Rani keluyuran ketempat sampean, atau sampean yang terus terusan kesini tanpa status yang jelas?" ganjalan di hati mak Dar di ungkapkan.
Hangga mengangguk mengerti,
" mas dan mbak Rani sudah pernah menikah dulu.. Kenapa hal itu tidak di resmikan kembali??"
Hangga sedikit terkejut dengan keterusterangan mak Dar, tapi bukankah itu bagus.. Semakin banyak dukungan semakin semangat dirinya.
" Itu mau saya mak.. tapi sepertinya tidak dengan Kirani.." jawab Hangga tenang,
mendengar itu mak dar diam, tapi diam yang banyak ke khawatiran di dalamnya.
" Yang jelas, mas akan menyesal kalau mbak Rani sampai di nikahi orang lain, dan mas juga akan menyesal kalau sampai kehilangan Tiara.." ujar mak Dar dengan mata memerah tiba tiba.
__ADS_1
" Maksudnya bagaimana mak??" tanya Hangga, entah kenapa kata kata mak Dar tadi seperti peringatan untuknya, soal Rani memang pasti, tapi soal Tiara, kenapa mak Dar berkata seperti itu?.
" Saya tidak bisa bilang, tapi jangan sampai kehilangan Tiara.. apalagi dia sepertinya sudah sayang dengan sampean..
kasihan.. mulai bayi saya yang mengurus, belum pernah dia dekat dengan siapapun sebelumnya, kalau sampai berpisah dari mas, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sedih dan kecewanya.." mata perempuan tua itu menjadi penuh.
Hangga tertegun dengan kesedihan mak Dar, entah kenapa pembicaraan ini tiba tiba terasa aneh dan begitu berat.
" Saya yang merawat Tiara sejak bayi..
di bawa kesini masih usia dua bulan.." ucap mak Dar,
" Mbak Rani seperti orang sakit.. banyak melamun dan sering menangis bulan bulan pertama datang kesini..
kadang saya lihat seperti linglung.."
Ada yang perasaan yang mengalir dalam diri hangga mendengar itu, perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, kecemasan dan penyesalan menjadi satu.
" Saya yang orang lain saja, tidak tega melihatnya..
Mbak Rani seperti orang yang patah hati, seperti orang yang di tinggal mati..
karena itu awalnya saya kira mas sudah meninggal..
saya heran, kenapa perempuan dengan kondisi lemah seperti itu dan mempunyai bayi malah tinggal sebatang kara disini..?"
Hangga kaku, tidak satu katapun keluar dari mulutnya, ia bahkan tidak tau harus bicara apa,
ini adalah kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, ia mengira setelah bercerai, Rani hidup tenang dan bebas tanpa keterpaksaan dan kesedihan.
" Memang mas Yudi datang kesini terkadang.. tapi itu tidak sering karena mas Yudi katanya juga sulit untuk mengambil libur..
datang sabtu.. Pulang minggu,
setiap mas Yudi datang mba Rani selalu menangis terisak, saya tidak tau apa sebabnya.." mak Dar menyeka air matanya yang tidak terasa jatuh begitu saja.
" Saya saksi hidup mas.. Saya enam tahun ini yang melihat mbak Rani dan Tiara hidup.. tanpa sampean..
sesungguhnya saya marah, saya berpikir mas adalah laki laki kejam dan tidak bertanggung jawab, karena itu mbak Rani menjalani kehidupan yang menyedihkan dengan Tiara,
Tapi saat saya lihat sosok mas yang sesungguhnya, saya kebingungan..
anggapan anggapan saya selama ini sepertinya tidak sepenuhnya benar..
apalagi melihat mas masih begitu mengharapkan mbak Rani.." lanjut mak Dar, suasana hening sesaat,
Hangga masih membeku di tempat duduknya, wajahnya panas, bersemu merah di penuhi perasaan kacau.
__ADS_1