Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
hiduplah di malang


__ADS_3

Pagi itu kabut mengelilingi villa seperti biasanya,


Tiara masih meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut tebalnya.


Di pandangi putrinya yang sedang terlelap itu,


semakin di lihat semakin mirip saja dengan dirinya, hangga diam diam tersenyum, membelai lembut kepala Tiara.


" andai bundamu tidak sesulit ini nak.. Pasti kita sudah hidup bersama.." ucap laki laki itu lirih.


Ia bangkit, meninggalkan putrinya di kamar.


Seperti biasa, ia menyalakan rokoknya dan duduk di teras.


Tapi ia tak menyangka ada papanya yang sudah terlebih dulu duduk disana dengan jaket tebalnya.


" Papa sudah bangun?" tanya Hangga duduk tak jauh dari papanya,


" baru saja," jawab papanya duduk tenang menikmati hawa subuh.


" Papa tidak bisa tidur?"


" sedikit, hawanya terlalu dingin,"


" iya, beberapa hari ini memang lebih dingin dari biasanya pa, mau ku buatkan teh hangat?" hangga yang hanya menggenakan kaos putih saja itu menawarkan teh pada papanya,


" tidak usah, duduklah yang tenang.." ujar Hermawan pada putranya.


" aku berencana membawa Tiara ke Surabaya,"


hangga menatap papanya,


" kapan?"


" mumpung besok dia masih liburkan?"


" tapi besoknya sekolah, kirani tidak akan mengijinkannya pa?"


" lalu mau kapan lagi, aku tidak bisa wira wiri kesini terus, banyak pekerjaan yang kutinggalkan,


bolos sehari dua hari tidak masalah, segera kita perkenalkan dia pada keluarga besar kita di surabaya, agar mereka semua tau bahwa kau sudah mempunyai anak, aku tidak mau tiara terlalu lama di sembunyikan,

__ADS_1


dia punya hak yang sama dengan putra genta,"


mendengar nama genta di sebut perasaan Hangga sedikit tidak nyaman,


" apa.. Mas genta akan baik baik saja?" tanya Hangga,


" harusnya begitu, memangnya dia mau apa? Dia sudah tidak ada urusan denganmu atau kirani, kalian sudah bercerai, dan kenyataan kalau Tuhan menyatukan kalian kembali dengan kehadiran Tiara, itu di luar kendali kalian,


mulai sekarang belajarlah tegas terhadap kakakmu itu, makin kau mengalah dia makin seenaknya saja.."


" aku tidak nyaman saja pa,"


" dengan kata katanya yang memanipulasi mu agar merasa bersalah?


kau bukan orang bodoh,


apa kau masih berpikir kalau Rani mencintainya? Itu sudah berlalu? Rani bahkan membesarkan putrimu, jika dia masih mencintai Genta, mungkin rani sudah mengugurkan Tiara sejak ada dalam kandungan, tapi nyatanya..?"


Hangga diam, ia terlihat berpikir.


" Tapi aku bisa melihat pa, bahwa mas Genta tidak cukup puas dengan istrinya, aku takut.."


papa sendiri heran, dari mana karakter itu dia dapatkan,


dia bahkan memasukkan perempuan yang tidak kompeten ke perusahaan, beberapa tahun ini, setelah kau pergi, perusahaan mengalami kemunduran,


Genta tidak bisa membaca keresahan papa.." akhirnya papanya mengeluh,


" tapi apa yang bisa ku perbuat, sejak awal hatimu tidak pernah ada di perusahaan, aku menghargai pilihanmu dengan menjadi petani.." imbuh laki laki beruban itu.


" Terimakasih pah, karena selalu mendukungku apapun pilihanku selama ini,"


sang papa mengangguk,


" sekarang rampungkan urusanmu dengan Kirani, entah kalian bersama atau tidak, tetap jaga tiara baik baik.. dia cucu perempuanku, aku tidak tau kehidupannya selama enam tahun ini, kau harus membahagiakannya.."


Hangga mengangguk mendengar itu.


Tiba tiba terdengar suara klakson mobil, dan lampu mobil yang menembus kabut,


" Jangan berisik Nar?! anakku masih tidur?!" seru hangga pada sunar yang ada di dalam mobil pick up yang biasanya di gunakan untuk mengangkut buah dan bibit itu.

__ADS_1


" Kepencet mas?! mau di panasi saja, soalnya nanti jam tujuh kan mau ngantar durian ke supermarket..?" sahut sunar,


" nanti wae tho! masih subuh! kalau anakku bangun gara gara kaget awas awakmu yo!" peringat Hangga,


" hemm iya iya mas.." jawab Sunar mematikan mesin mobilnya.


" Kau kalau rame begitu Tiara malah bangun nanti," ujar papanya.


Tak menunggu lama, Hangga membawa Rani ke villa,


ia membiarkan kedua orang tuanya yang bicara pada Rani perkara membawa Tiara ke surabaya,


" Kau ikut saja, supaya kalau tiara rewel tidak susah.." ujar papa Hangga,


" kalau kau keberatan dirumah kami, tidak apa apa kau diam di yudi, setidaknya jaraknya tidak jauh untuk mencarimu..


tapi akan lebih baik jika kau ikut pertemuan keluarga..


tidak usah kau pikir macam macam, disana kau sebagai ibu tiara, kau tetap menjadi bagian dari kami,


tidak seorangpun akan ku ijinkan untuk menggunjing mu.." janji papa Hangga,


" kau dengarkan?" kata hangga pada Rani yang ragu ragu,


" dengarkan nduk, kami sudah tua.. Kami tidak bisa menunda untuk memperkenalkan tiara, dia dan anak genta punya hak yang sama semakin semakin cepat di umumkan semakin bagus..


ingatlah, dia cucu keluarga hermawan..


ini dilakukan untuk menghindari kericuhan di kemudian hari.." sekarang mama Hangga yang bicara,


" mbak Rani tenang saja.. ada aku, aku akan menjaga kalian.." Hanum menambahkan.


" Saya tidak bisa lagi menolak kalau semua ini memang demi kebaikan Tiara,


dia memang cucu keluarga hermawan,


tapi saya tidak ingin turut masuk terlalu dalam, biarkan semua itu menjadi urusan ayah Tiara," jawab Rani.


" Aku akan menjaga putri kita baik baik.." ujar Hangga sembari menatap rani hanggat,


" apapun yang kupunya, itu adalah miliknya.." imbuhnya memastikan agar tak ada keraguan pada diri rani, jika ia akan membahagiakan putri mereka.

__ADS_1


__ADS_2