Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
kegelisahan Hangga


__ADS_3

Sesampainya dirumah rupanya santi masih berada dirumah, hanum masuk dengan membawa sekotak puding.


" Makan mbak, biasanya kalau makan yang manis manis perasaan jauh lebih baik.." ujar Hanum, tapi bukannya senang, air mata santi malah meleleh lagi.


" Mungkin ini balasanku ya num?" tanya Santi,


" balasan apa tho mbak?" tanya hanum tidak mengerti,


" balasanku karena telah merebut mas genta dari perempuan itu.."


" huss..! Jangan bicara begitu mbak, mbak kan tidak tau.." hanum menghibur,


" meskipun begitu, aku sudah membuatnya menangis dan nelangsa.. Aku bahkan menikah dengan mas genta tanpa rasa bersalah sedikitpun.." santi masih menangis.


Hanum diam, ia kebingungan, entah dimana mamanya, kenapa santi di biarkan sendirian.


" Mama kemana mbak?"


" sedang menidurkan Gio.." jawab santi,


" oh.." hanum mengangguk,


" Sebaiknya kau juga tidur mbak, istirahatlah.." saran hanum,


" mana bisa.."


" mbak mau ke dokter? Apa ada bagian tubuh mbak yang sakit sekali?"


" tidak, aku hanya di tampar dan di cekik.." jawab Santi tertunduk,


" hanya di tampar dan di cekik mbak?? Hanya mbk bilang?" Hanum menggeleng pelan,


" harusnya kemarin dia di hajar mas Hangga lebih parah, bisa bisanya dalam kondisi begitu masih bisa berbuat kasar padamu mbak?" Hanum tidak habis pikir.


" Mungkin dia kesal, karena aku bertanya tentang Kirani itu.." santi menyeka air matanya,


" wajarlah mbak bertanya, mbak kan istrinya, lagi pula sudah ada istri kenapa dia malah sibuk mengurusi hubungan mas hangga dengan mantan istri mas Hangga?!" Hanum kesal.


" Kelihatannya dia benar benar sulit menerima hubungan hangga num.." suara santi lirih,


" dia masih belum selesai dengan masa lalunya.. Ini memang salahku.. Harusnya aku mencari tau dulu, mana aku tau kalau dia lari saat akan akad nikah..


kukira saat itu mereka hanya bertunangan saja dan di batalkan dengan baik baik.." santi lagi lagi menangis.


" Aku juga bersalah pada Hangga, karena aku hangga menjadi korban juga.." imbuh santi,


" tidak mbak, keduanya memang terpaksa menikah, tapi mas Hangga sudah menaruh hati sejak dulu pada mbak Kirani,


hanya saja dia memendam perasaannya sendiri..


sudahlah, sekarang fokus saja merawat gio..


berdoalah, semoga mas Genta semakin dewasa dan bijaksana,"

__ADS_1


" tidak.. Mas gentamu sebelum kirani munculpun tetap seperti itu..


dia selalu saja mudah menerima perempuan lain, sepertinya dia menyesal menikahiku sehingga selalu mencari kenyamanan di luar sana.." lagi lagi santi menyeka air mata nya.


" Maumu bagimana?" tanya Hangga dari telfon,


" Jangan ikut campur dalam urusan rumah tanggaku!" tegas genta pula dari telfon,


" kalau kau kesal padaku, lampiaskan padaku mas, istrimu itu perempuan, seberapa besar kekuatannya sampai kau pukuli begitu?"


" jangan banyak bacot kau ngga!"


" kalau mau bertarung ayo bertarung, ayo berkelahi sampai kau puas, tapi setelah itu jangan lagi kau buat masalah!


apa kau kira mama dan papa tidak akan berpikir?! apa kau kira dengan istrimu datang kerumah dan menangis mama papa tidak akan susah?!


mana tanggung jawabmu? Kalau tidak senang bicaralah yang baik, jangan anak orang kau pukuli begitu?


apalagi dia ibu dari anakmu mas?!" tegas Hangga, ia bicara seperti orang yang lebih tua dari genta.


Tak mau mendengarkan omongan Hangga lagi, Genta mematikan sambungan telfon itu dengan kasar.


Tau sambungan telfon itu di matikan, Hangga menaruh HPnya di atas meja,


dan seperti biasa, saat perasaannya sedang tidak nyaman, ia mengambil rokoknya dan membakarnya.


Ia duduk di bawah pohon durian, di kursi kayu panjang, ia duduk tenang meski kabut sore mulai turun melewatinya.


Ia benar benar tidak habis pikir dengan perlakuan kasar Genta pada istrinya, sebabnya hanyalah satu, yaitu ' Kirani'.


Saat hangga sedang sibuk dengan pikirannya, terdengar motor Kirani masuk ke dalam perkebunan dan berhenti di depan villa.


Perempuan itu masih saja cantik seperti biasanya, dengan sweater coklat mudanya, dan Tiara yang menggemaskan itu duduk di belakang dengan jaket warna birunya.


" Ayah?!" suara Tiara turun dari motor, dan langsung berlari ke dalam villa, ia tidak tau kalau hangga sedang duduk di bawah pohon durian.


Melihat itu keresahan Hangga berkurang, ia tersenyum melihat putrinya berlari masuk ke dalam villa, sementara bundanya berjalan ke arah teras dan duduk di kursi rotan seperti biasanya.


Tak lama Tiara keluar dari villa, dan berlari ke arah hangga yang masih duduk menunggu, tentu saja, pasti bu woyo yana memberitahu tiara bahwa dirinya sedang duduk di bawah pohon durian.


" Ayah tidak dingin?" tanya Tiara bersandar di paha Hangga,


" ayah sudah biasa.." jawab Hangga mencium kening putrinya.


" Sudah menjelang magrib, tia kok kesini? tidak belajar?" tanya Hangga sembari melirik Rani yang berjalan mendekat.


" Sudah, tia mau bobok sama ayah? Soalnya bunda banyak tugas, harus ngetik sampai malam.. Tiara mau sama ayah sajalah.." jawab Tiara membuat hangga tersenyum,


" oh, bunda banyak tugas.. Ya sudah, bobok sama ayah? Bajunya buat besok dibawa? Bukunya juga?"


Tiara mengangguk, sudah di bawa bunda, ada di dalam tas semua.."


" ya sudah, tia sudah makan?"

__ADS_1


" sudah, tapi tadi bu woyo di dapur goreng ikan, baunya wangi yah.. Apa tia boleh minta ikan ke bu Woyo? Tapi jangan bilang bunda, tia di marahi kalau banyak makan?"


Hangga tertawa kecil,


" Ya sudah, masuk ke dalam sana, mint ikan sama bu Woyo, terus maemnya di dapur, biar bunda tidak tau.."


" benar yah?"


" iya biar ayah yang jaga bunda disini..?"


Tiara tersenyum ceria, ia segera berlari kembali ke dalam villa.


" Mau kemana dia?" tanya Rani yang sudah berdiri di hadapan Hangga,


" mau nonton tv dengan bu Woyo," jawab Hangga,


" dia mau tidur denganmu, itu tasnya sudah kutaruh di kursi,"


Hangga mengangguk, lalu menarik lengan Rani agar duduk disampingnya,


" jangan pulang, disini saja dulu.." ujar Hangga,


" Tugasku banyak.." jawab Rani,


" bawa kesini, kubantu mengerjakan.."


" memangnya kau bisa?"


" kau ajari saja, atau kubantu mengetik, tanganku cukup cepat kalau soal mengetik, mentang mentang aku petani kau meremehkanku?" Hangga melingkarkan tangannya ke pinggang Rani dan menarik tubuh Rani agar dekat dengannya.


" Aku tidak meremehkanmu, justru kau sangat faham tekhnologi dari pada aku..


buktinya kau cukup sukses bertani.."


" yang benar?" lagi lagi satu kecupan jatuh ke pipi Rani.


" Hangga?! Bibirmu itu kenapa sih?! Gatalnya kalau tidak mengecup orang sembarangan?" Rani mengomel, melihat kiri dan kanan, takut kalau kalau ada yang melihat mereka.


" Gatal kalau di sebelahmu saja.." hangga malah semakin bandel,


" lagi pula tidak sembarangan orang kok? hanya kau saja.. bundanya Tiara.." satu kecupan lagi di bibir.


Merasakan kecolongan berkali kali Rani menutup mulut hangga dengan segera,


" kau ini, semakin di nasehati semakin parah?! Kalah bandel dengan murid muridku?!"


mendengar itu Hangga tertawa, di dekatkan wajahnya ke arah rani, lalu beradu dahi.


Di perlakukan semanis itu tentu saja Rani melemah, di singkirkan tangan Rani yang menutupi mulutnya,


lalu berkata,


" Kau ini jinak jinak merpati.. saat ku kejar kau lari..

__ADS_1


saat aku diam, kau mendekat.." ujar Hangga lalu mencium perempuan yang berada disampingnya.


__ADS_2