
" Tolong beri aku alamat Hangga?" pinta Santi pada hanum,
" untuk apa?"
" aku ingin menemui perempuan itu? Kirani kan namanya?"
" untuk apa mbak? jangan membuat masalah, sebaiknya mbak pulang saja kerumah.."
" lalu di pukuli lagi?"
Hanum diam, ia bingung harus menjawab apa,
" aku yakin, setelah di marahi oleh papa, mas Genta tidak akan berani menyentuhmu lagi, jadi berilah dia kesempatan mbak.." nasehat Hanum,
" tidak num, buktinya saja dia tidak menyuruhku untuk pulang, dia bahkan tidak merindukan putranya.."
Hanum menghela nafas, ia bimbang.
" Mbak Rani sudah melupakan persoalan yang lampau, jadi lebih baik tidak usah saja mbak menemuinya,"
" ini akan tetap mengganjal hatiku, aku bersalah padanya num.. Meski aku tetap atau tidak lagi berumah tangga dengan mas mu genta, aku tetap akan meminta maafnya.."
" Biar kupikirkan dulu mbak, aku juga akan bertanya pada mama dan papa dulu.." jawab Hanum pelan.
Hangga melepas kaos putihnya, terlihatlah jelas bentuk dadanya yang bidang itu, yang di penuhi keringat.
Ia mengambil cangkul yang tadi di gunakan sunar, dan mulai mencangkul.
__ADS_1
Entah kenapa ia merasa kurang bergerak minggu minggu ini, jadi dia berniat untuk turun tangan langsung dengan para pekerjanya.
setelah setengah jam lebih ia mencangkul, Rani tak sengaja lewat disamping kebun, ia baru saja pulang dari pasar sore.
Di hentikan motornya di pinggir jalan,
" Lho? bu guru?" Sunar yang melihat rani mengangguk sopan,
" Tuanmu sedang sibuk rupanya?" tanya Rani memperhatikan hangga yang tidak sadar kalau Rani sedang berada disamping sunar dan memperhatikannya dari kejauhan.
" Kalian sudah makan?" tanya Rani,
" Saya sudah tadi bawa bekal dari bu Woyo, tapi mas hangga tidak makan, hanya minum saja.."
mendengar itu Rani berjalan ke motornya, ia mengambil nasi pecel yang tadi di belinya, sesungguhnya itu untuk dirinya dan mak Dar, tapi mendengar Hangga belum makan sedari siang ia mana tega.
mendengar itu Sunar mengangguk dan segera memanggil Hangga.
Melihat Rani Hangga tentu saja langsung berjalan ke arah rani, sementara Sunar menggantikannya mencangkul.
Setelah Hangga berdiri disampingnya rani malah sedikit canggung, bagaimana tidak, melihat bahu bahu yang bidang dan perut yang terbentuk dengan baik itu hatinya sedikit berdebar.
" Pakai bajumu," ujar Rani,
Hangga tersenyum mendengar itu,
" Kenapa?" tanyanya,
__ADS_1
" Kau tidak sadar atau bagaimana? Sedari tadi banyak orang lewat yang memandangimu? Kau sengaja memamerkannya pada gadis gadis desa?"
Hangga hanya tersenyum, lalu mengambil kaosnya dan memakainya.
" Ayo makan, katanya kau belum makan, ini kebetulan aku membeli pecel dari pasar.."
Hangga tidak mengambil sebungkus pecel itu, tapi malah memandangi Rani.
" Kau tidak suka pecel?" tanya Rani,
" suka," jawab hangga,
" lalu?"
" aku capek, tanganku kotor.. Suapi aku.." ujar Hangga,
" jangan manja, ini di pinggir jalan?" jawab Rani setengah melotot,
hangga diam, dia masih tidak mengambil pecel itu, malah membuang pandangannya pada sunar,
" ya sudah, aku mencangkul lagi saja.." ujarnya merajuk seperti anak anak.
" Astaga.." keluh Rani sembari menghela nafas,
" ya sudah, sini kusuapi.." akhirnya rani menyuapinya setelah mencuci tangannya dengan air mineral.
Seperti anak kecil yang mendapat hadiah, wajah Hangga begitu sumringah, ia makan dengan senang dan lahap, tak memperdulikan orang orang yang lewat di sekitar jalan raya yang sesungguhnya cukup memperhatikan keduanya.
__ADS_1