
Hermawan dan bu Hermawan akhirnya duduk juga berhadapan dengan Yudi,
" Sudah berapa tahun Yud.." basa basi Hermawan,
Yudi hanya tersenyum,
" Langsung saja pak, ada kepentingan apa?" Yudi tidak mau ber basa basi.
Hermawan dan istrinya saling memandang,
" Baiklah, kami akan langsung saja..
ini menyangkut Rani dan Hangga, kau sudah tau belum kalau mereka bertetangga di malang?" tanya Hermawan membuat raut wajah Yudi sedikit berubah, seperti kurang senang.
" Saya tau baru baru ini saja, memangnya ada apa? toh tidak ada masalah jika keduanya tidak saling menganggu?"
" Memang ada sedikit masalah.. Tapi bukan masalah besar.."
" ada masalah??" Yudi sekarang lebih serius,
" mereka kembali dekat,"
" kembali dekat yang bagaimana maksudnya?"
" mereka.." Hermawan terhenti sejenak, ia ragu,
" bicara saja pa terus terang supaya Yudi tau.." sela istrinya.
Mendengar itu Hermawan mengangguk,
" Jadi begini ceritanya Yud.. Mereka.." akhirnya Hermawan mengatakan semuanya, apa yang terjadi pada Rani dan Hangga selama mereka menginap di villa,
terlihat betapa shocknya Yudi, ia membeku untuk sesaat, berusaha menerima dan mencerna apa yang di sampaikan Hermawan.
" Kukira kita perlu menyatukan keduanya kembali Yud.." mendengar itu wajah Yudi memucat, ada ketakutan yang ia simpan.
" Mereka sudah begitu, aku berdosa yud jika terus menerus membiarkan.." imbuh Hermawan, dan Yudi masih diam.
" Kelihatannya mereka berdua juga saling menyayangi, hanya saja malu untuk mengakui bahwa sama sama membutuhkan.." sekarang bu Hermawan yang bicara,
" Soal itu.. biar saya bicarakan dulu dengan Kirani," ucap Yudi setelah diam beberapa lama,
" dulu mereka berpisah karena situasi Yud.. dan sekarang mereka di pertemukan kembali, dengan perasaan yang lebih baik..
kami sebagai orang tua tidak mau salah langkah lagi..
tidak mungkin mereka berbuat sampai sejauh itu tanpa ada perasaan sedikitpun Yud..
bagaimana pun juga mereka pernah menjadi suami istri.." ujar bu Hermawan,
" kau tau kan Yud apa maksud kami datang kesini??
__ADS_1
kau bicaralah dengan adikmu..
dan kalau bisa kita cari waktu dan tanggal yang baik.."
Yudi lagi lagi terdiam, cukup lama, entah apa yang ia pikirkan.
" Kami menunggu jawaban mu Yud.." suara Hermawan tenang,
" dan soal Tiara.."
Deg!
Yudi menegang saat nama keponakan kecilnya di sebut, raut kecemasan terlihat jelas, sehingga Hermawan dan istrinya menangkap ekspresi tersebut.
" Apa benar dia putrimu Yud?" lanjut Bu Hermawan,
Yudi mengangguk cepat, meski dengan wajah yang terlihat cemas.
Hanum yang sejak tadi duduk di luar, menunggu papa dan mamanya bicara bangkit saat melihat seorang laki laki masuk ke dalam halaman rumah Yudi.
Hanum mengingat laki laki itu, dia adalah laki laki yang bersama Rani waktu itu.
Danu berjalan masuk ke halaman, dengan membawa kresek hitam di tangannya.
" Cari mas Yudi ya?" tanya Hanum, kembali duduk,
" Iya, mas Yudi ada?" jawab Danu berjalan ke teras.
" Ya sudah kutunggu saja, tidak enak menyela pembicaraan.." Danu duduk tak jauh dari Hanum, kursi teras yang memang biasanya di gunakan untuk Yudi dan Danu berbincang.
" Mas yang dengan mbak Rani waktu itu ya?" tanya Hanum memberanikan diri, karena sosok Danu terlihat kalem.
" Kau kenal Rani?" tanya Danu balik, ia menatap Hanum,
" Saya mantan adik ipar mbak Rani.." Jawab Hanum,
" ohh.." Danu langsung mengingat pertemuannya di tempat makan saat itu.
" Iya, yang ketemu di tempat makan waktu itu.."
" iya iya, aku ingat.."
Hanum tersenyum,
" Mas apanya mbak Rani? Pacarnya?"
mendengar itu Danu tersenyum,
" wah, pertanyaannya.."
" habisnya, saya penasaran dari saat itu.. apa memang saya menganggu mbak Rani yang sedang pacaran, dan sekarang saya ketemu mas disini..
__ADS_1
jadi saya tanya saja.."
Danu memandang perempuan berambut sebahu itu sebentar, lalu kembali tersenyum.
" Banyak yang berharap begitu, tapi sayang.. sejak dulu kami teman baik.." jawab Danu membuat senyum Hanum terkembang,
" Syukurlah.. "ucap Ranum, ia senang karena Danu bukan saingan kakaknya.
" Kok syukurlah.." tanya Danu masih tersenyum,
" boleh minta nomor HPnya mas?"
danu sedikit kaget tiba tiba di minta nomor HP,
" boleh ya.. saya janji tidak akan aneh aneh, hanya ingin ngobrol saja seputar mbak Rani..".
" Nar.." panggil Hangga yang sedang memegang selang air itu pada Sunar yang sedang sibuk mencangkul.
" Nggih mas.." jawab Sunar sembari mencangkul tanah,
" Kau lihat Tiara tidak Nar?"
" Tiara anak bu guru.."
" iyo.."
" memang kenapa tho mas, kalau kangen ya diambil.."
" susah Nar.. akhir akhir ini bundanya pelit sekali padaku.." keluh Hangga,
diam diam Sunar tersenyum mendengar keluhan bosnya itu.
" kalau kau lihat lihat.. anak itu mirip aku tidak sih Nar?" Hangga sibuk menatap air yang jatuh ke tanah.
Sunar terdiam sesaat,
" saya mau bilang begitu, tapi takut.." akhirnya Sunar menjawab.
Hangga sontak memandang Sunar,
" Kau sungguh sungguh Nar?" tanya Hangga,
" menurut saya sih mirip, kalau orang tidak tau, pasti mas di kira bapaknya," lanjut Sunar.
Mendengar itu Hangga membisu, tak bertanya apapun lagi, tapi kebisuannya aneh menurut Sunar,
Hangga berdiri dengan tatapan kosong, entah pikirannya kemana, hal itu membuat Sunar heran.
" Mas?!" panggil Sunar membawa Hangga kembali pada dunia nyata,
" jangan melamun mas, ini sudah sore?" ujar Sunar.
__ADS_1