
kebun di villa itu di sulap menjadi tempat yang indah, di penuhi kain berwarna putih sebagai atap dan rangkaian bunga bunga segar di setiap sudutnya.
Kepala sekolah, ruri, diah, dan semua guru di sekolah hadir.
Sedangkan di bawah pohon durian yang batangnya juga di hias dengan kain dan bunga bunga itu, berdiri Danu dengan batik lengan panjangnya, ia terlihat menawan dan gagah, terlebih lagi ia memperhatikan Hanum yang sedang menggenakan kebaya berwana cream dan coklat sedari tadi.
Hanum tau ia sedang di perhatikan, namun ia masih tidak punya waktu untuk berbincang dengan Danu yang sepertinya menunggu untuk di sapa itu.
Di hari pernikahan ini, hawa cinta begitu pekat, tidak hanya kedua mempelai yang merasakannya, namun semua orang di sekitarnya.
Hangga yang mengunakan setelah jas berwarna putih itu tampak begitu bersinar, ia tersenyum ramah pada setiap orang, seperti ingin memberitahu bahwa ia sedang berbahagia, wajahnya yang tampan begitu membuat orang betah menatapnya.
Keduanya duduk di depan penghulu dan Yudi, sementara Hermawan duduk disamping Hangga.
Rani tampak cantik dengan sanggul dan kebaya putihnya.
Sesekali perempuan itu tertunduk menyembunyikan wajahnya, air matanya tak tahan untuk tak turun saat Yudi menatapnya.
Namun Hangga yang menyadari hal itu menggenggam erat tangan Rani di balik meja.
Prosesi akad Nikah mulai di laksanakan, Hangga melaksanakan ijab qobul dengan lancar tanpa hambatan apapun, bagaimana tidak, ini adalah yang kedua.
Jika dulu, dalam waktu tiga puluh menit saja ia sudah bisa lancar melaksanakan ijab qobul saat menggantikan Genta, apalagi sekarang, hal yang sudah sangat di harapkan dan di nantinya.
" Sahh..!!!" suara Danu paling keras menjawab penghulu, membuat Hanum menatapnya sembari tersenyum.
Hangga dan Rani saling menatap sejenak, kebahagiaan bertumpu menjadi satu, tercurah dengan satu kecupan di kening Rani.
Semua orang yang berada di ruangan itu mengucap syukur dan turut berbahagia.
Saat penghulu sudah pulang, dan semua tamu berpindah ke kebun untuk menikmati pesta kecil dan berbagai hidangan, Hangga yang masih berada di dalam ruangan bersama Rani tak kuasa menahan kebahagiaannya.
Diangkatnya tubuh Rani seperti anak kecil dengan tangan menahan kedua paha Rani.
__ADS_1
" Istriku.." ucapnya lirih dengan senyum mesra.
Rani mengangguk, penuh senyuman pula, ia sudah pasrah jika lipstiknya harus hilang karena di cium oleh hangga, tapi untung saja sang mama masuk mencari kedua pengantin kenap tidak kunjung keluar juga menemui tamu tamu mereka.
" Mbok ya sabar?!" suara mamanya mendekat dan memelintir telinga Hangga, sehingga Hangga sontak menurunkan Rani dari gendongannya.
" Aduh! mama?!" protes hangga,
" masa cium sedikit saja tidak boleh?!"
" tidak! sana temui para perangkat desa yang datang, mereka mencarimu?, teman teman mengajar Rani juga?!" tegas Mamanya yang juga berkebaya coklat itu senada dengan kebaya hanum.
mendengar Itu tentu saja Hangga dan Rani langsung keluar, mereka menemui tamu tamu yang datang.
Tiara yang menggunakan rok ala princes yang juga berwarna coklat muda itu benar benar senang, ia dan Gio berlarian kesana kemari sembari mengambil beberapa kue kesukaannya, tak perduli dengan ayah dan bundanya.
Hanum yang sedang menemani santi yang sedang duduk sendirian akhirnya bangkit,
" mbak.. Aku kesana sebentar ya?" pamit santi menunjuk ke arah Danu yang duduk tenang sediri disamping kolam.
" Hai, kau sudah tidak sibuk?" tanya Danu mengulas senyum manisnya,
" Sudah tidak, kan akadnya sudah selesai.. mas ijin kerja ya?" tanya Hanum,
" iya, aku ijin sehari.. tak apalah, demi Rani.. kapan lagi aku melihatnya menikah.."
" mas sungguh teman yang baik.." ujar Hanum, namun entah kenapa ia tersipu,
" benarkah? Kau mau jadi temanku juga?"
" tidak," jawab Hanum cepat,
" tidak?"
__ADS_1
" jadi tukang ojekku saja kalau sedang libur kerja.."
" maksudnya?" Danu pura pura tidak mengerti,
" jadi tukang ojek pribadiku saja.. Mengantarku kesana kemari.. mau tidak..??" tanya Hanum dengan berani,
Danu membuang pandangannya ke arah lain sesaat, menyembunyikan wajah senangnya.
" Aku tidak bisa menolaknya.." jawab Danu akhirnya,
" kenapa?"
" karena kau adik ipar Rani.." danu tersenyum,
" yang benar?" goda Hanum,
" yah.. Sebagai sesama manusia juga, aku berkewajiban untuk berbuat baik.." alasan Danu untuk mengurangi rasa malunya,
" jadi mas begitu pada setiap wanita??"
" tentu tidak!" jawab Danu cepat,
" khu.. Khusus kepadamu saja.." imbuhnya tertangkap basah oleh Hanum kalau ternyata laki laki itu juga memiliki perasaan padanya.
Hangga terlihat sibuk, ia berbincang dengan rekan rekan bisnisnya, seperti pemilik perkebunan yang biasanya bekerja sama dengannya dan tuan tuan tanah lainnya,
Sementara Rani sibuk dengan rekan guru dan beberapa orang yang tidak di undang namun tiba tiba saja datang karena mendengar kabar Rani menikah.
" Saya tidak pernah menyangka, kalau ayah Tiara itu adalah pak putra.." ujar ibu ibu yang rumahnya agak berdekatan dengan Rani,
" pantas saja, pak putra sering terlihat datang.."
mendengar itu Rani mengangguk dan tersenyum,
__ADS_1
" selamat nggih bu, akhirnya menikah kembali, kalau jodoh tidak akan kemana memang.." komentar beberapa orang membuat Rani sedikit malu.