
" Kamu teman Kirani itu?" tanya Hermawan pada Danu,
" Nggih.." jawab Danu mengangguk sopan,
" owalah.. Pantas tidak asing..,
lha? Kenapa tidak ikut makan malam tadi?? Ayo ayo sekarang makan?"
" saya sudah makan tadi di kantin pabrik, kebetulan baru pulang kerja.." jawab Danu,
" Lho? Pulang kerja langsung kesini??"
Danu tersenyum dan mengangguk,
" Lho Ran? bagaimana ini, kasian temanmu tho baru pulang kerja langsung disuruh kesini??!" protes hermawan pada menantunya.
Rani dan Hangga saling memandang dan tersenyum,
" Bukan Rani pah.." jawab Hangga,
" lalu??" tanya Hermawan,
" tuh.." Hangga menunjuk Hanum yang duduk di sebelah danu dengan dagunya.
" Hanum?" si papa akhirnya menatap anak terakhirnya.
Yang di tatap malah menunjukkan giginya.
Papa dan mamanya saling menatap sesaat, sang mama terlihat menyentuh bahu suaminya pelan, seperti menyarankan agar mengerti.
" Hanum sengaja menyuruh mas Danu kesini untuk berkenalan dengan papa dan keluarga lainnya.." ucap Hanum membuat seluruh orang di ruang tamu itu terdiam, lagi lagi saling memandang, bahkan genta sampai berpandangan lagi dengan Hangga, dan Hangga hanya tersenyum saja karena ia sudah tau dari awal kalau adiknya dan Danu saling tertarik.
" Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Genta tiba tiba,
" Pacaran kan? Kalau tidak pacaran mana mungkin Hanum membawa seorang laki laki kerumah dan memperkenalkan pada seluruh keluarganya?" tanya genta lagi,
seluruh ruangan menunggu jawaban, termasuk si mama dan papa, tapi Danu tampak tegang sekali.
" Papa mama tidak akan memakanmu, jawablah.." bisik Hanum di telinga Danu,
melihat Hanum yang dengan santainya berbisik di telinga Danu seperti itu membuat semua orang tercengang, Rani dan santi sampai beradu pandang.
Gentapun yang selama ini tidak pernah melihat Hanum membawa pulang seorang laki laki tampak lebih kaget dengan hal itu, apalagi mama papanya.
" Ehem..!" Hermawan berdehem, seperti menunggu jawaban.
" Mohon maaf sebelumnya.. Saya telat meminta ijin.." ucap Danu memberanikan diri,
" saya dan Hanum memang sedang dekat.. yah, sedang berpacaran, tapi pacaran yang serius.." imbuh Danu.
" Pacaran yang serius bagaimana? Ya memang harus serius..!" sahut Hangga,
membuat Hanum melotot kepadanya,
" lho, hanum melotot ma?!" Hangga mengadu pada mamanya,
" Hanum..!" peringat mamanya.
" Sebentar dulu.. Kalian kenal dimana dan sudah pacaran berapa lama?" tanya si papa.
Danu menatap Hanum sesaat sebelum menjawab pertanyaan papanya.
" Dirumah mas Yudi pertama kali.." jawab Danu,
" Yudinya kirani?" tanya si papa,
" inggih.. ( iya )" danu mengangguk,
" jatuh cinta pada pandangan pertama??" tanya papanya membuat Hangga geli, tanpa sengaja Hangga tertawa.
" Meneng ( diam ) ngga?!" ujar papanya serius, membuat tawa hangga hilang seketika.
" Saya sih setelah beberapa kali bertemu.." jawab Danu,
" Kau num?"
" sama pah, setelah beberapa kali bertemu.." jawab Hanum,
" terus pacarannya?"
" beberapa hari setelah acara pernikahan mbak Rani dan mas Hangga.." jawab Hanum membuat papa dan mamanya saling beradu pandang lagi.
" Belum ada 4 bulan??" tanya hermawan,
" tapi saya serius dengan hanum.." ujar Danu dengan nada yang tidak main main.
" Sek sek.. Serius bagaimana nak Danu? kan kalian masih sama sama muda.. Di jalani saja dulu, toh masih tiga bulan lebih hubungan.." sekarang mama Hanum yang bicara,
" Saya sudah tidak muda pak.. Saya sudah tigapuluh satu, tahun depan tiga puluh dua.." jawab Danu membuat kedua orang tua hanum terdiam sejenak.
" Danu sepantaran dengan Rani pa, ma.. Teman sekolah Rani mulai TK sampai SMA.." akhirnya Rani bicara setelah melihat kekagetan mertuanya, bagaimanapun juga ia ingin membantu Danu.
" Beda sembilan tahun?" tanya mama Hanum,
__ADS_1
Danu mengangguk, wajahnya tampak sedikit kecewa saat perbedaan usianya dan Hanum di sebutkan.
" Memangnya kenapa kalau beda sembilan tahun ma? Sepuluh tahun pun tidak masalah asal Danu serius.." sela Hangga,
" Kau kerja dimana?" tanya Genta,
" saya pegawai tetap di salah satu pabrik.." jawab Danu,
lagi lagi genta, papa dan mama terdiam.
Rani dan Hangga berpandangan seakan mencari cara,
" kudengar dia bekerja sebagai kepala bagian, bukankan itu lumayan bagus untuk seseorang yang memulai dari nol?" ujar Hangga membuat Danu meliriknya sekilas.
" Kau kepala bagian di tempat kerjamu?" tanya papa Hanum,
" inggih..( iya )" danu mengangguk,
" saya tidak berharap banyak agar di terima, keluarga saya memang berbeda jauh dengan keluarga hanum..
karena itu saya nekat datang kesini untuk memperkenalkan diri.." ujar Danu,
" Maksudmu jika kami tidak setuju maka kau akan mundur begitu?" tanya hermawan,
Danu diam sesaat,
" Saya akan tetap berusaha dan membuktikan kalau saya bisa bertanggung jawab atas diri hanum.." jawab nya kemudian,
" Hanun bahkan belum wisuda..?"
" akan saya tunggu,"
" dia juga bahkan belum bekerja,"
" akan saya dukung apapun minatnya,"
jawab Danu.
" apa kau merasa Gajimu cukup untuk menjadi suaminya?"
" saya akan berusaha untuk mencukupi apapun kebutuhannya, jika perlu.. Pulang kerja saya akan mencari pekerjaan sampingan.."
" pekerjaan sampingan??"
Danu mengangguk yakin, hal itu membuat Hermawan terdiam, entah kenapa tiba tiba ia mengingat dirinya sendiri dulu.
Hermawan sontak menatap putrinya,
" Hanum?!" panggilnya tegas,
" Laki laki ini serius denganmu, jangan main main, kalau kau berniat untuk pacaran saja lepaskan dia..?!" ujar papanya membuat hanum mengedipkan matanya berkali kali tak percaya,
" Lho??" ucap Hanum kebingungan,
" usianya sudah siap untuk menikah num, sedangkan kau? Masih senang main main?" sekarang mamanya yang khawatir.
" Itu yang kukatakan saat akad nikahku pada hanum pa.. Danu tidak bisa di ajak main main, usianya sudah cukup.." sahut Hangga.
" Lho? Kok jadi aku?" tanya hanum,
" ya memang kau pangkalnya.."
" aku sudah meminta waktu setahun saja, setahun saja tunggu aku, dan dia mau.." ujar Hanum menatap Danu,
" benar itu Dan?" tanya Hangga,
" iya, saya bersedia menunggunya selama setahun, jika dia ingin mengajar dulu silahkan.." jawab Danu.
Mendengar itu semua orang yang berada di ruang tamu itu terdiam, seperti berpikir.
" Ya sudah.. Jalani dulu saja, kita lihat setahun mendatang, apakah niat kalian berdua masih seteguh ini.." suara Genta serius.
Beberapa hari kemudian di villa Hangga, Tiara sudah siap dengan seragamnya, Rani juga sudah siap dengan seragam batiknya.
Semua orang berkumpul di meja makan untuk sarapan.
" Waduh, tia sama bunda punya seragam ini.. ayah saja yang tidak punya.." goda Hangga menyendok nasi untuk tiara.
" Ayah mau, pinjam seragam bunda saja atau tiara.." ujar tiara membuat Hangga tertawa,
" tidak, ayah sudah punya seragam.. ini.." Hangga menarik kaos putih polosnya, masih tertawa.
Rani yang sibuk baru saja mengambil sendoknya tiba tiba saja berubah ekspresi wajahnya.
" Bu Woyo sedang memasak apa?!" tanyanya dengan wajah yang tidak enak,
" memanaskan bakso yang kubeli semalam, kalian sudah tidur karena itu kumasukkan kulkas, kenapa?" tanya Hangga heran melihat raut istrinya,
" Tidak enak, baunya tidak enak..?!" ujar Rani bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Melihat itu Hangga menyusul istrinya,
" huuuekk..." rupanya Rani mual, ia ingin memuntahkan sesuatu tapi tidak bisa,
__ADS_1
" Huuuueeekk..." berkali kali Rani seperti itu hingga membuat hangga memijit mijin leher dan bahu Rani.
" Buang baksonya, baunya tidak enak.." ujar Rani lemas karena berkali kali memaksakan dirinya untuk muntah tapi tak ada yang di muntahkan.
Mendengar itu hangga heran, padahal bakso itu adalaj bakso kesukaannya, dan tidak mungkin basi, karena ia masukkan kulkas baunya ketika di panaskan masih harum bau kuah bakso.
" Buang baksonya, singkirkan yang jauh..?!" ujar Rani tersiksa dengan bau bakso itu.
Mendengar itu Hangga segera ke dapur dan meminta bu Woyo untuk memberikan bakso itu pada para pekerja saja di belakang.
" Sudah, tidak ada bakso lagi dirumah ini, sudah, kalau kau tidak sehat tidak usah mengajar?" ujar Hangga setelah kembali pada Rani.
" Kasih minyak angin saja sudah enakan, anak anak ada ujian harian hari ini, aku tidak mau terlambat.."
" tapi kau lemas begini?"
" antarkan saja.. nanti pulangnya jemput.." ujar Rani membuat Hangga tidak bisa menolaknya.
Tepatnya jam sepuluh pagi, Hangga sedang mencangkok beberapa pohon duriannya karena ia akan membuka kebun durian yang baru di kebun bawah.
Sebuah motor tiba tiba saja masuk ke villanya,
" Pak Putra?!" suara Pak guru Ruri di depan pintu, setelah lama tak mendapatkan jawaban akhirnya pak guru Ruri berjalan ke belakang,
" Pak putra?!" suara Ruri keras, membuat Hangga yang di kebun paling atas samar samar mendengarnya.
Burhan yang sedang di kebun bawah mendengar dengan jelas,
" Mas Putra?! Di cari pak guru Ruri?!!" seru burhan sontak membuat hangga meninggalkan pekerjaannya,
ia langsung berjalan setengah berlari, entah kenapa perasaannya tidak enak, tidak mungkin si pak guru datang ke tempat ini tanpa sebab, entah apa yang sedang terjadi, entah itu pada istri, atau putrinya.
" Ada apa pak?!" tanya Hangga langsung ketika sudah di hadapan pak Ruri,
" Anu?, bu Rani pingsan tadi di sekolah, kami membawanya ke bu bidan karena itu yang terdekat, sekarang ada di tempat bu bidan?" beritau Ruri,
Tak menjawab, Hangga segera berjalan masuk ke dalam villa, mengambil kunci mobilnya.
Ia segera mengeluarkan mobilnya dan menuju rumah bidan yang dekat dengan sekolah itu.
Sesampainya disana ada bu diah yang menjaga.
" Pak Putra?" sapa bu diah saat Hangga masuk ke dalam ruang periksa,
" saya tinggal ke depan dulu kalau begitu.." pamit Diah,
Hangga mendekat ke istrinya yang terbaring pucat,
" Kan sudah kubilang tadi pagi, kau kurang sehat, tidak usah masuk kerja..
kau pasti kelelahan karena kuajak kesurabaya setiap minggu ya?,
mas Genta sudah bisa berjalan meski memakai tongkat, kita kesana sebulan sekali saja setelah ini ya?" ujar Hangga menciumi tangan istrinya,
Rani diam, tidak menjawab, matanya malah berkaca kaca,
" lho mana yang sakit??" tanya hangga bingung melihat ekspresi istrinya.
" Ini pak putra ya?" tiba tiba bu Bidan masuk, sedari tadi ia seperti menyiapkan obat.
" Iya bu bidan, istri saya sakit apa ya?!" tanya Hangga cemas,
" Kecapekaan pak.. Kurang istirahat.." jawab Bu bidan,
lalu tak lama menyediakan tangannya untuk bersalaman,
Hangga yang bingung mau tidak mau menyalami bidan itu,
" Selamat ya, bu Rani mengandung.." ujar bu bidan membuat Hangga membeku cukup lama,
" apa? apa bu?" tanya Hangga lagi,
" selamat, bu rani mengandung pak.." jawab bu bidan lagi dengan lebih jelas.
Sontak hangga menatap Rani, dengan tatapan tidak percaya?,
" Hamil Ran??" tanya Hangga dengan mata berkaca kaca,
Rani mengangguk,
" Aku juga tidak tau, aku terlalu sibuk hingga aku tidak sadar kalau belum mens bulan lalu.."
Hangga tak menjawab, di ciumi kening istrinya, lalu di peluk istrinya itu erat,
" ini hadiah dari Tuhan Ran, atas semua kesabaranmu.. Tiara akan punya adik..?" ujar Hangga penuh Haru,
bu bidan menatap suami istri itu dengan sabar, di tunggunya pelukan itu sampai selesai.
" Pak.. " panggil bu bidan pada Hangga,
" Saya beri vitamin ya.. dan perlu di ingat, hati hati karena usia kandungan masih muda.. Jangan capek capek..dalam hal apapun itu.." ujar bu bidan,
" iya bu bidan, saya akan jaga istri saya baik baik..?" ujar Hangga memeluk istrinya kembali.
__ADS_1
Hangga sungguh bahagia, tidak ada lagi yang ia inginkan, semua sudah berjalan dengan baik, hubungannya dengan keluarganya pun begitu,
rasa syukur yang di rasakannya begitu besar, ia kembali di berikan titipan oleh Tuhan, kembali di ijinkan merasakan kebahagian bersama kirani istrinya.