
Hangga dan rani sedang bergelut di atas tempat tidur saat HP hangga berbunyi berkali kali.
" Angkat sana?!" ujar Rani menghindar dari ciuman Hangga.
" Ah, paling paling soal tanah, kebun, nanti saja kutelfon balik.." ujar Hangga masih tidak mau turun dari atas tubuh istrinya.
" Tidak mungkin, malam malam begini kan membicarakan bisnis.." Rani menggeliat,
" sudah angkat, siapa tau penting?!" Rani mendorong dada suaminya.
" Lagi pula tidak ada capeknya menindihku terus, ndak subuh ndak malam," gerutu Rani.
" Sebenarnya itu masih kurang kalau di pikir pikir kita berpisah selama tujuh tahun?" jawab Hangga akhirnya bangun dan memakai celana pendeknya.
" Lho? Hanum?" ucap Hangga heran hanum menelfonnya semalam ini.
Mendengar itu Rani ikut bangkit, ia terduduk di tempat tidur, wajahnya terlihat cemas, takut ada sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi.
" Halo num? Kenapa? papa mama tidak apa apa kan??" tanya Hangga langsung, yang ada di pikirannya hanyalah papa dan mamanya.
" Papa dan mama tidak apa apa mas?! Tapi mas Genta?! Mas Genta kecelakaan?!" ujar Hanum,
Raut Hangga berubah, dan Rani menangkap itu, Rani langsung turun, memakai dasternya.
" Ada apa??" tanya Rani mendekat,
" kecelakaan bagaimana?? Lalu bagaimana kondisi mas Genta sekarang?!"
" masih di IGD mas, mobilnya di tabrak truk dijalan saat ia akan menyusul mbak santi dan Gio?!
mas Sebaiknya kesini?! banyak darah.. mas genta banyak darah.. aku tidak tega??" suara Hanum gemetar,
__ADS_1
" Ya sudah! Aku kesana malam ini!"
ujar Hangga langsung menutup sambungan telfon Hanum.
" kau dirumah saja, aku akan kesurabaya, jaga tiara," Hangga buru buru membuka lemari pakaian, mengganti bajunya.
" Aku ikut.." ujar Rani berdiri di belakang suaminya,
Hangga menoleh,
" lalu tiara?"
" kita pindahkan ke dalam mobil, aku tidak tenang kalau kau sendirian di jalan, kau pasti ngebut..?"
Hangga diam sesaat, lalu mengangguk kemudian,
" baiklah.. siapkan bajunya, biar aku yang mengangkatnya ke mobil.." ujar Hangga.
Tak membutuhkan waktu lama untuk hangga sampai, setengah jam saja melewati tol.
Ada papa dan mamanya yang duduk di ruang tunggu, terlihat air mata mamanya masih menetes, entah sudah berapa lama perempuan tua itu menangis.
Hanum pun begitu, ia terlihat berdiri di kejauhan, seperti tidak sanggup dengan situasi rumah sakit.
" Kau temani mbakmu, dia di parkiran, menjaga Tiara yang tertidur.." kata Hangga pada Hanum, dan Hanum hanya mengangguk tanpa berkata apapun lagi.
" Hangga..." panggil mamanya lirih dan penuh sesegukan saat laki laki itu duduk disamping mamanya.
" Maafkan mas mu ya lee.. Maafkan mas mu??" ucap mamanya memeluk hangga,
" Seberapa besar kesalahannya padamu, seberapa banyak rasa sakit hatimu..
__ADS_1
maafkan dia nak.. maafkan kakakmu dengan tulus..??" imbuh mamanya dengan lelehan air mata.
" Iya ma.. Iya.." hanya itu yang keluar dari mulut Hangga, melihat air mata ibunya ia sungguh tidak tega, entah seberapa buruk keadaan kakaknya.
" Padahal baru kemarin pagi dia berlutut di lantai dan meminta maaf padaku.." ucap papanya tiba tiba lirih, wajah papanya terlihat pucat dan shock, namun tak terlihat ada air mata satupun yang menetes.
Hangga tau, papanya ia sekarang sedang shock, saking shocknya ia bahkan tidak bisa menangisi putranya yang entah bagaimana keadaannya, yang hangga tau mobil yang genta kendarai bagian depannya hancur.
" Padahal baru kemarin pagi..
dia berjanji akan berubah menjadi anak yang lebih baik.." ujar papanya lagi, lalu tertunduk,
" semoga Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup.." hermawan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Hangga benar benar tidak sanggup melihat kondisi kedua orang tuanya saat ini, untung saja istrinya tidak berada disini menyaksikannya, kalau tidak, akan semakin banyak air mata yang tumpah.
" Kita berdoa untuk mas Genta pa, mas Genta pasti baik baik saja.." ucap Hangga menguatkan papanya,
" Mama dan papa pulang ya? biar Hangga yang berjaga disini??"
mendengar kata kata hangga kedua orang tuanya menggeleng bersamaan.
" Jangan suruh kami pulang, kami ingin melihat genta keluar dari ruangan itu dengan selamat ngga.." ujar papanya.
Sedangkan di parkiran, Hanum yang sedari tadi kuat, kini menangis sejadi jadinya di pelukan Rani.
" Apa ini pertanda mbak??
kemarin dia meminta maaf pada papa dan mama sampai berlutut..
seumur umur belum pernah dia seperti itu..??" kata Hanum di tengah tangisnya, membuat Rani membeku dan tercekat cukup lama,
__ADS_1
" Dia juga berkata menyesali perbuatannya padamu dan mas Hangga mbak..
dia sungguh sungguh menyesal.. huhuhuhuuuu..." Tangis Hanum semakin menjadi jadi.