
Hangga duduk di bawah pohon jati yang lumayan besar, ia melihat bapak bapak yang sedang mencangkul tanah di kebun yang rencananya akan ia tanami kayu.
" Kalau orang kampung itu mas, kalau suami sedang duduk di kebun, biasanya datang, mengantarkan minuman, makanan.." ujar Sunar yang baru saja duduk, ia menaruh cangkulnya.
" iming iming aku tho awakmu?" kata Hangga sembari menatap seorang ibu ibu yang berjalan mendekati bapak bapak pekerjanya yang sedang mencangkul.
" ini sudah jamnya istirahat siang mas.."
" ya sudah pulang sana, makan di bu woyo,"
" lha sampean?"
" aku tidak lapar,"
" mau makan di kantin sd barang kali?" goda Sunar lagi.
" mana mungkin aku menganggu orang yang sedang mengajar, pikiranmu itu nar.." hangga menggeleng pelan.
Yah.. Memang enak mungkin jika ia bisa makan siang dengan Rani, pikirnya dalam hati.
" Makan dengan anak saja tho.. Dekat sini tinggal jalan kaki.."
" sungkan, mak dar repot nanti.." hangga tidak enak.
Tak lama HPnya berdering,
" Iya ma?" jawab Hangga,
" siapa di pukuli? mbak santi?" tanya hangga tidak percaya.
Perempuan itu menangis di pangkuan mertuanya, wajahnya babak belur.
" Saya sudah tidak sanggup lagi ma? Sudah tidak sanggup lagi??!" isakan perempuan itu terdengar ke seluruh ruangan.
Hanum yang baru saja datang dari kampus merasa tidak nyaman dengan situasi itu, ia mengganti bajunya dan mengambil kunci motornya.
" Aku pergi dulu ma, ada perlu dirumah teman," pamit hanum lalu segera pergi ke garasi, menyalakan motornya kembali dan segera pergi.
Hanum bukannya tidak perduli, tapi dia paling tidak bisa melihat hal hal semacam itu.
Ia juga bosan dengan tingkah kakak pertamanya yang selalu saja membuat keluarga besarnya merasa tidak tenang.
Entah harus kemana, ia juga baru pulang kuliah yang bisa ia lakukan adalah berputar putar saja sembari mencari tempat yang enak.
setelah lima belas menit di jalan tiba tiba saja motornya oleng.
" Aduhh!!" keluhnya kesal, rupanya ban motornya bocor.
" aduhhhhh.....!" gadis itu benar benar kesal, ia turun dari motornya, berjalan celingukan, mencari cari siapa tau ada bengkel terdekat, tapi sepertinya si sekitar sini tidak ada bengkel terdekat.
Hanum diam sejenak, menarik nafas panjang, mengambil hpnya, menghubungi beberapa temannya, tapi teman teman dekatnya semua sedang sibuk dengan kegiatannya masing masing.
Akhirnya dengan sisa sisa tenaganya Hanum mendorong motor maticnya yang bodynya lumayan besar itu.
sekitar sepuluh menit ia berjalan, sama sekali tidak ada bengkel yang ia temukan, hanya ada pertokoan pertokoan.
Sebuah motor melewatinya pelan, lalu motor itu kembali mundur.
__ADS_1
" Bocor?" tanya si pengendara motor yang mundur dan menyamai langkah hanum.
Hanum menatap pemotor itu, rupanya teman Kirani, yaitu Danu.
" Sudah tau bocor, masih tanya.." jawab Hanum,
Danu sesungguhnya tidak ingin berhenti, tapi karena ia tau jarak bengkel masih jauh, ia memutuskan untuk menolong meski raut hanum kurang menyenangkan.
" Jarang bengkel masih jauh, sekitar dua kiloan, motormu juga cukup berat sepertinya," ujar Danu,
mendengar itu Hanum diam, ya memang ujarnya dalam hati, motornya itu cukup berat jika terus terusan di dorong.
Tanpa menunggu jawaban dari Hanum, Danu turun dari motornya, ia memberikan kunci motornya pada Hanum,
" Pakai motorku, jalanlah terlebih dahulu, lurus saja, nanti kau temukan bengkel, tunggu aku disana.." ujar Danu membuat hanum tercengang,
" Tidak usah, biar kudorong sendiri," ujar Hanum setelah sadar dari ketercengangannya.
" Sudahlah, patuhlah.. Biar kudorong motormu, aku ini laki laki.." ujar Danu sedikit memaksa.
Hanum akhirnya patuh, diambil kunci motor itu tapi ia tidak meninggalkan danu, ia mengendarai motor danu pelan pelan sembari menunggu Danu.
Melihat keringat danu yang menetes di dahinya setelah sekiloan lebih mendorong, Hanum rasanya tak tega, rasa kesalnya dulu, tiba tiba saja hilang.
Yah, rasa kesal saat ia malah di marahi saat bertanya tentang Tiara.
Setelah sampai di bengkel, terlihat Danu yang sedikit ngos ngosan, tak tega melihat itu Hanum segera mencari toko untuk membeli minuman, dan segera memberikannya pada Danu,
" terimakasih.." ujar Danu langsung meminum minuman itu.
" kau mau kemana? Apa aku menganggu perjalananmu?" tanya Hanum,
mendengar itu hanum semakin merasa bersalah, andaikata ia keluar membawa mobil tadi, maka ia tidak akan merepotkan orang lain, tapi papanya tidak pernah menyarankan ia pergi dengan mobil jika itu tidak benar benar di perlukan.
" Aku belum makan? Kau mau temani aku makan?" tanya Hanum, ia melihat sebuah resto tak jauh dari bengkel.
" Tidak usah, kau saja silahkan makan, aku akan langsung pulang," Danu bangkit,
Tapi hanum menarik lengan danu,
" jangan? Makan dulu denganku ya mas?" pinta Hanum dengan tatapannya yang memohon,
Melihat tangannya tak di lepaskan, dan tatapan Hanum, akhirnya Danu mengangguk,
" ya sudah, ayo.." katanya mengiyakan.
" Bagaimana acara dirumahmu kapan hari? berjalan dengan baik?" tanya Danu setelah selesai makan.
" mas tau?"
" tentu saja, saat kakakmu menjemput Rani aku ada disana, kakakmu melihatku seperti musuh saja.."
mendengar itu Hanum tersenyum,
" dia mengira mas saingannya.."
" hemm saingan, kalau niat sudah dari dulu kunikahi Rani.."
__ADS_1
" lalu kenapa tidak?" tanya Hanum penasaran,
" ya karena kami lebih cocok menjadi teman, tidak pernah sedikitpun ada perasaan aneh selain persaudaraan.."
" ah yang benar mas?"
" kau tanya saja pada Rani.." danu tersenyum,
" dulu dia itu seperti laki laki, mainnya ya denganku.. apa apa denganku, jatuh cinta pada sahabat sendiri hanya akan merusak hubungan menurutku.." lanjut Danu.
Hanum mengangguk,
" Maafkan mas Hangga.. Dia kadang cemburu berlebihan, mungkin karena pernah kehilangan mbak Rani sebelumnya.." ujar Hanum,
Danu diam, sesungguhnya ingin menyangga, tapi.. sudahlah.
" Lalu bagaimana?" tanya danu,
" acaranya?"
" tentu saja Tiara di sambut baik dan si eluh eluhkan mas.. Semua keluarga kaget, tidak ada yang menyangkal karen ayah dan anak itu amat mirip, bagai pinang yang di belah dua.."
" baguslah, aku turut senang.. Lalu kakak pertamamu?"
Hanum diam sejenak,
" kalau dia.. Yah begitulah.." jawab Hanum kemudian,
" begitulah bagaimana?"
" selalu membuat masalah.. Setelah mbak Rani pulang, dia berkelahi dengan mas Hangga.." raut Hanum sedih dan malu,
" berebut Rani??"
" iya, dia tidak terima mas Hangga punya anak dengan mbak Rani.."
" wah.. Edan.." guman Danu tapi terdengar oleh Hanum,
" Yah.. Memang edan mas ku yang satu itu..".
Suasana hening cukup lama, setelah pembicaraan itu keduanya malah kikuk,
" mungkin sudah selesai motormu, bagaimana jika kita kembali ke bengkel.." ujar Danu bangkit, ia berjalan ke arah kasir dan mengeluarkan dompetnya,
" sudah kubayar mas.." ujar Hanum mengikuti langkan danu,
" lho? Kenapa begitu?"
" anggap saja rasa terimakasihku mas, sampean sudah menolongku, padahal sampean juga capek.. Pulang kerja.."
" benar ini?" tanya Danu sungkan,
" he'em.." Hanum mengangguk,
" Ya sudah, kalau kau butuh bantuan lain telfon aku.." ujar Danu,
" yang benar?"
__ADS_1
" iya, asal aku sedang tidak bekerja tentunya.." jawab Danu tersenyum,
" iya mas.." jawab Hanum, dan keduanya keluar dari resto itu.