
Berhari hari berlalu, Hangga menahan diri untuk tidak datang kerumah Rani karena peringatan Yudi.
Meski dalam hatinya tidak rela Rani berada dalam satu rumah dengan laki laki bernama danu itu.
Baru saja Hangga naik ke atas tempat tidur, ia berniat untuk tidur siang dari pada pusing merindukan Rani dan Tiara.
HPnya berdering,
" Hemm.." jawab Hangga,
" sudah ke sekolah Tiara?" tanya Hanum,
" belum,"
" kepala sekolah sedang di luar kota, mungkin katanya besok baru kembali," jawab Hangga,
" mas tenang sekali?"
" bukan tenang, tapi aku merasa semakin kukejar semakin menjauh saja semuanya,"
" bagaimana kalau dia anakmu mas?"
" bagaimana jika hanya mirip.." hangga takut berandai andai, ia takut kecewa.
" Apa benar benar tidak mungkin mbak Rani hamil saat itu?"
Hangga diam,
" aku tidak tau, karena perceraian kami berlangsung dengan cepat," jawab Hangga, hal inilah yang membuatnya ragu, andai saja ia seperti pasangan lain yang setiap hari tidur besama, tapi kenyataannya ia hanya beberapa kali melakukannya dengan Rani.
" ya sudahlah, pokoknya jangan lupa pesanku mas,
apa mereka sudah sembuh?"
" kurasa sudah lebih baik, aku belum kesana tiga hari ini, ada mas Yudi disana.."
" aku dan papa mama belum bisa menjenguk, tugas kuliahku numpuk, papa juga banyak pekerjaan, kau tau sendiri papa bagaimana kalau sudah bekerja mas, liburan kemarin baginya sudah cukup panjang.." jelas Hanum,
" tidak masalah, aku yakin mereka sudah membaik," balas Hangga.
Sore menjelang, setelah melihat kebun rencananya ia akan pergi ke tempat Rani,
" Iya, bu guru itu katanya memasukkan pak putra ke dalam rumahnya, dan pernah ada yang melihat kalau dia keluar dari villa subuh subuh.." bisik bisik ibu ibu yang duduk di bawah pohon jeruk, mereka tidak tau ada Hangga di balik pohon jeruk lainnya.
" Siapa yang tidak mau dengan orang macam pak Putra, villanya besar, kebunnya banyak.. tapi aku tidak menyangkan lho yuk, bu guru Rani itu sifatnya mau an begitu?" lanjut para ibu ibu itu.
__ADS_1
Darah Hangga rasanya mendidih mendengarnya, ingin rasanya membentak para ibu ibu yang sedang bekerja untuknya itu,
namun ia menahan dirinya agar tidak di nilai arogan, bagaimanapun juga mereka orang kecil yang membutuhkan pekerjaan.
" Ibu ibu, kalau masih mau kerja di saya, hati hati bicaranya," Hangga muncul dari balik pohon jeruk yang rimbun, membuat para ibu ibu itu kelabakan.
" Ngapunten pak?! ( maaf pak?!)" ibu ibu itu berdiri serempak.
" Jangan sembarangan bicara kalau tidak tau kebenarannya, saya dan bu Rani itu pernah menikah, jadi dia adalah mantan istri saya,"
terlihat wajah kaget dari para ibu ibu itu,
" harus saya jelaskan agar gosip tidak menyebar, sebenarnya dari mana gosip ini berasal?
ibu ibu mendengar kalau bu rani memasukkan saya kedalam rumah dari siapa?" tanya Hangga dengan tenang, terlihat sekali wibawanya di hadapan para ibu ibu itu.
Tak ada yang menjawab, semua tertunduk,
" ya sudah kalau tidak ada yang mau bicara, tapi ingat, lain kali saya dengan ibu ibu membicarakan bu Rani lagi, lebih baik bekerja saja di tempat lain,"
Tenang tapi mengancam,
para ibu ibu itu mengangguk dengan cepat, melihat itu Hangga menghela nafas cukup dalam, di panjangkan lagi sabarnya, lalu segera berlalu dari kebunnya, ia menuju kerumah Rani.
" Tiara?" tanya Hangga,
" ikut kerumah mak Dar," jawab Rani duduk di depan TV,
" tangannya?"
" lukanya mengering, salep itu bagus.."
" kasih terus, agar tidak berbekas nantinya,"
Rani mengangguk, ia terlihat tenang hari ini, bengkak di kakinya juga sudah mulai kempes.
" Wajahmu berseri seri sekali, senang tampaknya di kunjungi mas Yudi dan mbak Rinta?" tanya Hangga,
" tentu saja.. siapa yang tidak senang.."
" padahal tidak bertemu aku tiga hari.." gumam Hangga,
" lalu, di kunjungi laki laki itu juga senang?" Rasa cemburu entah datang dari mana melihat wajah Rani yang terlihat lebih segar itu.
" Danu?" tanya Rani,
__ADS_1
" entah siapa namanya," Hangga membuang pandangannya,
Rani tersenyum,
" Dia orang baik.."
" lalu aku tidak baik?"
" tidak,"
" tidak??"
" Yah, kau menceraikan ku dan sekarang seenaknya ingin kembali padaku," ujar Rani tenang,
" itu lagi yang kau bahas..?" hangga Menatap Rani serius,
" Ayo menikah Ran..?"
" jangan mengatakan hal seperti itu dengan mudah seperti mengajakku makan bakso,"
" apa aku harus berlutut di depan banyak orang?"
Rani menghela nafas berat mendengarnya,
" dengarkan aku.. pikirkan lagi, kita bukan anak mudah yang harus menuruti perasaan.." ujar Ratih,
Hangga heran mendengar itu,
" maksudmu apa Ran? aku ini bukan mantan pacarmu, tapi mantan suamimu? Jelek jelek begini kita pernah melewati malam bersama, apa kau kira aku anak ABG yang masih labil?" tanya Hangga,
" aku tidak mendekati satu perempuan pun karena hatiku masih terikat pada masa lalu, dan masa lalu itu adalah dirimu??" imbuh Hangga.
" Jangan di tutupi lagi, aku tau kau menderita sekali setelah bercerai denganku, entah apa yang kau rasakan, aku tidak tau, tapi aku tau dengan jelas kalau kau sakit hati padaku,
asal kau tau, aku juga menderita, aku tidak pernah tenang,
kita berdua merasakan kesakitan yang sama.. tidak hanya kau Ran..
menceraikan mu adalah keputusan yang salah.. aku menyesalinya..
jadi tolong.. tolong berilah aku kesempatan.. Kesempatan untuk memperbaiki semua di usiaku yang sudah tidak muda ini..".
Rani terlihat berpikir begitu dalam, ia sungguh tidak tau apa yang ia inginkan,
hatinya memang sudah tergerak, tapi mengambil keputusan untuk menerima Hangga, ia masih takut, apalagi jika ia harus menjalin hubungan keluarga dengan Genta lagi nantinya.
__ADS_1