
Tiara sedang sibuk bermain dengan Hanum di kebun, sementara kedua orang tuanya sedang duduk dengan tegang di ruang tamu.
" Bagaimana kau bisa menunjukkan hal semacam itu dengan santainya di luar?"
bu Hermawan menatap putranya serius, ada rasa marah dalam tatapannya.
" Aku tidak tau kalau mama sudah datang.." jawab Hangga tidak berani menatap mamanya sama sekali.
" Jadi kalau tidak ada mama kau berbuat sesukamu disini?!"
" apa maksud mama?? jangan bicara seakan akan aku terbiasa melakukan itu ma? nanti Kirani berpikir yang tidak tidak tentangku??" protes Hangga pelan.
" Maksud mamamu kau jangan seenaknya sendiri meski ini rumahmu.." suara Hermawan tenang, setelah menatap putranya, ia menatap mantan menantunya, perempuan itu tertunduk malu, tapi dari balik jaket yang sudah terbuka itu, Hermawan bisa melihat jelas leher Rani yang bertanda itu.
Hermawan menghela nafas panjang, lalu memandang istrinya sejenak, dan sepertinya istrinya juga melihat apa yang ia lihat.
" Kami akan pulang ke surabaya, dan kami akan bicara dengan Yudi.." ujar Hermawan.
Mendengar itu Rani yang tertunduk sedari tadi menatap mantan mertuanya,
" Kenapa harus ke mas Yudi??" tanya Rani seperti anak kecil yang ketahuan nakal.
" Tolong jangan bawa bawa mas Yudi? Saya sudah dewasa, ini murni kesalahan saya sendiri yang tidak bisa menjauhkan diri dari Mantan suami saya, jadi tolong? Jangan sampaikan apapun pada mas Yudi?" mohon Rani,
" Senang sekali kau menyebutku mantan suami.." gerutu Hangga disamping Rani.
" Memang kau mantan suaminya! panggilan apa yang kau harapkan?!" seru mamanya mendengar gerutuan Hangga.
" Setelah apa yang mama lihat, harusnya mama tau apa yang kuharapkan.." jawab Hangga.
" Ohhh... rupanya anakmu sekarang sudah pintar bicara pa, sudah banyak bicaranya!"
melihat kemarahan mamanya Hangga kembali tertunduk.
" Bisa bisanya kau bersikap liar dan tidak bisa menahan diri hingga orang tuamu, adikmu, bahkan anak kecil seperti Tiara sampai melihatnya?!"
Suasana Hening, Hangga ataupun Rani tak berani bicara lagi.
" Kau kira mama buta? yang di leher Rani itu pasti perbuatanmu?! memalukan! Dulu suami istri tidak pernah bersikap seperti ini, tapi kenapa saat kalian sudah bercerai malah tindakan kalian memalukan begini?!" kemarahan mamanya masih berlanjut.
" Mau kalian ini bagaimana?! tidak malu kau pada para pekerjamu?!"
Jangankan Hangga, Hermawan pun tidak berani menyela kalau istrinya sudah marah begini.
" Yang satu juga guru! Bagaimana kalau di lihat orang kampung atau murid muridmu Ran?!",
Kirani tertunduk dalam, wajahnya merah padam.
" Kirani tidak salah ma, ini salahku, aku yang memaksanya?" sela Hangga membela,
" memaksa? Kau kira dia anak kecil bisa di paksa?
hal semacam itu terjadi karena kedua belah pihak saling menginginkan?!"
__ADS_1
" tapi semalam tidak sampai begitu kok ma??" Hangga keceplosan.
" semalam? Jadi semalam juga?!" wajah mamanya merah padam, ia benar benar tidak habis pikir.
" Kalian benar benar!" sang mama berdiri, tangannya gemas ingin memukul putranya, tapi di urungkan niatnya.
" Astaga Hangga.." ujarnya mengatur nafas dan kembali duduk.
" Sekarang mau tidak mau aku harus bicara dengan Yudi.." ujar papa Hangga,
Rani diam sediam diamnya,
" kami tidak bisa menutup mata, hubungan kalian yang tidak jelas harus di perjelas sehingga hal semacam ini tidak terulang dan menjadi pembicaraan orang,
jangan lupa, kalian hidup di desa,
kau adalah seorang pemilik perkebunan yang cukup di segani,
dan Rani, kau adalah seorang guru,
apa kata orang nduk kalau melihat keadaanmu seperti itu.." hermawan setengah mengeluh, ia menyesali atas apa yang terjadi pada putranya dan mantan menantunya, seharusnya keduanya memang di ikat kembali dalam sebuah hubungan agar tidak menimbulkan omongan omongan buruk orang sekitar.
" Sekarang kutanya nduk.. apa kau mau bersama lagi dengan Hangga?" pertanyaan Hermawan membuat Rani terkejut, tubuhnya mendadak kaku.
" Kau dan Hangga sudah seperti itu, ini adalah hal terbaik yang bisa kami lakukan sebagai orang tua nduk..
kami dengan senang hati akan menyambutmu kembali sebagai menantu kami.."
melihat Rani yang diam saja laki laki itu mencoba mengerti, mungkin ini terlalu cepat bagi Rani.
Sedari awal ini adalah salahnya, ia yang terlalu terburu buru, tapi sudah seharusnya ia buru buru, ia tidak mau kehilangan Rani kembali.
" Pa, aku memang senang kalau rani menjadi istriku kembali, tapi berilah kami ruang untuk menjalin hubungan kami sendiri,
jika dulu kami menikah karena di paksa keadaan,
maka sekarang biarkanlah kami memutuskan segalanya sendiri..
aku percaya diri pah, aku tidak akan kehilangannya lagi.." Hangga memberi pengertian pada kedua orang tuanya.
Terdengar helaan nafas mamanya yang lelah,
" Kami akan tetap bicara pada yudi, agar Yudi tidak menyalahkan kami lagi.." ujar Papanya,
" Dan soal hubungan kalian, baiklah.. Jika memang kalian ingin segalanya berjalan normal tanpa campur tangan kami, lakukan.. tapi, jika suatu ketika kami mendengar sesuatu yang buruk, kami tidak akan tinggal diam, mau tidak mau, menikahlah kembali,"
Rani masih diam, namun terlihat jelas air matanya menetes,
melihat itu Hangga sontak menggenggam tangan Rani, ia merasa bersalah.
" Kau pasti lelah.. Ayo kuantar pulang.." suara Hangga lirih.
Hangga turun dari motor yang ia kendarai, mengikuti Rani masuk ke dalam halaman rumah, di tangannya banyak barang bawaan yang tadi di belikan orang tuanya untuk Tiara.
__ADS_1
" Tia masuk ke dalam ya, cuci kaki cuci tangan masuk kamar.." ucap Rani pada putrinya.
Tiara mengangguk,
" Tia masuk ya om?" pamit Tiara,
Hangga tersenyum dan mengangguk.
Rani mengunci motornya dan berbalik menatap Hangga.
" Ini barang barang Tiara.." Hangga memberikan barang barang itu pada Rani,
Rani menerimanya tanpa bertanya ataupun berterimakasih.
" Maafkan aku.." suara Hangga lirih,
" kali ini aku keterlaluan.. aku bersalah.." laki laki itu menyentuh wajah Rani, tapi rupanya Rani sudah terlanjur sakit hati,
" kenapa kau berkata seperti itu pada orang tuamu? bukankah memang hal seperti ini yang kau inginkan?" perempuan yang matanya masih sembab itu bertanya dengan nada datar.
" Aku memang ingin kau kembali padaku, tapi tidak karena di paksa atau terpaksa.." ujar Hangga,
" Aku sungguh akan menebus kesalahanku di masa lalu.. dengan bersungguh sungguh menunggu kesediaanmu..
aku.. aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha untuk menjaga kelakuanku mulai sekarang.." imbuh Hangga dengan tatapan sayu.
Keduanya saling menatap, namun Rani terlebih dulu membuang pandangannya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
" Aku sayang padamu Ran.." ujar Hangga cukup jelas di telinga Rani, namun perempuan itu tak menjawab dan langsung menutup pintu Rumahnya.
Setelah lama memandangi pintu yang sudah tertutup itu,
Hangga berjalan kembali ke arah motor Sunar di luar pagar,
" Pak Putra toh.." sapa seseorang yang rupanya sudah sedari tadi diam di pinggir jalan.
" Iya?" jawab Hangga tidak tau siapa yang menyapanya,
" saya Yanwar.. Putra pak Carik.."
mendengar itu Hangga diam sejenak,
" Oh iya, ada perlu apa disini?" tanya Hangga,
" Saya mau ke bu guru Rani, ada perlu," pemuda itu tersenyum,
" oh begitu, silahkan.. kebetulan saya mau pulang.." ujar Hangga memaksakan senyumnya lalu segera naik ke atas motor.
" Hati hati dijalan pak putra.." ujar Yanwar,
" iya, mari." Hangga segera menyalakan mesin motornya dan berlalu pergi.
Sesungguhnya tidak tenang rasanya melihat pemuda itu tadi berdiri di luar rumah Rani, tapi mau bagaimana, situasinya tidak memungkinkan, hubungannya dan Rani tidak cukup kuat untuk sekarang.
__ADS_1