
Sore itu Hangga berniat kembali ke surabaya, ia ingin bertemu Yudi demi sesuatu yang sudah sangat mengganjal dalam hatinya.
Tapi baru lima belas menit ia berkendara di jalanan, tiba tiba..
" Braakkk..!!" dua motor bertabrakan di pertigaan sebelum arah jalan raya.
Terlihat seorang perempuan dan anak kecil jatuh dari motor matic warna putih, sementara di Motor lain ada seorang ibu ibu.
Banyak orang keluar rumah untuk menolong,
Hangga memarkir mobilnya di pinggir jalan, dan segera keluar, karena ia merasa sosok perempuan itu familiar.
Dan benar saja, baru saja setelah ia keluar, ia mendengar suara tangis Tiara.
laki laki berkemeja biru bergaris putih itu berlari secepat mungkin.
" Bundaa..!" tangis Tiara kesakitan dan kaget,
karena kulit tangan kirinya ada yang terkelupas karena bergesekan dengan aspal.
" Tiara?!" Hangga Menembus gerombolan orang yang mengelilingi Rani, Tiara dan ibu ibu yang menjadi lawan tabrakan Rani,
Dengan gerakan cepat di gendong Tiara yang sedang duduk di pinggir jalan sembari menangis itu.
" Mana yang sakit sayang?!" tanya Hangga dengan wajah penuh kecemasan.
Gadis kecil itu tidak menjawab, ia menangis sesegukan sembari menjatuhkan kepalanya di bahu Hangga.
" Kerumah sakit saja bu?!" terdengar suara seseorang, mengingatkan Hangga pada Rani.
" Kau bisa jalan?" tanya Hangga menatap Rani yang terduduk di pinggir jalan tak jauh dari motornya.
" Bisa," jawab Rani dengan wajah pucat, ia terlihat menahan sakit.
__ADS_1
Melihat itu Hangga segera berjalan ke arah mobilnya, di buka pintu mobilnya dan di dudukkan Tiara di dalamnya, setelah itu Hangga kembali dan menggendong Rani, tanpa bertanya ia memasukkan Rani ke dalam mobil.
Kembali ke kerumunan orang sesaat untuk menitipkan motor, dan kembali ke dalam mobil, baginya Rani dan Tiara lebih penting, ia membiarkan ibu ibu yang juga terduduk dijalan itu di urus oleh orang kampung.
" Cup cup cup sayang.. kita ke dokter ya..?" ujar Hangga sambil menyetir, menenangkan Tiara yang menangis karena merasakan pedih di tangannya.
Setelah dari rumah sakit, Tiara tertidur di sepanjang perjalanan.
Sesampainya dirumah, di gendongnya Tiara sampai kamar, dan di dibaringkannya gadis kecil yang lelap karena obat itu, kalau tidak, dia pasti akan terus menangis tidak kuat menahan pedih.
Di pandangi Tiara, cukup lama, perasaan yang aneh lagi lagi menghinggapinya, kekhawatirannya sungguh besar,
" Apa benar dia putriku.. kenapa aku sekhawatir ini..?" keluhnya dalam hati.
Tapi di kembalikan lagi logikanya, jika memang Tiara putrinya, untuk apa Rani sampai berbohong dan menyembunyikannya, benar benar tidak masuk akal olehnya, itulah yang membuatnya seperti tidak percaya saat semua orang mengatakan dirinya mungkin saja ayah kandung Tiara.
" Owalah.. ada ada saja.." keluh mak Dar disamping pintu kamar, perempuan tua itu terlihat sedih.
" Untung ketemu sampean di jalan mas.." imbuh mak Dar,
" Pulang saja mas, saya yang akan tidur disini.."
Hangga diam, tidak menjawab, ia terus saja memandangi Tiara.
" Mak.." panggil Hangga pelan,
" Rani dimana?" lalu bertanya,
" tetap di kamar mas, barusan minum obat.. sebentar lagi saya panggilkan tukang pijit, takutnya ada yang terkilir, jalannya sedikit pincang.." jawab mak Dar,
" apa benar Tiara anak mas Yudi?" tanya Hangga,
mak Dar menghela nafas,
__ADS_1
" saya sudah bilang, saya tidak bisa bicara apapun tentang asal usul kelahiran Tiara,
tapi yang pasti, mas harus berusaha mencari tau.."
Hangga terlihat berpikir,
" saya takut sakit hati dan kecewa mak.." ucap hangga, laki laki itu terlihat bimbang.
Ia keluar dari kamar Tiara dengan langkah berat, lalu masuk ke kamar Rani, ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar perempuan yang pernah menjadi istrinya itu.
Mata hangga langsung menatap perempuan yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu, tidak ada luka serius di tubuhnya, hanya saja pergelangan kakinya dan sikunya tergores.
Langkahnya sedikit pincang, entah karena luka di mata kakinya atau karena ada yang terkilir di salah satu kakinya.
" Apa yang kau rasakan?" tanya Hangga duduk di pinggiran tempat tidur.
" Pedih saja.." jawab Rani sembari membuka matanya,
" lain kali berhati hatilah.." Hangga menyentuh wajah Rani, membelainya pelan,
" aku sudah berhati hati, aku tidak ngebut karena membawa Tiara.." jelas Rani,
" kau mungkin saja sudah hati hati, tapi orang lain belum tentu.." ujar Hangga pelan.
" Ran..?" panggil Hangga dengan suara penuh kehati hatian,
Rani menatapnya,
" apa setelah kita bercerai.. ada sesuatu yang kau sembunyikan?",
tiba tiba saja keheningan menyergap, keduanya lama saling memandang, yang satu menunggu jawaban, yang satu seperti enggan untuk bicara.
Lama Hangga menunggu, nyatanya Rani tidak menjawab, malah mengalihkan pandangannya keluar jendela kamarnya.
__ADS_1
" Ya sudah.. Aku pulang dulu ganti baju, kau ingin makan apa? nanti aku kembali kesini.." Hangga akhirnya bangkit.