Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
map kuning


__ADS_3

" Bagaimana kabar Hangga ma?" tanya Genta sembari mengunyah makanan, siang ini entah ada angin apa genta makan dirumah mamanya saat jam istirahat.


" Kenapa kau tiba tiba menanyakan adikmu?"


" lho? tidak boleh menanyakan kabar adikku sendiri ma?"


" boleh, tapi tumben saja.."


" mama makin kesini makin aneh saja,"


" ya kau yang aneh, sebelumnya tidak pernah perduli,"


Genta diam, dilanjutkan makannya.


" Bagaimana pekerjaanmu?" sekarang mamanya yang bertanya,


" baik baik saja," jawab Genta santai.


" jangan membuat masalah lagi, jaga nama baik papamu,"


" masalah apa sih ma, tidak ada," jawab Genta acuh,


" membawa orang yang tidak kompeten ke dalam perusahaan kau kira itu bukan masalah? Menyalahgunakan posisimu apa itu bukan masalah?!" nada mamanya mulai meninggi,


" aku tidak menyalahgunakan posisiku ma, aku hanya menolong temanku yang sedang kesusahan.."


" teman atau pacarmu?!" tanya mamanya ketus,


" pacar dari mana ma?" Genta tidak berani menatap mata mamanya.


" Awas kau ya Ta, kalau kau membuat masalah lagi, kau akan benar benar keluar dari perusahaan papamu tanpa sepeserpun uang!" tegas mamanya membuat Genta yang sedang makan itu hampir tersedak karena kaget.


" Aku ini sedang makan ma?"


" terserah! Ingat, kau meninggalkan Rani demi mengejar Santi, jadi sekarang kalau ada apa apa dengan dirimu dan Santi, kami tidak ada membelamu, itu pilihanmu sendiri! Jangan macam macam!" peringat mamanya membuat Genta menghentikan makannya, nafsunya langsung hilang seketika mendengar peringatan mamanya.


" Oh ya, adikmu mungkin akan kembali menikah dengan Rani,"


" Si.. siapa ma?" tanya Genta tiba tiba saja terbata bata,


" Kirani.. mantan istri adikmu, siapa lagi?" jawab mamanya tegas,


" mama lupa kalau dia mantan calon istriku juga?" protes Genta, masih saja laki laki itu tidak mau mengalah pada adiknya,


" Kau jangan membicarakan masa lalu yang tidak berguna itu! perbuatanmu yang memalukan itu tidak pantas kau ingat!"


Genta lagi lagi diam, tapi ia belum rela,


" ku kira mereka sudah tidak berhubungan lagi?" ujar genta,


" kau tidak ada hak menilai mereka, apalagi mengatur adikmu,"

__ADS_1


" siapa yang mengatur ma?"


" kau, jangan lagi membayang bayangi hubungan adikmu ke depannya,"


" ma??!" genta menatap mamanya heran, seakan akan dia yang paling bersalah.


" Apa apa apa?! Kau jangan macam, apalagi menyalahgunakan wewenang mu sebagai seorang kakak, memerintah atau mendoktrin adiknya dengan kalimat kalimat aneh,"


" mama berkata seakan akan akulah yang merusak pernikahan mereka dulu?"


" memangnya tidak??"


" astaga ma? tega sekali mama berkata seperti itu? Aku ini juga anak mama, bukan hanya Hangga saja?!"


" Karena kesalahan yang kau lakukan mama sudah tidak bisa lagi membelamu, sudahlah..!" ujar mamanya malas membahas masa lalu Genta.


Melihat sikap mamanya,


Genta bangkit dari kursinya, ia sungguh tidak terima, andai saja waktu bisa di putar, ia akan memperbaiki semua, termasuk menebus kesalahannya pada Kirani, karena setelah menikah dengan perempuan lain barulah Genta bisa merasakan perbedaan sikap antara Rani dan Santi, ia merasa Santi terlalu pasif dan tidak perhatian padanya, karena itulah dia masih saja bermain dengan perempuan lain di luar sana.


Hangga Menerima telfon dari pak Suroto pagi ini, meski sedang sibuk memeriksa bibit bibit yang baru datang, ia segera meninggalkannya dan menuju ke sekolah dimana Rani mengajar.


Di parkirkan mobil itu di depan sekolah,


" Selamat pagi pak putra, ada perlu apa ke sekolah?" tanya pak kebun,


" ada janji dengan kepala sekolah pak, ada?" laki laki berkemeja navy itu menjawab dengan sopan.


Hangga berjalan menuju kantor kepala sekolah,


" Tok tok tok..!" Hangga mengetuk pintu,


terlihat kepala sekolah yang membuka lemari dan mengambil satu map berwarna kuning.


" Lho? Monggo monggo mas..?!" kepala sekolah langsung mempersilahkan setelah melihat Hangga berdiri di depan pintu.


" Silahkan duduk," kepala sekolah menyuruh hangga untuk duduk, dan duduklah hangga di kursi kayu panjang berwana coklat itu.


" Mau minum apa?" tanya kepala sekolah duduk dan meletakkan map kuning itu di atas meja.


" tidak usah pak.." jawab Hangga mengulas senyum,


" kalau ndak mau, ini air mineral saja.." pak Suroto mengambil sebotol air mineral dan meletakkannya di ata meja, persis di samping Hangga.


" Sebenarnya ini tidak boleh mas, tapi karena mas Putra pernah menolong saya perkara sengketa tanah yang saya hadapi.. Yah.. mau bagaimana lagi," ujar pak Suroto,


" tapi maaf mas, mohon jangan tersinggung, ada kabar burung yang kurang baik tentang njenengan dan salah satu guru kami.."


mendengar itu Hangga mengangguk,


" saya sudah tau," jawab Hangga tenang,

__ADS_1


" jadi apakah itu benar? njenengan sedang berhubungan dengan bu Rani??" tanya kepala sekolah dengan wajah serius, bagaimanapun ini menyangkut nama baik sekolahnya.


" Karena itu saya meminta hal ini dari bapak.."


" apa hubungannya dengan Tiara??"


Hangga diam sejenak,


" Saya dan bu Rani pernah menikah," jawab Hangga membuat kepala sekolah benar benar tampak terkejut,


" Dia janda saya pak," imbuh hangga membuat kepala sekolah cukup lama terdiam, pak Suroto terlihat shock.


" Jadi.. apa saya bisa melihat berkas tiara sekarang?" tanya Hangga memecah kecanggungan karena kepala sekolah seakan membeku.


" Untuk apa??"


" saya hanya ingin tau apa nama saya tercantum disana?"


" bukankah sudah seharusnya nama anda jika memang bu Rani adalah janda anda??" pak Suroto semakin heran, ia tidak memahami keinginan Hangga.


" boleh saya lihat pak?" tanya Hangga tidak sabar,


dengan sedikit bimbang akhirnya kepala sekolah menyerahkan map yang berisi data Tiara.


Di buka satu persatu kertas kertas itu oleh Hangga.


Raut wajah Hangga berubah seketika, tangannya pun mendadak gemetar saat membaca tulisan,


Ayah : Hanggayu adi putra Hermawan.


Di buka lagi berkas lainnya, akta kelahiran dan lainnya untuk lebih meyakinkan Hangga.


Benar saja, Tiara adalah putrinya, Tiara adalah putrinya, perasaan bahagian dan terkejut menjadi satu mendesak desak dadanya hingga sesak.


matanya pun tiba tiba penuh,


" Mas? Njenengan tidak apa apa?" tanya pak Suroto khawatir sekaligus bingung,


" ti.. tidak pak.." jawab Hangga dengan dadanya yang terasa sesak.


" terimakasih.. saya, kembali dulu.. Sekali lagi terimakasih atas bantuannya pak.." Hangga bangkit, perlahan.


" iya iya mas.." jawab kepala sekolah ikut bangkit, sedikit khawatir karena wajah Hangga tiba tiba memucat.


Hangga berjalan keluar, tapi entah apa yang terjadi kaki laki laki itu tiba tiba saja lemas.


" lho lho?!" pak guru Ruri yang akan masuk ke kantor kepala sekolah refleks menangkap Hangga yang tiba tiba ambruk di depan kantor kepala sekolah itu.


" Duduk dulu pak?!" ujar pak guru Ruri memegangi tubuh yang lebih tinggi darinya itu, kemudian di susul kepala sekolah.


" tidak, saya tidak apa apa.." jawab Hangga berusaha berdiri tegap.

__ADS_1


" Minum dulu pak, minum?!" ujar kepala sekolah khawatir.


__ADS_2