Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
pertemuan


__ADS_3

Rumah itu sudah ramai dengan seluruh anggota keluarga, baik yang dekat maupun yang jauh, semua seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, semua orang menatap Tiara, mengeluh eluh kan betapa mirip wajahnya dengan Hangga,


beberapa orang ingin tidak percaya dengan kabar yang mendadak ini, tapi wajah yang mirip itu benar benar tidak bisa mereka abaikan.


Banyak yang penasaran pula dengan maksud kirani menyembunyikan keberadaan tiara,


tapi tak satupun orang di berikan kesempatan oleh hangga untuk bertanya.


Ia menjaga kirani begitu ketat, sementara tiara sibuk di pangkuan mbah kakungnya.


Bukannya tidak tau, tapi Hangga berusaha mengabaikan tatapan Genta yang sedari tadi seperti ingin menelan tiara bulat bulat.


Laki laki yang pernah meninggalkan Kirana di saat akad nikah itu terpesona dengan kecantikan kirani yang semakin matang,


Perempuan yang sedari tadi diam di belakang punggung Hangga tampak begitu anggun dan kalem.


" Jadi ini mantan istrimu ngga?" tanya Santi akhirnya mendekat, ia tidak bisa menahan keingintahuannya.


" benar mbak," jawab Hangga datar,


" cantik.. Kenapa kalian tidak menikah lagi saja?" tanya Santi sembari tersenyum,


" segera mbak," jawab Hangga cepat sembari melirik genta yang sedari tadi menatap mereka di ujung ruangan.


" Baguslah.. Mau apa lagi, kalian terlihat sangat serasi,"


" terimakasih mbak, bagaimana kabar mbak?" tanya Hangga berbasa basi,


" yah.. Beginilah," jawab santi tersenyum penuh arti, terlihat sekali bahwa ada keluhan yang ia tahan, santi juga termasuk wanita yang cantik, jika tidak cantik, tidak mungkin ia sanggup membuat genta meninggalkan Kirani pada saat pesta pernikahan, namun sayangnya kecantikan itu tergerus stress yang berkepanjangan.


Kirani hanya tersenyum, ia tidak bicara dan menyapa, karena ia tau perempuan di hadapannya yang membuat calon suaminya meninggalkan nya saat itu.


Namun santi tidak tau menau, bahwa perempuan yang menjadi calon istri suaminya dulu adalah kirani, karena itu ia bisa bersikap tenang tanpa rasa bersalah.


Setelah Santi pergi rani mulai mencari tempat duduk, ia lelah harus berdiri dan tersenyum pada anggota keluarga hangga.


" Rasanya sesak.." keluh rani,


" masa? Sepertinya mereka senang melihatmu lagi, apalagi pak dhe dan budheku.. Lihat, anak kita bahkan di pangku bergiliran.." ujar Hangga duduk disamping rani,


" kasian, dia pasti lelah.."


" kau lihat senyumnya, dia senang tiba tiba punya banyak keluarga.."


" dia tersenyum bukan berarti tidak lelah.."


" oh.. Jadi kau begitu?" Hangga menatap rani dengan senyum hangatnya,


" jangan tersenyum seperti itu di hadapan semua orang,"


" kenapa?"

__ADS_1


" mereka akan salah paham,"


" salah paham kenapa?"


" mereka akan mengira bahwa kita sedang dalam hubungan khusus?"


" bukankah iya?" hangga mengulas senyum puas,


rani merasa percuma menjawab kata kata hangga,


" kau terlalu cantik hari ini, aku tidak suka.." ujar Hangga kemudian,


" kau mulai lagi," keluh Rani,


" aku kesal.."


" aku juga kesal kau menempel terus padaku,"


" aku melindungimu," protes hangga pelan,


" dari apa?"


" dari serigala yang sedari tadi menatapmu, padahal ia sedang bersama istrinya.." Hangga menatap genta sepintas.


" itu kakakmu.."


" siapa bilang bukan?" hangga acuh.


Tiara terlihat senang sekali, karena ia mendapatkan banyak hadiah, sembari berlarian kekamar Hangga bersama putra genta, ia menyimpan semua hadiahnya di kamar ayahnya semasa bujang.


" Ayah!" seru Tiara di hadapan santi dan Genta, membuat hati hangga begitu besar,


" tiara boleh main sama adek?"


" itu mas, bukan adek.." beritau hangga, karena peraturan di jawa, meski tiara lahir duluan, tapi anak genta posisinya saudara tua dan harus di panggil mas.


" iya, boleh main? nonton di kamar tante hanum?"


Hangga mengangguk dengan senyum senang, ita bahagia sekali melihat putrinya begitu ceria.


" Jangan pulang dulu, makanlah.." ujar Mamanya pada genta yang duduk di ruang tengah, ia sedari diam, dan semua orang menyadari bahwa kediaman itu adalah ekspresi kekecewaan dari genta,


entah kenapa ia tidak merasa bahagia saat tau bahwa adiknya dan mantannya itu ternyata mempunyai seorang anak.


" Santi saja yang makan ma, aku tidak lapar.." ujar genta meminum kopinya yang entah sudah berapa cangkir.


Mendengar itu tentu saja mamanya hanya bisa menghela nafas, ia faham benar apa yang di pikirkan anak pertamanya itu.


Bu hermawan berjalan ke arah Hangga dan rani yang duduk di halaman belakang, tapi melihat keduanya sedang berbincang, di urungkan niatnya, perempuan tua itu kembali ke ruang tamu.


Keduanya sedang menikmati akuarium besar dimana ikan berenang kesana kemari dan air terjun buatan yang jatuh ke membasahi tanaman yang khusus di letakkan disana oleh hangga.

__ADS_1


" kau masih merawat kebun belakang ini?" tanya Rani masih takjub dengan suasana murninya,


" tentu tidak, aku kan jarang pulang kesini.." jawab Hangga sembari menguyah kue,


" lalu siapa?"


" ada tukang kebun yang kemari seminggu dua kali, dia yang merawatnya.. Kenapa? Kau mau suasana begini, akan kubuat di samping villa nanti, atau di samping kamar.. Supaya kalau kau bangun tidur bisa melihatnya langsung.."


Rani sontak menatap hangga,


" memangnya siapa yang mau menginap disana?"


" lho.. Kau kan akan tinggal disana nanti.." jawab hangga santai, ia kembali menguyah sisa kue di tangan kanannya.


Rani menatap Hangga sedikit kesal, bisa bisanya sedari tadi laki laki ini terus saja berbicara seperti itu dengan santainya.


Namun saat melihat wajah hangga dari samping, kekesalan itu tiba tiba saja menghilang, wajah Rani tampak malu karena menemukan kalau laki laki yang sedang duduk disampingnya ini memang cukup ganteng, hidungnya mancung dan bentuk rahangnya tegas, meski usianya sudah tiga puluh lima, tapi ketampanannya belum pudar, di tambah lagi tubuh yang sudah bekerja di lapangan itu, bahunya yang lebar, dan tangannya yang terlihat kuat itu membuatnya semakin menarik, meski kulitnya tidak seputih genta.


" Ada kue di wajahku?" tanya Hangga sadar di pandangi sedari tadi.


" ti, tidak.." jawab Rani susah payah menyembunyikan ketertarikannya.


Sekarang Hangga yang menatap Rani,


" mau makan di meja makan atau disini saja? Biar kuambilkan?" hangga menawarkan,


" aku tidak lapar,"


" makan sedikit saja, atau mau makan di luar?"


" di luar?"


" iya, kita makan di luar jika makanan disini tidak membuatmu berselera..?"


" ah tidak, ambilkan aku teh hangat dan beberapa potong coklat saja.." jawab Rani,


" sungguh?"


Rani mengangguk,


melihat anggukan Rani hangga bangkit, ia berjalan ke ruang tengah mencari beberapa kue, tapi ia tidak berhasil menemukan teh hangat,


karena itu ia beranjak ke dapur dan menyuruh si mbak asisten rumah tangga untuk membuat teh hangat.


Rupanya Genta yang melihat Hangga berjalan menuju dapur tak mau membuang kesempatan, karena sejak tadi ia tidak bisa mendekati Kirani yang di jaga ketat oleh Hangga.


laki laki itu bangkit, meninggalkan istrinya yang duduk tak jauh darinya dan berjalan ke halaman belakang.


Betapa berbinar matanya menemukan perempuan berdress putih dan berambut panjang itu sedang duduk sendiri,


" Kirani.." panggilnya mendekat.

__ADS_1


__ADS_2