
Rani meminum teh hangat yang di belikan oleh hanum beberapa menit yang lalu.
Dari kejauhan ia melihat suaminya keluar dan berjalan menuju parkiran.
Terlihat jelas betapa lelah wajah Hangga, dari tengah malam sampai jam sembilan siang ia baru menunjukkan wajahnya.
Laki laki itu melangkah mendekat ke arah istrinya yang duduk di luar tak jauh dari mobil.
" Tiara baru saja di bawa hanum pulang.." ujar Rani,
Hangga mengangguk saja, lalu duduk disamping istrinya.
" Kau pulanglah dengan papa mama dan gio sebentar lagi,
aku akan disini menemani mbak Santi.." ujar Hangga,
" Tapi kau belum tidur sama sekali??"
" semua orang juga tidak tidur.. Tapi kasihan jika mbak Santi sendirian..
mas Genta masih kritis.."
Rani terdiam sesaat, lalu berkata,
" kutemani disini, tidurlah di mobil barang sejam dua jam, biar aku yang temani mbak santi di dalam selama kau tidur..?"
" Kau tidak capek?" tanya hangga lesu, terlihat matanya yang sembab, entah kapan laki laki itu menangis.
Rani tiba tiba saja memeluk suaminya itu,
" bersabarlah.." ujar Rani mengelus punggung suaminya,
" Iya.." jawab Hangga dengan mata mendadak berkaca kaca, di balasnya pelukan istrinya itu erat.
" Maaf kan mas Genta..??" suara hangga bergetar,
" maafkan dia.." imbuh hangga,
Rani mengangguk,
" aku sudah memaafkannya.." jawab Rani melepas pelukan suaminya, keduanya berpandangan sesaat.
__ADS_1
" Kucarikan sarapan ya? Setelah itu tidurlah sebentar.." Rani menyentuh pipi suaminya itu.
Hangga mengangguk, dan mengulas senyum tipis untuk istrinya, meski hatinya sedang tak karuan karena kondisi kakaknya, tapi ia tetap bersyukur karena istrinya berada disampingnya.
Baru di tinggal lima belas menit untuk membeli sarapan, rupanya Hangga sudah tertidur pulas di dalam mobil, Rani menghela nafas pelan, menaruh satu kardus putih yang berisi nasi itu di dalam mobil, dan membawa satu kardus lagi ke dalam rumah sakit.
Rani berjalan ke depan ruang ICU, mencari cari sosok santi dari kaca kecil di pintu.
" Ran?" suara Santi berjalan dari lorong rumah sakit,
" Kukira di dalam mbak?"
" aku dari toilet.." jawab perempuan yang wajahnya penuh sembab dan pucat itu.
" Tidak apa apa kan mas genta di tinggal?" tanya Rani,
" ada perawat kok di dalam ran, kenapa?"
" makan sebentar ya mbak, mumpung masih hangat.." ajak Rani mencari tempat duduk agak jauh, mau tidak mau di paksanya Santi makan meski makanan itu hanya di makan sedikit.
" Anu.. Suamiku masih tidur.. kalau mbk juga mau tidur tidurlah sebentar, aku akan bantu menjaga mas Genta.." ujar Rani saat santi masih mengunyah makanan dengan kurang semangat.
Santi menatap Rani sesaat,
" tapi mbak bisa sakit kalau tidak tidur barang sebentar?"
" aku bisa tidur sembari duduk di samping papa Gio, sesekali kututup mataku kok.."
" bagaimana bisa?"
" bisa Ran.. tenang saja, kau dan suamimu pulang saja.."
" Hangga tidak akan mau pulang sebelum melihat mas genta membaik..?"
" kita tidak akan tau kapan mas genta akan sadar ran..
jadi lakukan kegiatan kalian seperti biasanya, kau juga harus bekerja.."
Rani diam, ia tertunduk, memang benar.. Ia harus bekerja libur sehari dua hari tiga hari mungkin tapi tidak mungkin terlalu lama, berbeda dengan hangga yang bebas.. tidak masalah baginya meski seminggu disini.
" Aku mengikuti keputusan suamiku saja mbak, kalau dia disini aku ya disini dulu.." jawab Rani pelan,
__ADS_1
Santi menaruh sendok plastik di tangannya, dan menutup kardus makanan yang ia taruh di pahanya.
" sudah makannya mbak? sini biar kubuang.." Rani mengambil kardus itu begitu saja dan membawanya ke arah tong sampah, setelah itu ia kembali duduk disamping santi.
" Jujur saja Ran.. aku bingung dan menyesal.." tiba tiba saja santi bicara tentang perasaannya.
" Kenapa mbak?" tanya Rani kikuk,
" aku sudah memutuskan bercerai, tapi melihatnya begini hatiku rasanya hancur.."
mendengar itu Rani terdiam,
" sebelum dia kecelakaan aku sempat pulang kerumah..
mengambil baju baju gio, maksudku sekalian aku pamit..
tapi di tiba tiba pulang dalam keadaan mabuk dan melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini.." entah kenapa air mata yang sepertinya sudah kering itu menggenang lagi di mata santi,
" apa itu mbak?" tanya Rani hati hati,
" dia menangis, memohon, sambil memegangi kedua kakiku Ran.. Memintaku supaya membawa gio pulang dan tidak bercerai dengannya..
saat itu sesungguhnya aku goyah, tapi pikiran burukku seakan menyuruhku untuk tidak mudah percaya..
karena itu aku memutuskan untuk pergi kerumah orang tua ku segera,
kukira disana pikiranku bisa lebih tenang dan bisa berpikir lebih benar akan keputusanku..
tapi, baru semalam aku disana..
hal seperti ini malah terjadi.."
melihat Santi yang mulai menangis, Ranu akhirnya memeluk santi,
" Mungkin ini kehendak Tuhan supaya kalian bersatu kembali mbak.." terlontar begitu saja dari mulut Rani,
" mbak masih mencintainya kan.."
Santi mengangguk dengan pipi di penuhi air mata.
" Semoga mas Genta lekas sadar dan pulih.. Dan semoga kalian bisa memulai dari awal lagi.." ujar Rani menepuk punggung santi pelan.
__ADS_1
" Kalau setelah sembuh dia begitu lagi bagaimana Ran?" tanya Rani di tengah tangisnya,
" Yakinlah dia akan belajar banyak dari kejadian ini mbak, dengar dia memohon saat itu.. terbukti bahwa dia berat padamu dan gio.. hanya saja tertutupi egonya yang besar.." ujar Rani menenangkan santi.