
Di renggutnya bibir rani, di ciumnya perempuan itu sampai tidak lagi sanggup menolak dan berontak.
" masih bilang tidak punya perasaan padaku?" bisik hangga di sela sela ciumannya, saat itu ia sadar, bahwa tangan Rani sudah melingkar di lehernya.
" Sudah.." ujar Rani kewalahan,
tapi hangga tidak mau berhenti, di kecupinya bibir rani sampai perempuan itu mengeluh.
" sekarang katakan padaku, berjanjilah..
bahwa kau tidak akan menjadikan laki laki itu sebagai ayah tiri tiara?" ucap Hangga tepat di depan wajah rani.
" Aku sudah bilang, Danu itu teman baikku.." jawab Rani dengan nafas terengah,
" teman baik tidak ada jaminan suatu ketika tidak akan lebih dari itu,"
" lalu, lalu maumu bagiamana?"
" aku akan menginap disini?"
" jangan ngawur?!"
" biar kita di tangkap orang kampung, setidaknya kita akan di nikahkan oleh mereka,
mendengar itu Rani nekat mengigit bahu Hangga agar dirinya di lepaskan,
" aduhh! Adududuuhhh!" Hangga kesakitan, namun tangannya belum jug melepaskan Rani.
" Pulang lah!" tegas Rani,
__ADS_1
tapi bukannya pulang, laki laki itu malah kembali mencuri bibir rani.
" Duhh Gustii...?!" terdengar suara mak Dar dari depan pintu, ia melihat pemandangan yang panas malam ini.
keduanya kaget melihat kehadiran mak Dar,
Hangga buru buru menurunkan Rani dengan wajahnya yang menahan malu.
" Kok ya untung saya yang masuk, kalau orang lain bagaimana? Pagar terbuka, pintu terbuka..?!" omel Mak dar.
" Mas mu kok ndak mbalik mbalik yo Num?" tanya Mamanya, sembari menatap jalanan di luar gerbang yang sudah gelap.
" masih ngobrol mungkin ma?" jawab Hanum,
" iya kalau ngobrol, bagaimana kalau ribut? Kasihan Rani, mas mu diam diam menghanyutkan begitu.." keluh mamanya, khawatir keduanya ribut lagi.
" sudah kau selimuti Tiara Num?"
" Bagaimana menurutmu num?"
" apanya ma?"
" yo mas mu iku sama Kirani.."
" owalah ma, tidak usah kita ikut campur.. Mereka berdua itu sulit.. Entah kenapa yang satu seperti memaksakan diri, yang satu menghindar.."
" harus dari kesadaran diri ya.. Aduh.." keluh mamanya,
" kapan bisa lihat adiknya tiara kalau seperti ini terus.." imbuh mamanya membuat Hanum tertawa,
__ADS_1
" asal jangan hanum ya? Hanum masih ingin kerja.."
" ah, siapa yang menyuruhmu menikah, masih bocah.."
Hanum terkekeh mendengar itu.
" Itu ya num yang namanya Danu?"
" iya ma, yang memarahiku waktu itu,"
" kau yakin num dia tidak menyimpan perasaan pada Rani??"
" Hanum mana tau ma, siapa yang bisa menduga perasaan manusia.."
" mas mu ibu mengesalkan, jangan sampai Rani diambil orang duluan.."
" ya kasih tau ma mas Hangganya,"
" kasih tau bagaimana? Dia itu bukan dua puluh lima tahun, tapi sudah tiga puluh lima tahun..."
" ya mau bagaimana ma, setidaknya dia tidak suka membuat masalah seperti mas genta.."
" hemm.. Kalau yang satu itu malah tambah buat kepala pusing, sudah punya istri tapi kelakuannya.. Embohhh.." mamanya mengeluh,
" oh ya ma, bagaimana ekspresi mas Genta ya, saat tau kalau mas Hangga dan mbak Rani ternyata punya anak?" hanum penasaran,
" waduh, sudah pasti bibirnya panjang num, tau Rani menikah dengan Hangga saja dia tidak terima.."
" nah itu.. Aku jug khawatir ma, tapi untunglah mbak Rani dan mas Hangga tinggal disini, jauh dari mas Genta, kalau tidak...
__ADS_1
aku tidak tau lagi bagaimana caranya merecoki mas Hangga seperti dulu.."
" iya, hidup disini itu sudah benar untuk mereka Num.. kita tidak usah menyuruh mereka untuk pulang ke surabaya.." ujar mamanya pelan.