
" Jangan sampai kehilangan Tiara.." beberapa hari ini kalimat itulah yang terus terngiang di pikiran Hangga.
Tentu kesedihan kesedihan Rani juga yang selama ini tidak pernah ia kira.
Dalam hati ingin segera menemui Rani, tapi ia sudah berjanji untuk menjaga kelakuannya.
Hingga akhirnya tibalah hari untuk kunjungan ke kebun Hangga.
Murid kelas satu dan dua di bawa masuk ke kebun.
Hangga yang awalanya tidak berniat menampakkan diri, segera mengganti bajunya saat melihat Rani dan Tiara berjalan masuk ke kebun.
" Selamat pagi mas Putra.." sapa pak Suroto, kepala sekolah di tempat Rani mengajar,
" terimakasih sekali lho atas kesempatan yang di berikan pada anak anak.." ujar pak Suroto, sementara disamping pak suroto ada dua orang guru, Ruri dan Siska.
" Kebetulan ini dua kelas saja, untuk kelas yang lainnya akan menyusul besok, kami takut jika anak anak terlalu banyak akan merusak tanaman sekitar.." imbuh pak Suroto,
" oh silahkan saja, saya akan menemani sekarang,
tapi mungkin saya besok tidak bisa menemani, karena saya harus keluar kota.. jadi biar pekerja saya yang menemani.." Hangga sudah mempersiapkan Burhan, Sunar, dan pak Dirjo untuk membawa anak anak dan guru berkeliling, termasuk melihat proses pemetikan hingga pembuatan teh rosela, bangunannya terletak persis di belakang villa, disana terdapat dehydrator dan mesin mesin lainnya yang memudahkan proses pembuatan.
Ada juga bibit bibit tanaman di ujung kebun yang bisa di lihat anak anak.
Tentu saja para pekerja akan menunjukkan secara langsung, sehingga para murid biar tau dengan jelas proses menanam hingga memetik hasil buah hasil kebun.
Dari jauh Hangga melihat Tiara, sementara tiara yang dari awal sudah di peringatkan oleh Rani sama sekali tak mendekat ke Hangga, gadis kecil itu hanya melambaikan tangannya sebentar saja pada Hangga,
Hangga mengangguk dan membiarkan Tiara berjalan bersama teman temannya.
Selama kegiatan belajar dan pengenalan itu berlangsung, Hangga hanya mengikuti dari belakang bersama kepala sekolah,
sementara guru guru lain berjalan sembari menjelaskan apa saja yang murid murid perlu kenal dan ketahui.
Ini kesempatan langka, Hangga bisa melihat Rani mengajar, ia begitu sabar dan telaten mengatur dan menjelaskan kepada murid muridnya, meski kebanyakan dari anak anak itu ramai sendiri dan memandangi sekeliling kebun, bahkan ada beberapa anak yang begitu aktif, tangannya tidak henti menarik daun daun jeruk sampai batangnya patah.
Tapi tak ada yang hangga bisa lakukan, namanya juga anak anak, jika anak anak itu senang maka dirinya juga ikut senang.
Mata hangga tidak henti mengawasi Rani dan Tiara, hingga ia tidak sadar kalau pak Suroto memperhatikannya.
" Njenengan sedang kurang sehat?" tanya Pak Suroto sembari tersenyum,
__ADS_1
" oh.. Sehat pak, hanya kurang tidur saja beberapa hari ini.." jawab Hangga mengulas senyum.
" Cuaca akhir akhir ini tidak menentu.. Kadang dingin sekali, kadang panas.."
" benar pak.. Kalau pagi dan malam kabutnya tebal.." jawab hangga,
" mungkin mau pindah rumah di bawah mas..?"
Hangga hanya tersenyum saja,
tidak hanya pak Suroto yang melihat gelagat Hangga yang terus memperhatikan Rani, tapi Ruri.
Ruri bahkan sampai tidak fokus pada anak anak karena memperhatikan pandangan Hangga.
" Om.." entah kapan Tiara terpecah dari rombongannya, ia tiba tiba saja berdiri di depan Hangga.
" Tiara mau ke kamar mandi..?" ujar gais kecil itu, pak Suroto tentu saja terkejut,
" Lho, Tiara ke bunda ya?" ujar pak Suroto,
namun Hangga langsung jongkok dihadapan Tiara.
" Bisa sendiri? atau di temani om?" tanya Hangga,
" ya sudah, masuk ke dalam rumah langsung, disana ada bu woyo.. bisa minta tolong bu Woyo di dapur kalau Tia kesusahan.."
tanpa menunggu lama Tia mengangguk dan berlari ke dalam villa.
Melihat itu tentu saja pak Suroto kebingungan.
Tak berselang lama setelah Tiara masuk ke villa, Rani mendekat,
" Ti.. Tiara?" tanya Rani kebingungan tidak menemukan putrinya dalam rombongan kelas satu,
" ke kamar kecil, tenanglah ada bu woyo di dalam.. Kembalilah awasi murid muridmu.." suara Hangga tenang, ia lupa kalau disampingnya ada kepala sekolah.
Mendengar itu Rani langsung kembali ke rombongan kelas satu.
" Apa njenengan kenal dengan bu Rani?" tanya pak Suroto akhirnya,
" kenal pak.. kenal baik.." jawab Hangga dengan senyumnya, sudah terlanjur mau jawab apa pikirnya,
__ADS_1
" mari pak, kita ke ruang pembuatan teh.." ajak Hangga buru buru, agar pak Suroto tidak melempar pertanyaan lagi padanya.
Sore menjelang, Hangga tidak tahan juga, ia datang kerumah rani, sayangnya ia bertemu dengan Yanwar yang sedang mengantarkan keponakannya disana.
" Pak Putra.." sapa Yanwar di teras,
" Ya," jawab Hangga seadanya.
" mau ketemu bu guru?" tanya Yanwar,
" iya," masih jawaban pendek, Yanwar yang sadar dengan jawaban jawaban pendek itu tersenyum dan memohon diri,
" kalau begitu saya duluan.." ujar Yanwar berjalan keluar menuju motornya.
Melihat Rani yaang duduk di ruang tamu bersama seorang anak Hangga masuk begitu saja,
" Ada apa?" tanya Rani,
" Aku mau mengajak Tiara keluar, aku rindu padanya, tadi hanya bertemu sebentar.." kata hangga, dalam hatinya juga berkata " sesungguhnya aku rindu padamu juga.." namun tak di ungkapkannya, apalagi sejak ia mendengar perkataan mak dar, beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak, membayangkan bagaimana penderitaan Rani setelah ia ceraikan.
Di tatapnya perempuan itu, penuh Rindu dan sesak, tapi lagi lagi janji menghalanginya.
" Hanya makan sebentar di luar, setelah itu kuantar pulang..?" mendengar kata kata Hangga mak Dar keluar,
" Wah, Tiara mau di ajak jalan jalan toh, kebetulan sudah selesai mandi dan sudah cantik..",
Rani menatap mak Dar, entah kenapa mak dar seperti sengaja pikir Rani.
" Tidak, aku tidak akan membiarkanmu membawanya sendirian, lain kali saja.." Rani tenang namun tegas,
" sebaiknya kau pulang, aku harus mengajar, kalau kau terus disini aku tidak bisa memulai les nya," usir Rani halus.
" Dengan saya saja mas, saya akan temani Tiara.. Sekalian saya naik mobil bagus..!" lagi lagi mak Dar menyela, membuat Rani menatap mak Dar.
" mak?!" seru Rani,
" ndak apa apa tho.. Kan ada saya.. Mbak Rani mengajar saja.." jawab mak Dar.
" Ya sudah.. Ayo mak.." ajak Hangga,
" iya iya, saya panggil Tiara ya mas.." mak dar masuk ke dalam rumah dengan buru buru.
__ADS_1
Sementara Rani hanya bisa menatap Hangga dengan kesal.
" Kau mengajar saja ya sayang.. Nanti kubawakan oleh oleh.." ucap Hangga dengan tangan yang terarah ke Rani, tapi melihat ada anak kecil di sebelah Rani, tangan itu segera di tariknya kembali.