Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
hari yang bagus


__ADS_3

Baru saja papanya duduk dan meminum segelas teh buatan bu Woyo,


" Carikan hari yang bagus untuk pernikahanku pa," ujar Hangga duduk di depan papanya,


Hermawan menatap putranya dengan pandangan tidak percaya,


" Kirani sudah setuju kembali padamu??" tanya laki laki tua itu tidak percaya,


Hangga mengangguk sembari tersenyum,


" Bagaimana bisa? Bukankah dia seperti tidak mau kemarin kemarin??" Hermawan tentu saja masih tidak percaya.


" Kami di grebek.." Hangga meringis,


kedua alis hermawan langsung terangkat,


" Di grebek?!" laki laki itu bangkit dari kursinya,


" tenang dulu pah, tenang.." ujar Hangga menyuruh papanya kembali duduk.


" Memalukan Ngga?! Kau suruh papa tenang dari mana?!!" laki laki tua itu berang.


" Itu rencanaku, itu caraku agar dia mau menikah??"


" tapi di grebek?!"


" kami tidak melakukan apa apa pah, hanya berbincang, dan kepala desa sudah membantu kami agar warga tidak berpikir buruk.. asal kami lekas menikah.."


" Edan kau Ngga?!!"


" Bagaimana kalau kau di masa, di kroyok? Di arak keliling kampung??" mamanya ikut bicara karena khawatir.


" Aku sudah memikirkan situasi yang paling buruk ma, syukurlah masih banyak yang memandangku disini sehingga mereka tidak berani menyentuhku.."


" astaga lee..??? Memangnya tidak ada cara lain untuk menikah??" tanya mamanya,


" Tidak ada, aku sudah kesal melihatnya terus terusan dekat dengan laki laki lain yang mungkin kapan saja bisa merebutnya..


apalagi dengan tenangnya dia duduk dengan ayah ibu laki laki itu seperti bakal mantu.." Hangga setengah menggerutu, bayangan Rani saat bercengkrama dengan ayah dan ibu Ruri masih lekat dalam ingatannya, itulah yang membuatnya memutuskan melakukan hal nekat ini.

__ADS_1


" Ya ampun lee..." mamanya mengelus kepala putranya,


" Ya sudah, kami carikan hari.."


" lebih cepat lebih baik ma.."


" jangan ngawur! Segalanya perlu di perhitungkan agar pernikahan kalian langgeng!" sahut papanya keras.


" Benar pa, karena itu aku berharap ada hari baik dalam bulan ini atau bulan depan..


aku tidak ingin ada acara apapun, akad nikah sudah cukup bagiku.."


mendengar itu kedua orang tuanya saling menatap.


" Kau sudah ke Yudi?" tanya papanya,


" belum, mungkin besok, aku akan menyusul papa, tapi tolong papa dan mama ikut ke tempat mas Yudi?"


Papanya menghela nafas,


" jujur saja, kau melakukan ini karena kabar buruk dari pernikahan kakakmu kan?" tanya hermawan,


Rani pasti trauma karena kuceraikan dulu, jadi tidak akan mudah meminta kesediaannya dengan baik baik,


jik dulu aku pasif dan selalu diam mengalah, maka sekarang aku tidak akan melakukan hal yang sama,


ada anakku yang butuh melihat kami berdua setiap hari,


enam tahun kubuang sia sia dan tidak merawatnya pa,


aku ingin merawatnya bersama Rani.."


Mendengar penjelasan putranya hermawan terdiam, ia sadar benar, apa yang di katakan hangga itu ada benarnya, Tiara harus di rawat dengan baik oleh ayah dan ibunya.


" Lalu bagaimana dengan santi?" tanya mamanya,


" Dia sudah meminta maaf dengan Rani, dan Rani menganggap semua itu sudah berlalu, tapi kemarin dia sempat membuat Rani sedikit kesal.. Tapi sudahlah, aku sudah memperingatkannya ma,"


" soal apa ini?"

__ADS_1


" dia membanding bandingkan aku dengan mas Genta, di depan Rani.."


mamanya menghela nafas dalam,


" wajarlah, dia sedang kecewa.. Maklumilah.. Dia juga punya luka.." ujar mamanya,


" memangnya Rani tidak punya? Mama lupa?" ungkit Hangga membuat mamanya mengangguk pelan.


Keesokan hari setelah kedua orang tua hangga pulang membawa santi.


" Aku mau ke Surabaya, kau mau ikut?" tanya Hangga saat dirumah Rani,


" kerumah mas Yudi untuk memintamu, bersama papa dan mama.." lanjut Hangga membuat Rani sontak menatap Hangga.


" Ke.. Kerumah mas.. mas Yudi?" tanyanya gelagapan.


" kenapa?" tanya Hangga menatapnya tenang.


" Bukankan kata kepala desa kita harus segera menikah? papa yang akan mencari harinya.." ujar Hangga,


Rani tertunduk tiba tiba, rautnya bingung.


" Kau masih belum yakin padaku ya?" tanya Hangga sembari menatap Rani baik baik,


" Aku tidak tidak berjanji, tapi.. Jika suatu saat kita ribut dan kau meminta berpisah, aku tidak akan pernah melepaskanmu..


aku tidak selemah dulu,


aku berdiri sendiri sekarang, tanpa sokongan papa, bahkan mas Genta tidak akan ku ijinkan mengusikku,


kau dan Tiara adalah prioritasku..


tidak ada lagi yang kuinginkan selain hidup tenang bersama kalian.." hangga menyentuh wajah Kirani, membuat perempuan yang tertunduk itu menatapnya, Kirani menangkap mata Hangga yang penuh keyakinan.


" Pergilah.." ujar Rani pelan,


" pergilah ke mas Yudi, dan minta aku dengan baik.. Dia adalah pengganti bapak dan ibu.. Tolong perlakukan dia selayaknya waliku.." imbuh Rani,


" Tentu saja sayang.. Aku selalu menghormati mas Yudi sejak dulu," Hangga mengecup punggung Tangan Rani.

__ADS_1


__ADS_2