Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
tangisan santi


__ADS_3

Hangga membuang rokoknya yang baru saja ia nyalakan, rasanya hatinya masih di penuhi amarah.


" Apa itu benar?" tiba tiba suara Santi terdengar, perempuan itu duduk tak jauh dari hangga.


Hangga terkejut, tapi tak ada yang bisa ia lakukan, ia tetap harus menjawab pertanyaan kakak iparnya.


" Yang mana mbak?" tanya laki laki itu dengan luka di sudut bibirnya,


" kalau perempuan itu adalah perempuan yang hampir di nikahi mas genta dulu?"


Hangga menghela nafas panjang, lalu mengangguk,


" perempuan yang di campakkan oleh mas genta demi mengejarmu mbak tepatnya," ujar Hangga.


Santi membeku, hatinya nyeri, ada rasa bersalah, tapi ada jug rasa sakit hati, semua bercampur aduk menjadi satu.


" Aku menikahinya menggantikan mas Genta yang lari,"


" lalu kenapa kau menceraikannya padahal dia hamil?"


" aku tidak tau kalau dia hamil.." jawab Hangga sembari mendengus pelan, lagi lagi penyesalannya muncul di hatinya.


" Aku masih lemah saat itu mbak, mas genta selalu berkata tidak rela dan bisa merebutnya kapan saja, karena itu aku berpikir untuk melepaskannya,


tapi sekarang, ia takkan kulepaskan lagi,


jadi tenanglah, kirani sudah tidak mempunyai urusan apapun dengan suamimu lagi, apalagi diantara aku dan dia sudah ada anak..


suamimu saja yang selalu dan selalu tidak terima, seperti orang yang serakah ingin mendapatkan semuanya..


bahkan apa yang sudah ia tinggalkan pun masih ingin ia dapatkan kembali.." ujar Hangga.


Tak bertanya lagi, tiba tiba air mata mengalir dari sudut mata santi,


melihat itu tentu saja Hangga tak tega, ia membuang pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


" Bukankah aku yang bersalah dalam hal ini?" kata santi tiba tiba dengan air mata masih meleleh,


" itu masa lalu mbak," jawab hangga,


" tapi tetap saja dia di tinggalkan gara gara aku, andai saja aku tau dari awal.. aku tidak akan.." santai tertunduk, ia terisak.


" Sudah mbak sudah?? Nanti mas Genta mendengar mu menangis malah tambah runyam?" ujar Hangga berdiri,


" jangan pikirkan masa lalu, aku dan kirani sudah melewati yang merelakan masa lalu, hanya suamimu saja yang belum, jadi lebih baik berilah pengertian pada suamimu mbak,


agar merelakan masa lalu dan lebih bijaksana.." ujar Hangga segera berlalu, ia pergi meninggalkan santi dengan segera, ia tidak mau terlibat masalah kembali hanya karena tangisan santi.


Hangga masuk ke dalam kamar hanum, hari sudah cukup malam, tapi ia malah menemuka putrinya sudah terlelap di atas tempat tidur hanum.


" Biarkan saja mas, biar tidur denganku," ujar Hanum sembari menutup laptopnya.


" Dia lelah bermain.."


" iya, makan kenyang juga, jadi tidurnya cepat.." jawab hanum.


" Ah tidak usah," jawab Hangga pelan,


" tidak usah bagaimana? Berdarah begitu, setidaknya biar ku bersihkan dan kuberi salep?" mendengar itu hangga patuh, ia duduk di kursi samping tempat tidur hanum dan membiarkan dirinya di obati.


" Luka mas Genta lebih banyak, tidak kau obati juga?" tanya hangga,


" kan sudah ada mbak Santi yang pasti akan merawatnya dirumah, lagi pula kenapa mas memukulnya sebanyak itu?" tanya Hanum sembari mengolesi salep kakaknya itu,


" aduh..?" keluh hangga pelan karena pedih,


" kenapa? Memangnya tidak boleh?" tanya hangga,


" seumur umur baru kali ini mas memukul mas genta, sampai babak belur lagi.." komentar Hanum,


" apa tidak boleh aku marah sekali kali?"

__ADS_1


Hanum tersenyum,


" bagus.." hanum memberi jempol,


" harusnya sejak dulu," imbuh hanum terkekeh,


" kau ini, apakah memalukan berkelahi demi seorang perempuan?" tanya hangga,


" apalagi dengan kakak sendiri?" lanjut hangga.


" Tidaklah! dia kan ibu dari anakmu mas?,


orang pacaran saja wajib membela pacarnya, ya masa mas tidak??"


Hangga diam, ia terlihat berpikir,


" Mas Genta pasti semakin membenciku.." keluh Hangga pelan,


" jangan di pikir...mas genta itu tidak pernah berpikir panjang, tidak pernah sekali pun menempatkan dirinya berada di posisi orang lain.." hanum menenangkan kakaknya.


" Aku ingin hidup tenang dan bahagia num..


dengan rani dan tiara.." tatapan hangga membuat Hanum trenyuh, ini pertama kalinya hanum mendengar kalimat ini dari hangga.


" Iya mas.. Aku mendoakanmu bahagia..


sudah cukup aku melihatmu terluka dan menahan nahan perasaanmu selama ini..


dapatkan apa yang ingin mas dapatkan.." ujar hanum tersenyum pada hangga.


Sementara itu di jalan santi terus terusan menangis,


" Diam!" tegas Genta,


" kau ini bisanya menangisa saja membuatku semakin pusing!" genta benar benar marah.

__ADS_1


" kalau kau tidak diam, akan kuturunkan kau disini?!" ancam Genta pada istrinya.


__ADS_2