
Santi pulang untuk mengambil baju baju gio, ia mengambil dua tas besar dan mengisinya dengan baju baju gio.
Ia sudah memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya, ia tidak nyaman terus berada dirumah kedua orang tua genta.
" Bapak belum pulang?" tanya Santi melihat jam sudah menunjukkan jam sembilan malam.
" Bapak sekarang pulangnya malam malam bu.." jawab si asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja dengan mereka, usianya sekitar empat puluh tahun.
" Apa ibu tidak pulang?" tanya si asisten,
" saya akan mengajukan cerai bu, jadi mungkin ini terakhir kalinya saya kesini.." jawab Santi,
" Jangan bu..??" si asisten memegangi tangan santi,
" ibu pikir pikir lagi ya bu..??"
Santi diam sesaat,
" kenapa saya harus pikir pikir lagi bu? Ibu tau benar apa yang terjadi dirumah ini,"
" kasihan bapak bu? Kasihan bapak..??"
mata si asisten berkaca kaca.
Hal itu tentu saja membuat santi heran,
" kasihan maksudnya??"
" bapak beberapa kali pulang mabuk, setiap kali bapak mencari ibu dan mas Gio..
tidak jarang bapak marah, berteriak sendiri, dan setelahnya menangis??"
mendengar itu santi tertegun.
Suaminya, menangis? itu rasanya tidak mungkin, pikir santu.
" ibu salah dengar mungkin?" kata santi tak percaya,
__ADS_1
" Sungguh bu, bapak menangis, bahkan setelah bapak sadar ke esokan harinya, pernah bapak menangis di tengah tengah sarapan..
entah apa yang bapak pikirkan, saya juga tidak tau, tapi sebagai seorang wanita.. saya merasa bahwa bapak sangat kehilangan sosok ibu.." jelas si asisten.
" Mungkin bapak acuh bu, terlihat galak dan tidak menyayangi keluarganya,
tapi,
semenjak ibu dan mas Gio pergi,
saya melihat sisi lain dari bapak..
bapak yang merindukan anak istrinya,
bapak yang emosional dan tak berdaya..?"
Santi lagi lagi diam, ia sungguh ragu dengan kata kata asistennya, karena sosok suaminya yang selama ini ia kenal tidak seperti itu, bahkan terakhir kali dengan acuhnya ia menyuruh Santi mengurus perceraian sendiri.
" Apa dia tidak pernah membawa seorang wanita kerumah selama saya tidak ada?" tanya Rani,
mendengar itu Santi hanya bisa menghela nafas,
" jangan pergi ya bu? Kasihan bapak..?" mohon si asisten lagi, membuat santi tak sanggup berkata apapun.
Setelah selsai mengemasi baju baju gio, Santi mengangkat dua tas besar itu bergantian keluar, ia ingin memasukkan tas itu ke dalam mobil yang ia pinjam dari mertuanya, tapi baru sampai di ruang tamu,
" Apa yang kau ambil?" terdengar suara Genta masuk melewati pintu.
Santi yang kaget tentu saja mundur,
" Ba baju Gio," jawab Santi takut,
Karena ada bau alkohol yang pekat.
" Mau kau kemanakan baju itu?" tanya genta dengan suara dan raut tenang, meski minum alkohol, rupanya ia masih sadar dan bisa berdiri dengan tegak.
" Mau kubawa, kami akan pulang ke kerumah orang tuaku," jawab Santi.
__ADS_1
Mendengar itu Genta terdiam, tak berkata apapun, tapi ia maju mendekat, lalu mengambil kedua tas itu dan melemparnya ke lantai.
" Sudah cukup pemberontakanmu.." ujarnya dengan mata sayu.
" Sudah cukup, kembalilah kerumah.." ia terus mendekat,
" Aku sudah tidak tahan, sudah cukup.. sudah cukup kau menyiksaku dengan pergi dari rumah ini.." Genta yang setengah mabuk itu tiba tiba saja berlutut di lantai, dengan memeluk kedua kaki Santi.
" Jangan tinggalkan aku santi.. Jangan tinggalkan aku??" suara genta parau,
" aku memang egois selama ini, aku memang egois...
kumohon, bawa gio pulang, bawa gio pulang, kalian jangan pergi kemanapun lagi??" Santi tersentak, laki laki yang selama menjadi suaminya tidak pernah ia lihat air matanya, kini menangis.
Genta benar benar menangis dan memohon kepadanya,
Santi bahkan sampai membeku, kaget dan bingung, itu yang ia rasakan sekarang.
" Kau.. Kau sedang mabuk," ujar Santi berusaha melepaskan diri dari genta,
" tidak, aku tidak mabuk, aku tidak mabuk.." jawab Genta menggeleng pelan.
" kau seperti ini hanya karena terpengaruh minuman keras, nanti jika kau sadar kau pasti akan menyesali dan menarik kembali semua kata katamu.."
" tidak santi.. tidak.. Aku mencintaimu santi.. Aku mencintaimu.. Maafkan aku yang keterlaluan selama ini,
aku berjanji akan lebih dewasa,
aku berjanji tidak akan main main lagi..
aku berjanji akan lebih bertanggung jawab..
tolonglah..
buang jauh jauh pikiranmu untuk bercerai denganku?
aku minta ampun.. aku minta ampun padamu??" mohon laki laki itu terus memegangi kaki Santi.
__ADS_1