
Tiara bingung, semua orang memeluknya bergantian, bahkan satu dari mereka menangis tersedu sedu melihat Tiara.
" Sudah ma, nanti Tiara takut..?" ujar Hangga,
" Teganya kirani menyembunyikan cucuku.." keluh perempuan itu lagi.
" mbah uti kenapa?" tanya Tiara yang bingung kenapa perempuan yang di panggil mbah uti itu menangis.
" Mbah uti bahagia sayang.. senang.."
" kok menangis?" tanya Tiara,
mendengar itu mama Hangga tersenyum, menggapai tiara dan menciuminya untuk kesekian kali.
" Tiara main dengan tante Hanum ya di kamar?" ajak Hanum,
" Main apa tante?"
" kita nonton film ya?"
Tiara mengangguk, dan pergilah tiara dengan hanum ke kamar.
" Kok Rani diam saja kau membawa Tiara kesini Ngga?" tanya mamanya penasaran sembari mengusap sisa air matanya.
" Kuancam.." jawab Hangga pelan,
" maksudnya kau ancam??"
" kuancam, jika tidak bisa kuminta baik baik akan kurebut,"
mama dan papanya sontak saling memandang, terlihat kekhawatiran di mata keduanya,
" kenapa kau bersikap seperti itu??" tanya mamanya,
" aku kesal ma,"
" bicara soal kesal, kami juga kesal.. Tiara di sembunyikan sampai sebesar itu, untung saja Tuhan mempertemukan kalian sekarang, jika tidak.. entah sampai kapan..
tapi itu bukan sebuah alasan untukmu bersikap sefrontal itu pada Rani,
kalian seharusnya bekerja sama,
membesarkan Tiara dengan baik," nasehat papanya,
__ADS_1
" tidak," jawab Hangga pendek membuat papa dan mamanya heran,
" apa maksudmu tidak?"
" aku tidak akan bekerja sama dengannya, percuma saja,"
" Hangga?" mamanya khawatir,
" yang sejak awal tidak bisa di ajak kerja sm itu dia ma, dia bersikap seenaknya, bahkan mengarang kebohongan tentang kelahiran Tiara??"
" pasti ada sebabnya ngga, tidak mungkin tidak ada sebabnya.." sela papanya lagi,
" sebabnya adalah karena sejak awal dia terpaksa dan tidak pernah mencintaiku." jawab Hangga membuat kedua orang tuanya terdiam.
Memang benar, hubungan keduanya dulu di awali dengan keterpaksaan, itu tidak bisa orang tua hangga pungkiri.
Rasa kesal Hangga mungkin di dasari pula atas rasa cintanya, sehingga ia kecewa setelah menemukan kebohongan Rani.
" Lalu bagaimana rencanamu ke depannya?" tanya mamanya,
" maksud mama, bukan kan kau berencana kembali pada Rani?" lanjut mamanya bertanya,
Hangga diam cukup lama, ia terlihat cukup dalam berpikir.
terlihat perubahan raut wajahnya, dari yang awalnya tenang, sekarang berubah muram.
aku mulai menyadari itu," ujar Hangga dengan suara dalam, terlihat sekali beban perasaan yang ia tahan.
" kau mencintainya ngga, sadarlah.."
" aku sadar pa, tapi aku juga harus sadar kalau orang yang kucintai tidak pernah mencintaiku,
jika ada sedikit saja perasaan untukku,
kenapa dia harus menyembunyikan darah dagingku? Bahkan berusaha mati matian berbohong agar aku tidak menemukan kenyataan yang sesungguhnya bahwa ada Tiara diantara kami,
aku tau dari cerita mak Dar, setelah melahirkan dia cukup menderita, membesarkan Tiara sendiri,
tidak ada alasan yang bisa kutemukan selain ia tidak ingin bersama denganku, karena itulah dia bersembunyi dari kita selama ini,
papa tidak akan bisa membayangkan.. Bagaimana aku bergelut dengan perasaanku selama ini..
yang jelas aku mau membahagiakan Tiara, hidupnya harus lebih baik dari sebelumnya.."
__ADS_1
ujar Hangga dengan mata berkaca kaca.
" kau mau menyerah pada cintamu lagi?" tanya mamanya,
" aku bukan menyerah ma, aku tau diri,"
" itu menyerah namanya anak bodoh.. Kau terlalu larut dengan emosimu sehingga melupakan fakta bahwa kebahagiaan yang terbaik bagi tiara adalah dengan melihat kedua orang tuanya berkumpul,
kau mungkin bisa memberi lebih banyak hal, seperti materi dan lainnya,
tapi kau tidak bisa menggantikan kasih sayang Rani sebagai seorang ibu,"
nasehat mamanya,
" aku tidak membenarkan perbuatanmu yang mengambil tiara dengan paksa,
setelah ini, bicarakan baik baik dengan Rani, bagi waktu kalian, mungkin tiga hari disana, empat hari disini, atau sebaliknya,"
mendengar nasehat mamanya Hangga diam tak menjawab,
keegoisannya sebagai seorang ayah masih menguasainya.
" Kau ajak rani nanti malam?" tanya papanya,
" aku tidak mengajak, tapi kalau Tiara menginginkannya biarlah." jawab Hangga seakan enggan dengan kehadiran Rani.
" kau ini.. Bicaramu seperti orang yang tidak cinta, kalau Rani diambil orang baru kau tau rasa! turunkan egomu, kau dan dia terikat oleh tiara, harusnya kau bersyukur dia melahirkan anakmu, sehingga di usiamu yang sekarang kau tidak perlu memikirkan keturunan lagi,"
lagi lagi Hangga diam.
Mobil Hangga berhenti di depan rumah Rani, melihat mobil itu Rani yang sedari tadi duduk di depan teras bangkit.
" Mak! berangkat dulu!" pamit Rani pada Mak Dar yang sedang berada di dalam rumah.
Tanpa menunggu sahutan mak Dar Ranu berjalan ke arah mobil, jalan yang tidak buru buru karena kakinya masih sakit.
Hangga menunggu dengan sabar di dalam mobil.
Rani membuka pintu tengah, disana sudah penuh oleh kedua orang tua hangga,
" duduklah di depan nduk," ujar mama Hangga,
Rani melirik kursi belakang, disana ada Hanum dan Tiara yang entah bercanda apa, yang jelas Tiara sedang terkekeh hingga lupa kehadiran bundanya.
__ADS_1
Melihat hanya kursi depan yang kosong, tidak ada pilihan lain, Rani akhirnya duduk di depan, disamping Hangga.
Melihat Rani yang duduk disampingnya hangga terlihat datar, ia diam saja, tidak berbasa basi atau apalah.