
" Jadi ingat dulu.. jangankan menyuapiku nar.. menatapku saat makan saja tidak.." ujar Hangga sembari merokok, sesekali ia tersenyum mengingat kejadian kemarin di kebun.
" Mas senang sekali sepertinya?"
" yo pasti.."
" kalau sayang dari dulu kok di ceraikan sih mas?"
" ah, susah aku ceritakan itu Nar.. Yang jelas aku menyesalinya,"
" terus sekarang kenapa tidak cepat cepat menikah lagi?"
" dia belum bilang iya nar.. coba kalau bilang iya, ndk pakai lama nar.."
" tapi kalau saya lihat enak begini dulu mas.. Kayak orang pacaran lho sampean.. lucu, padahal sudah punya anak.." komentar Sunar.
" Iyo ya Nar.. aku dan dia memang tidak pernah pacaran Nar..
kalau di ingat ingat isinya sedih thok.." Hangga membuang rokoknya, dan mengambil rokok yang baru.
" Sedih piye mas, memangnya dulu tidak pacaran?"
" ora.. aku menikah karen terpaksa Nar.."
" lho? Terpaksa piye tho mas??" sunar penasaran,
" dia itu calonnya mas ku,"
" lho?!"
__ADS_1
" iya, mas ku lari pas waktu mau akad nikah nar.."
" duh Gusti, opo ndak nangis kejer bu rani itu mas??"
" herannya ndak nangis blas nar, sama sekali tidak menangis mulai dari awal acara sampai masuk kamar pengantin..
tapi tidak tau setelah aku pergi.."
Sunar mendengarkan sampai tertegun saking kagetnya.
" owalah mas mas.. begitu tho awal ceritanya,
tapi.. Kalau saya lihat lihat sekarang, bu Rani jug sayang lho sama sampean.."
" moso nar.." Hangga mengulas senyum senang mendengar ucapan Sunar,
" Iya mas.. orang juga bisa lihat tho mas mas, mana yang suka dan tidak.."
Tak lama terdengar suara gerbang di ketuk,
Sunar yang mendengarnya segera berlari turun dan membuka gerbang.
" Lho? Mbak Hanum??!" Sunar sedikit kaget, karena majikannya tidak memberi kabar bahwa adiknya akan datang.
" Iya mas Sunar, kami naik taksi online, buka gerbangnya, karena anak mbak ku sedang tidur, biar mobilnya bisa masuk.." ujar Hanum berjalan masuk terlebih dahulu.
Melihat hanum, hangga kaget,
" Lho Num?! dengan papa mama? Kok tidak memberi kabar?!" Hangga berjalan mendekati adiknya,
__ADS_1
" Tidak, aku dengan mbak Santi dan Gio,"
Hangga tercengang,
" buat apa kau bawa dia kesini Num?!"
" huss jangan keras keras, dia sedang terguncang mas," ujar Hanum.
" tapi aku tidak senang num??"
" dia memohon pada papa dan mama untuk menemui mbak Kirani, dia menangis sembari berlutut pada papa, kami bisa apa??" jawab Hanum terlihat lelah,
" kami naik kereta, sengaja tidak mengabarimu, karena kalau mengabari sudah pasti di tolak.." imbuh Hanum,
" Ck.." Hangga berdecak kesal, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
Taksi online itu masuk dan berhenti di depan villa.
" Bisa bantu aku menggendong Gio ngga?" Santi turun dari mobil,
" di tidur.." ucap santi dengan mengeluarkan koper kecilnya.
" Iya mbak, silahkan masuk.." ujar Hangga berjalan mendekat ke arah mobil, membuka pintunya dan menggendong Gio yang sedang tertidur masuk ke dalam.
" Aku belum mempersiapkan kamar, sementara mbak dan gio tidur di kamar tamu saja," ujar Hangga membaringkan gio di atas sofa tengah.
" Biar di bersihkan bu Woyo dulu.." ujar Hangga segera berjalan ke belakang.
" Disini dingin mbak, mbak membawa jaket dan sweater untuk Gio kan?" tanya Hanum pada perempuan cantik itu.
__ADS_1
" Iya num, aku membawa satu jaket dan satu sweater, toh kita hanya tiga hari saja kan num?"
" iya mbak, tidak usah lama lama, tugasku banyak mbak, tidak bisa lama lama.." ujar Hanum.