Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
kedatangan santi


__ADS_3

" Jadi ingat dulu.. jangankan menyuapiku nar.. menatapku saat makan saja tidak.." ujar Hangga sembari merokok, sesekali ia tersenyum mengingat kejadian kemarin di kebun.


" Mas senang sekali sepertinya?"


" yo pasti.."


" kalau sayang dari dulu kok di ceraikan sih mas?"


" ah, susah aku ceritakan itu Nar.. Yang jelas aku menyesalinya,"


" terus sekarang kenapa tidak cepat cepat menikah lagi?"


" dia belum bilang iya nar.. coba kalau bilang iya, ndk pakai lama nar.."


" tapi kalau saya lihat enak begini dulu mas.. Kayak orang pacaran lho sampean.. lucu, padahal sudah punya anak.." komentar Sunar.


" Iyo ya Nar.. aku dan dia memang tidak pernah pacaran Nar..


kalau di ingat ingat isinya sedih thok.." Hangga membuang rokoknya, dan mengambil rokok yang baru.


" Sedih piye mas, memangnya dulu tidak pacaran?"


" ora.. aku menikah karen terpaksa Nar.."


" lho? Terpaksa piye tho mas??" sunar penasaran,


" dia itu calonnya mas ku,"


" lho?!"

__ADS_1


" iya, mas ku lari pas waktu mau akad nikah nar.."


" duh Gusti, opo ndak nangis kejer bu rani itu mas??"


" herannya ndak nangis blas nar, sama sekali tidak menangis mulai dari awal acara sampai masuk kamar pengantin..


tapi tidak tau setelah aku pergi.."


Sunar mendengarkan sampai tertegun saking kagetnya.


" owalah mas mas.. begitu tho awal ceritanya,


tapi.. Kalau saya lihat lihat sekarang, bu Rani jug sayang lho sama sampean.."


" moso nar.." Hangga mengulas senyum senang mendengar ucapan Sunar,


" Iya mas.. orang juga bisa lihat tho mas mas, mana yang suka dan tidak.."


Tak lama terdengar suara gerbang di ketuk,


Sunar yang mendengarnya segera berlari turun dan membuka gerbang.


" Lho? Mbak Hanum??!" Sunar sedikit kaget, karena majikannya tidak memberi kabar bahwa adiknya akan datang.


" Iya mas Sunar, kami naik taksi online, buka gerbangnya, karena anak mbak ku sedang tidur, biar mobilnya bisa masuk.." ujar Hanum berjalan masuk terlebih dahulu.


Melihat hanum, hangga kaget,


" Lho Num?! dengan papa mama? Kok tidak memberi kabar?!" Hangga berjalan mendekati adiknya,

__ADS_1


" Tidak, aku dengan mbak Santi dan Gio,"


Hangga tercengang,


" buat apa kau bawa dia kesini Num?!"


" huss jangan keras keras, dia sedang terguncang mas," ujar Hanum.


" tapi aku tidak senang num??"


" dia memohon pada papa dan mama untuk menemui mbak Kirani, dia menangis sembari berlutut pada papa, kami bisa apa??" jawab Hanum terlihat lelah,


" kami naik kereta, sengaja tidak mengabarimu, karena kalau mengabari sudah pasti di tolak.." imbuh Hanum,


" Ck.." Hangga berdecak kesal, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.


Taksi online itu masuk dan berhenti di depan villa.


" Bisa bantu aku menggendong Gio ngga?" Santi turun dari mobil,


" di tidur.." ucap santi dengan mengeluarkan koper kecilnya.


" Iya mbak, silahkan masuk.." ujar Hangga berjalan mendekat ke arah mobil, membuka pintunya dan menggendong Gio yang sedang tertidur masuk ke dalam.


" Aku belum mempersiapkan kamar, sementara mbak dan gio tidur di kamar tamu saja," ujar Hangga membaringkan gio di atas sofa tengah.


" Biar di bersihkan bu Woyo dulu.." ujar Hangga segera berjalan ke belakang.


" Disini dingin mbak, mbak membawa jaket dan sweater untuk Gio kan?" tanya Hanum pada perempuan cantik itu.

__ADS_1


" Iya num, aku membawa satu jaket dan satu sweater, toh kita hanya tiga hari saja kan num?"


" iya mbak, tidak usah lama lama, tugasku banyak mbak, tidak bisa lama lama.." ujar Hanum.


__ADS_2