Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
perasaan


__ADS_3

Keesokan harinya Yudi datang dengan Danu, sesuai janjinya pada adiknya, Yudi datang untuk berbicara dengan Hangga.


Yudi sempat takjub saat sampai di kediaman Hangga,


ia tau dari dulu kalau hangga adalah putra dari seorang pengusaha,


tapi melihat kebun dan villa yang luas ia hanya bisa menggelengkan kepalanya diam diam, ternyata laki laki yang pernah menjadi adik iparnya secara tidak sengaja itu lebih mandiri di banding Genta yang hanya bergantung pada perusahaan orang tuanya.


Danu yang sengaja ikut membantu Rani untuk turun dari mobil.


" Kakimu terbentur lagi?" tanya Danu melihat Rani meringis kesakitan,


" tidak sengaja, aku buru buru.." jawab Rani,


" ah kau ini ada ada saja, baru enakan kakimu kau bentur benturkan lagi," omel Danu, sembari memijit kaki Rani pelan pelan disamping mobil, laki laki itu jongkok, sedangkan Rani berdiri dengan punggung bersandar di mobil.


" Masuk Yud..!", persilahkan kedua orang tua Hangga,


" lho ada disini semua?" yudi tidak terkejut karena sudah di beritahu Rani sebelumnya.


" Baru kemarin juga kami kesini.." jawab papa Hangga mengajak Yudi duduk,


" dimana Rani?"


" masih di depan sepertinya," jawab Yudi,


" dimana Hangga?" tanya Yudi,


" Masih mengurusi bibit, sudah di panggilkan, sebentar lagi juga turun.."


" Tiara?"


" dia dengan hanum di atas, ikut melihat pembibitan.."


mendengar itu Yudi mengangguk, ia mulai berbincang sembari menunggu.


Sementara Hangga yang baru saja datang, entah kenapa matanya tidak menatap yudi, tapi malah menatap tajam ke arah depan.


Tentu saja, ada Danu yang sedang sibuk memijit kaki Rani disana.


Hangga berjalan begitu saja melewati Yudi dan kedua orang tuanya,


mendekat ke arah Danu dan Rani.


Dengan gerakan cepat, diangkatnya tubuh Rani, sehingga tangan Danu kehilangan kaki Rani yang sedang di pijitnya pelan pelan.


Rani bahkan tak punya waktu untuk berontak saking cepatnya gerakan Hangga.


" Beraninya di depan mataku?" suara hangga tenang namun tajam, di turunkan perempuan itu agar berdiri di hadapannya.


Danu sampai melongo melihatnya, apalagi Rani yang tiba tiba saja di gendong.


Danu berdiri, ia dan Rani saling menatap bingung,


" masih menatap laki laki lain?" kata Hangga menyadarkan Rani dari kebingungannya.

__ADS_1


" Hei, kaki rani masih sakit, jangan sembarangan seperti itu?" ujar Danu pada Hangga,


" aku? sembarangan? bukannya kau?" sahut Hangga tidak ramah,


" lho? Kok jadi aku?"


" tentu saja, kau seenaknya menyentuh kaki ibu dari anakku? dirumahku pula?"


Danu tertawa mendengar itu, ia merasa hangga konyol sekali,


" dia memang ibu dari anakmu, tapi kau sudah tidak punya ikatan apapun dengannya, jadi yang seenaknya itu siapa?"


Deg..


Hangga membisu, benar apa yang di katakan danu, tapi tentu saja ia tidak bisa mengalah.


" Tetap saja, kau tidak boleh menyentuhnya sembarangan, apalagi dirumahku?"


" apa apan kalian?!" Yudi keluar dengan papa Hangga,


" Kalian malah ribut tidak jelas?!" imbuh Yudi.


Sementara papa hangga hanya tersenyum melihat kelakuan putranya yang sedang berebut perempuan itu, dalam hati papa Hangga,


pendiam bisa berubah seagresif ini jika cemburu,


tidak hanya papa hangga yang terhibur melihat itu, tapi hanum juga yang tadi berjalan di belakang hangga,


Sedangkan Tiara sedang duduk di atas pangkuan mama Hangga.


" Jadi bagaimana baiknya?" tanya Yudi akhirnya,


" saya mau tiara tetap bersama dengan bundanya, kalau diambil begini, bukankah akan mempengaruhi perkembangannya?" lanjut Yudi.


" Jadi menurut mas Yudi hidup tanpa ayah tidak akan mempengaruhi perkembangannya?" kata kata hangga membuat semua mata memandangnya,


" kau bicaralah yang baik.." peringat papanya,


" maafkan Hangga Yud.. seperti kau tau, dia termasuk kami shock dengan kenyataan ini,


bukan tidak bahagia, kami bahagia sekali..


yang membuat kami shock adalah kenapa Tiara disembunyikan begitu lama.." ujar papa Hangga.


" Jangan pernah menyalahkan Rani dalam hal ini, dia punya hak untuk melakukan itu pak," jawab Yudi tegas.


" maksudmu bagaimana Yud?"


" seperti kita tau, Rani di ceraikan seenaknya saja saat itu, dia juga tidak tau kalau dirinya sedang hamil, dia baru sadar saat kandungannya sudah berusia empat bulan,


jadi menurut anda, kalau jadi rani, harus bagaimana?


datang memohon untuk di nikahi kembali??


sementara dirinya sudah terlalu sakit hati dan kecewa." jelas Yudi, dan terbukalah pikiran semua orang yang ada disana.

__ADS_1


" Adikku sudah di campakkan, itu bahasa kasarnya, lalu dia harus kembali dengan perut besar? Memohon pada laki laki yang tidak berpikir panjang dan seenaknya menceraikannya??"


wajah hangga memerah,


benar.. Kalau dari sudut pandang orang lain, hanggalah yang terlihat seenaknya, dengan menceraikan Rani,


tapi sesungguhnya tidak begitu, benar benar tidak begitu..


perasaan Hangga carut marut.


" Saya tidak mencampakkannya," ujar Hangga saat suasana mulai hening.


" Tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk mencampakkan Rani,


bukan membela diri, tapi saat itu saya berpikir Rani terpaksa menjalani rumah tangga dengan saya,


karena mas tau, kami menikah dengan cara yang seperti itu,


saya hanyalah seorang pengganti..


seorang yang sedari awal tidak di cintai,


saya berpikir dengan membebaskannya adalah pilihan yang terbaik,


saya sungguh sungguh minta maaf..


karena tidak pernah menyangka hal semacam ini bisa terjadi,


tapi sungguh.. Saya tidak mencampakkannya seperti anggapan mas,


saya justru mencintainya, karena itulah saya berani mengorbankan perasaan saya dan melepaskannya saat itu,"


dan semua terdiam, suasana lebih hening dari sebelumnya.


Rani terlihat terguncang oleh kata kata Hangga, ia tidak menyangka laki laki itu akan menyatakan cintanya di depan banyak orang.


" Kalau saya tidak mencintainya, saya tidak akan rela datang berkali kali dan mas pukuli saat itu,


andai saja saya bertemu Rani saat itu, tiara mungkin tidak perlu menjalani enam tahun tanpa seorang ayah.." lanjut Hangga membuat Yudi masih terdiam.


" Kukira ini adalah sebuah kesalahpahaman perasaan.." suara papa Hangga memecah keheningan,


" Hangga dengan perasaannya, Rani dengan kekecewaannya,


yang jelas tiaralah yang menjadi korbannya,


jadi lebih baik kalian berdua bicara baik baik tanpa kami, dari hati ke hati..


bagaimana baiknya kalian berdua merawat putri kalian,


jangan egois, jangan berebut.. Kalian bukan anak kecil lagi,


apalagi kau Hangga, usiamu sudah cukup untuk bisa bersikap bijaksana,


anakmu harus mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua belah pihak," nasehat papanya, hangga diam, ia tertunduk.

__ADS_1


Rani pun diam, ia bahkan tak berkata sepatahpun.


__ADS_2