
Pak kepala desa menatap Hangga dan Rani bergantian,
" Saya tau, yah.. baru saja tau kalau anda berdua ini mantan suami istri, tapi.." kata kata kepala desa terhenti, ia bingung harus bicara apa pada Hangga, ia merasa sungkan karena Hangga juga sudah banyak membantu banyak hal untuk desa selama ini.
" Katakan saja apa yang harus njenengan katakan, tapi yang jelas, saya dan mantan istri saya hanya sedang berbincang di dalam.." ujar Hangga sembari kembali menatap semua orang, termasuk pak kamituo dan pak carik yang sedari tadi menatapnya dengan tidak nyaman.
" Tapi tetap saja bertamu malam malam dengan pintu terkunci itu tidak pantas..
padahal anda berdua ini orang terpelajar, tapi kenapa tidak memperhitungkan hal semacam ini?" Pak kepala desa benar benar bingung,
" Lalu baiknya bagaimana Pak kepala desa?" tanya Hangga dengan menggenggam tangan rani yang berkeringat karena malu dan takut itu.
Kepala desa menatap kamituo dan carik bergantian, seakan meminta pendapat.
" Kami harus bertindak tegas," ucap pak carik,
" tegas? tegas bagaimana? kami tidak melakukan hal apapun yang mungkin anda anda ini pikirkan?" ujar Hangga,
" Mana kami tau pak Putra? Anda mengunci pintunya?" pak carik seakan ingin menyerang Hangga, tentu saja ia ingin Hangga di usir dari kampung ini, hal itu ia lakukan agar putranya yang menaruh hati pada Rani mempunyai kesempatan.
Hangga tersenyum mendengar itu,
" Ya sudah, laporkan saja kami pada pihak berwajib, biar kami di periksa atau di visum, kan nanti terbukti apa yang sudah kami lakukan di dalam," jawab Hangga tenang.
" bukan begitu? kita ini hidup di desa, njenengan itu menyalahi norma, sering sekali saya lihat anda bertamu tidak tau siang atau malam kerumah bu Rani?" jawab pak carik,
" tentu saja, kami sudah punya anak, bapak kira Tiara itu anak siapa? dia anak kandung saya?" jawab Hangga membuat pak carik terdiam.
" Begini saja, pak carik maunya bagaimana?" Hangga sengaja bertanya,
" kan sudah mantan suami istri, seharusnya mampu menjaga jarak, sepantasnya lah bagaimana mantan suami istri itu, pak putra kan orang berpendidikan, orang kota, harusnya lebih tau bagaimana bersikap?"
" lho kenapa saya harus menjaga jarak? kami ini berniat menikah kembali.." ujar Hangga membuat Rani meremas tangannya,
Mendengar itu wajah pak carik kaget,
__ADS_1
namun berbeda dengan pak lurah, ia seperti mendapatkan pencerahan.
" Nah, inilah yang saya harapkan, tapi saya tidak sampai mau menyatakannya langsung, sudah seharusnya njenengan berdua memang menikah lagi,
apalagi tetangga sekitar sudah ramai ramai begini,
kasihan bu Raninya menanggung malu jika pak putra tidak segera menikahinya kembali,
toh ada anak,
memang lebih baik menikah lagi,
kalau memang sudah di tegaskan akan menikah kembali, masalah ini tentu saja tidak akan kami perpanjang,
tapi harapan saya pernikahan di laksanakan secepatnya untuk menghindari fitnah.." ujar Pak kepala desa panjang lebar.
" Tentu saja.. akan secepatnya, kalau perlu bapak yang menjadi saksinya nanti.." Hangga sumringah, ia menatap Rani,
Rani hanya diam tertunduk, sedari tadi ia tidak berani menatap siapapun, hal ini cukup memalukan untuknya,
Rani yang tidak bisa berkata apapun hanya bisa diam dan menerima, kalau memang harus menikah, ya sudahlah pikirnya, dari pada dirinya di pecat atau di usir dari kampung ini, ia hanya menunduk saja sedari tadi,
ia benar benar takut salah bicara, karena itu dia diam dan menurut pada Hangga.
" Baguslah, kalau begitu saya bisa menjelaskan pada warga sekitar kalau njenengan berdua akan segera menikah.." pak Kepala desa terlihat lega, tapi tidak dengan pak carik.
Setelah pembicaraan yang serius itu berakhir, akhirnya Hangga memutuskan untuk pulang, ia membiarkan Rani untuk kembali dan tidur bersama mak Dar yang sedari tadi menunggu di luar kantor kepala desa.
Hangga memarkir motor sunar, melempar kunci motor pada sunar.
" Bagus Nar, besok kuberi bonus dan libur, ajak pacarmu jalan jalan.." ujar Hangga dengan senyum lebar pada Sunar.
" Tenan mas?" tanya Sunar,
" iyoo!" jawab Hangga duduk di kursi teras.
__ADS_1
" Kalau tidak begini kami tidak akan menikah menikah," ujar Hangga mengeluarkan rokoknya dari saku.
" Siapa yang kau suruh laporan tadi?" tanya Hangga,
" Saudaranya burhan, dia langsung kerumah pak carik mas?" jawab Sunar,
" satset juga pak carik, putranya juga ikut tadi, sayang sekali, sampai akhir dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan,
tidak masalah aku menanggung malu, yang penting Rani akan segera menjadi istriku.." Hangga membakar rokoknya.
" Tiara Sudah tidur Nar?"
" sudah, tidur dengan bu Woyo,"
" mbak Santi?"
" saya tidak tau, mungkin sudah.." jawab Sunar.
Hangga mengangguk puas, di sandarkan punggungnya di kursi, seakan lega.
" Kalau aku tidak berbuat begini, para laki laki itu tidak akan berhenti mendekati Rani,
sedikit mencoreng namaku dan namanya tidak masalah, yang penting hubungan kami sudah jelas arahnya kemana," ujar Hangga pada sunar,
" tapi yang tadi itu bahaya mas, saya takut sampean di pukuli sama orang orang?"
" siapa yang berani menyentuhku Nar? Selama ini aku tidak pernah tutup mata saat warga membutuhkan bantuan?"
" tetap saja mas, saya takut, rencana sampean ini bahaya.. Apalagi anaknya pak carik itu senang dengan bu guru.. Daya tidak tau apa rencananya saat menggerebek sampean?"
" rencananya menjauhkanku dengan rani, bahkan mungkin ingin mengusirku,
tapi tidak semudah itu..
kepala desa memihakku.." ujar Hangga tersenyum dan menghembuskan asap rokoknya.
__ADS_1