Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
nasehat


__ADS_3

Santi duduk di hadapan Rani, ia berbicara lalu menangis, berbicara, lalu menangis lagi, Rani sampai bingung harus bersikap bagaimana.


Sementara Hangga malah tenang tenang saja di depan TV dengan Tiara.


" Apa yang sudah berlalu biarkan berlalu mbak, yang jelas, saya dan mas Genta tidak punya hubungan apapun lagi, semua berakhir sejak dia lari meninggalkan saya, lalu saya menikah dengan Hangga,


meski saya sudah bercerai, saya juga tidak ada niatan untuk membangun hubungan semacam apapun itu dengan mas genta.


Saya memang sakit hati, tapi saya sudah ikhlas, tapi bukan berarti dengan saya ikhlas saya mau berhubungan baik kembali," jelas Rani,


" saya tau, sampean tidak mungkin menjalin hubungan kembali dengan mas Genta, tapi mas genta masih menginginkan sampean..?"


" itu bukan urusan saya mbak, dan bukan tanggung jawab saya!" tegas Rani, ia melirik Hangga yang tersenyum dari ruang TV,


" sialan..!" keluh Rani dalam hati, bukannya membantu bicara malah santai santai menonton TV.


" Apapun kelak yang terjadi, saya sudah pasrah.." ujar Santi,


" tapi tetap saja, saya meminta maaf atas apa yang sudah menimpa mbak Rani, itu terjadi karena saya..?"


" sudah berapa kali mbak minta maaf, sudahlah mbak, saya sudah tidak punya dendam dengan mbak, semua sudah berlalu.." ujar Rani lagi, sesungguhnya ia kasihan, perempuan di hadapannya ini cukup cantik untuk di sia siakan.


" Mungkin ini balasanku.." keluh Santi sembari mengusap air matanya,


" mas genta tidak ada habisnya berulah dengan perempuan di luar sana,


setiap ada perempuan cantik, dia berubah, uring uringan, kasar.."

__ADS_1


" kudengar sampean di pukul?"


Santi mengangguk,


" orang tua tau?"


" tidak, orang tua jauh.. Lagi pula kasihan kalau mereka sampai tau.."


" lalu? Kalau tiba tiba bercerai, apa tidak kaget orang tua?"


mendengar pertanyaan Rani, santi terdiam,


" saya bingung mbak Rani.. Saya tidak bekerja, usiapun sudah tidak muda.. Tapi saya tidak tahan dengan sikap mas Genta?"


" itulah mbak, dilema..


tidak semua orang mampu menjalani hidup sendiri.." nasehat Rani.


Santi diam, air matanya terus meleleh.


" Mbak.. Menyandang status janda itu tidak semudah yang mbah bayangkan..


fisik lelah, mental juga lelah..


mencari uang, mengurus anak sendiri, belum lagi pandangan buruk orang lain yang terkadang tidak masuk akal..


saya menjalaninya,

__ADS_1


saya benar benar menjalaninya,


apa yang kita lakukan menjadi serba salah, diam salah, bertindak malah kadang lebih salah..


kalau tidak kuat, jangan memilih itu mbak..


itu saja pesanku, berdoalah agar mas Genta berubah, dan berusaha untuk buta dan tuli, urus saja anak dengan baik..


aku bukan mengajari hal yang buruk, tapi melihat mbak santi yang seperti ini, sepertinya sulit bertahan hidup tanpa sokongan mas genta, kecuali mbak benar benar berniat bekerja keras sendiri di luar sana untuk membesarkan putra mbak.." ujar Rani panjang lebar, ia hanya mengatakan tentang pengalamannya sendiri, yang sering kali di pandang sebelah mata oleh orang lain.


" Ya sudah mbak, aku pulang, Rani sebentar lagi ada les," suara Hangga tiba tiba sudah di ruang tamu,


" oh, begitu ya? Maafkan saya karena menganggu??" santi bangkit,


" tidak apa mbak," jawab Rani bangkit juga.


" Tia mau ikut ayah? Ada mas Gio disana? Sekalian bawa baju seragam ya? Diantar ayah sekolah besok?" ujar Hangga,


" mau yah!" jawab Tiara cepat,


" ayo bunda! Mana baju tiara?" gadis kecil itu menarik tangan bundanya.


" Besok dia ujian harian?"


" biar ku ajari,"


" kau? Mengajarinya?"

__ADS_1


" iyalah, siapa lagi di sana, sudah mana bajunya.." ujar Hangga.


__ADS_2