
Hangga menyetir dengan tenang, ia tak banyak bicara meski ia tau sedari tadi Rani memandanginya.
Satu jam setengah perjalanan dari surabaya ke malang melalui tol, hingga akhirnya mobil itu keluar dari pintu tol lawang.
setelah dua puluh menit menyetir, akhirnya sampai juga mobil yang di kendarai hangga di depan rumah Rani.
Tiara tertidur lelap di belakang, melihat itu hangga menyuruh rani membuka pintu rumahnya dan hangga yang menggendong tiara ke dalam, membaringkannya di kamar dan menyelimutinya.
" Aku pulang ya?" pamit Hangga, tapi rani menarik tangan hangga.
Merasakan tangannya di tarik hangga menatap Rani,
" kenapa? mau aku menginap disini?" tanya laki laki itu dengan senyumnya yang sengaja di buat lucu, padahal raut wajahnya tidak terlihat lucu sama sekali.
" Duduklah, ku buatkan kopi.." ujar Rani pelan,
" tidak usah," jawab Hangga tanpa disuruh langsung duduk, ia seperti tau apa yang akan rani tanyakan.
" Bertanyalah.." katanya mulai mengeluarkan rokoknya, meski ia tau rani tidak suka jika ia merokok, tapi ia sedang ingin merokok sekarang.
Di bakar rokoknya, dan menghisapnya pelan.
Rani yang melihat itu semakin heran,
" apa yang terjadi setelah aku pulang?" tanya Rani hati hati,
" tidak.." jawab hangga,
" kau berkelahi?"
hangga diam,
" berkelahi dengan siapa?"
hangga masih diam meski rani terus bertanya,
" dengan Genta?"
dan Hangga masih saja diam,
" lihatlah.. Kau bilang mau hidup bersamaku, tapi hal semacam ini saja kau tidak jujur?" ujar Rani membuat hangga tersenyum tiba tiba,
" jadi kau sudah mau hidup bersamaku?" tanya hangga,
" jangan mengalihkan pembicaraan, katakan kau berkelahi dengan Genta?"
akhirnya hangga mengangguk,
" kenapa??" tanya Rani mendekat, ia duduk disamping Hangga.
__ADS_1
" Dia mempertanyakan Tiara,"
" maksudnya??"
" dia tidak terima kalau ternyata aku memiliki anak denganmu.."
Rani terhenyak, ia diam cukup lama, menatap luka di bibir Hangga sesaat.
" Dia yang memukulku terlebih dahulu, bukan aku.." jelas Hangga,
" bagaimana dia bisa seperti itu? Bukankan ada istrinya disana??" tanya rani,
" kurang waras mungkin dia.. masih saj menginginkanmu.."
" menginginkanku??" tanya Rani benar benar heran dengan apa yang ia dengar,
" tentu saja, kau kira apa yang dia inginkan?"
" apa dulu juga begitu sehingga kau menceraikanku?"
Hangga mengangguk,
" benar benar..." ujar Rani tidak habis pikir,
" lalu bagaimana respon istrinya??"
siapa yang tidak menangis kalau mendengar suaminya masih menginginkan wanita lain?"
" kau enteng sekali berbicara begini?"
" mau bagaimana? Itu kenyataannya.."
Rani lagi lagi terdiam cukup lama,
" kenapa? Kau terguncang? Ingin kembali padanya?" tanya hangga,
" aku masih waras!" tegas Rani,
" lalu apa yang kau pikirkan? Cara menolakku lagi?"
" plakk..!" rani memukul lengan hangga keras,
" aduh! aku ini sakit lho.. Masih kau pukul?"
" ah aku yakin kau memukul genta lebih banyak!"
" ah, tau dari mana?"
" tubuhmu kan lebih tinggi dan gagah?!"
__ADS_1
mendengar itu hangga tersenyum,
" wah.. Aku ternyata gagah di matamu.." goda hangga,
" kau ini?!" rani malu.
" Lalu papa mamamu bagaimana? Melihat kedua putranya berkelahi??"
" yah.. Kami sama sama mendapatkan tamparan.."
" astaga.. Kau di tampar papamu?"
Hangga mengangguk,
" lalu Tiara?? Apa dia melihatmu berkelahi??"
" tidak," hangga menggeleng,
" dia di kamar hanum.."
" untunglah.. Tidak lucu kalau dia melihatmu berkelahi.." rani mengelus dadanya.
" Jadi sekarang aku boleh pulang?" tanya hangga menggoda,
" istirahatlah sebentar, siapa tau Tiara bangun dan mencarimu?"
" tinggal kau antar saja kan?"
" besok sekolah..."
" lalu?"
" apanya yang lalu?"
" beginilah kalau kita tidak serumah, bingung kan?"
" jangan ngawur?!"
" ngawur bagaimana? Anak kita bingung tau.. Kadang kesana kadang kemari..
apa aku saja yang pindah kesini?"
" semakin ngaco.."
Hangga tertawa, ia mengecup bibir Rani, lebih tepatnya mencuri.
" kau mulai lagi?!" protes rani,
" dan kau mulai suka.." jawab Hangga kembali mendekatkan wajahnya.
__ADS_1