Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
masalah ada padamu


__ADS_3

Yudi tak bisa berkata apapun lagi setelah mendengar kata kata adiknya di telfon.


Setelah sambungan telfon itu di matikan, Hangga menatap Yudi penuh percaya diri.


" Beri saya kesempatan sekali lagi mas..


beri saya kepercayaan sampean untuk menjaga mereka.." ujar Hangga.


Yudi masih terlihat bimbang, namun mendengar kata kata adiknya di telfon tadi, ia bisa apa..


yang menjalani adalah Rani dan Hangga,


Yudi tau, keduanya saling menyayangi, yudi tau dengan benar itu,


tapi banyak hal selain cinta yang Yudi pikirkan, selain Genta.. ego keduanya juga sama sama besar, apakah setelah menikah akan ada salah satu yang mengalah, atau..


" ah sudahlah.." ujar Yudi,


" kalau kalian sudah memutuskan untuk menikah lagi aku bisa apa," lanjutnya pasrah sebagai wali dari Kirani.


" Tapi ingat, jangan menyakiti kirani lagi, awas saja kau.." peringat Yudi pelan namun tak main main, Yudi tidak perduli meski ada papa dan mama Hangga disana.


" Saya tidak akan berjanji mas, tapi saya akan membuktikan.." ujar Hangga dengan penuh keyakinan.


Yudi menatap kedua orang tua hangga,


" Njenengan berdua saja yang mencari harinya, saya pasrahkan karena orang tua yang lebih mengerti," ujar Yudi pada kedua orang tua hangga,


" baiklah, biar kami yang mencari harinya, akan kucari hari yang paling baik dan paling cepat Yud," ujar papa Hangga pada Yudi, laki laki tua itu tersenyum puas, seakan beban di hatinya mulai berkurang.


Hangga dan papa mamanya baru saja masuk ke dalam rumah, mereka tau ada mobil genta di luar, tapi mereka tetap masuk ke dalam rumah dengan tenang.


Saat memasuki ruang tengah terlihat Genta yang sedang duduk dengan tegang, dan Santi pun duduk tak jauh darinya, terlihat jelas sisa sisa air mata santi.


" Papa mama dari mana?" tanya Genta,


" kutelfon beberapa kali tidak di angkat?" tanya genta lagi.


" Ada urusan," jawab Hermawan tenang lalu duduk di sofa berhadapan dengan putranya,


" Bicaralah," ujar Hermawan pada Genta,

__ADS_1


" apa yang harus kubicarakan? papa melindungi Santi?"


" aku punya kewajiban melindungi melindunginya selama ia masih menjadi istrimu?"


" papa tidak perlu terlalu mendengarkannya, dia berlebihan." Genta terlihat kesal.


" Aku tidak sengaja memukulnya, dan sekarang dia meminta cerai? Bukankan itu berlebihan pa?!" suara genta menggema di ruangan yang hening itu, hingga Hangga yang baru duduk di halaman sampingpun mendengarnya.


" Memukul seorang perempuan itu sebuah tindakan yang tidak benar, kau cukup tau itu?"


" aku emosi pa, itu karena dia terus membahas masa lalu?!"


" itu karena kau tidak mau melepaskan masa lalumu dan terus saja membuat persoalan baru!" tegas papanya.


" Aku punya salah pada Kirani? Tentu saja itu menjadi beban tersendiri untukku?"


" bukan beban, tapi kau mencari alasan untuk terus menganggunya."


Genta terdiam, cukup lama, kemudian menatap Santi,


" Sudahlah! Ayo pulang! Mau apa kau lama lama dirumah orang tuaku?! Tidakkan harusnya kau malu karena mengadu kesana dan kemari karena hal sepele?!" suara Genta sinis pada Santi.


" Itu bukan masalah sepele?" jawab santi,


dan sekarang masa lalu kau eluh eluhkan.."


" diamlah!" tegas Genta,


" jangan Ganggu Kirani, dia dan Hangga akan segera menikah?" ujar Santi menahan air matanya.


Mendengar itu wajah Hangga merah padam seketika, ada rasa panas yang mengaliri tubuhnya.


" Benar itu pa?!" Genta menatap papanya,


" benar, mereka saling mencintai," jawab papanya.


" Omong kosong? Mereka memutuskan akan menikah hanya karena sudah terlanjur memiliki anak kan pa?"


Mendengar hal itu Hangga tidak tahan, ia yang duduk tenang dan tidak ingin ikut campur akhirnya berjalan keruang tengah.


" Jangan keterlaluan kau mas!" tegas Hangga,

__ADS_1


" jangan ikut campur! Jaga sikap dan kata katamu!" imbuh Hangga berdiri tak jauh dari sofa, tepat di belakang papanya duduk.


Raut Hangga sudah di penuhi kesal, tangannya sudah mengepal.


Melihat Hangga berdiri dan bicara pada kakaknya, mamanya yang sedari tadi duduk tenang di meja makan akhirnya bangkit dan menyusul ke ruang tengah, ia takut kedua putranya itu berkelahi kembali.


" Kau mulai kurang ajar padaku sekarang dan semakin kurang ajar?" ujar Genta,


" Kau tidak lihat sikapmu? Kau tidak pernah berkaca? sisi yang mana yang patut kuhormati sekarang?" balas Hangga.


" Kalian jangan berkelahi?!" tegas mamanya,


" Diamlah genta, kenapa kau terus memancing adikmu?!" mamanya khawatir.


" akan kubiarkan kalau kalian mau berkelahi, tapi setelah kalian berkelahi, kalian harus berjanji untuk tutup permasalahan ini," ujar Hermawan tenang,


" papa membelanya, papa tau aku pasti kalah jika berkelahi dengannya?!" genta sengit,


" Otakmu sudah rusak ya? Kebanyakan main wanita? Pintar sekali mencari alasan dan menyalahkan orang?,


dari awal tidak ada masalah, kaulah masalahnya!" tegas Hangga tak kalah.


" Bawa pulang istrimu! Sayangi dia dengan baik! Kasihani putramu yang masih kecil itu! Beri dia contoh yang baik! Kau itu laki laki atau apa! Pikiranmu dangkal!"


" Hangga!!" Genta bangkit, ia tidak terima dengan kata kata hangga,


" Apa? Aku tidak gentar selama aku benar, memang kaulah yang menjadi sumber masalah antara aku dan Kirani!


karena ketakutan denganmu aku menceraikannya dulu! Itu adalah kebodohan terbesarku!


sekarang aku tidak akan terpengaruh lagi denganmu! Aku juga punya seorang putri yang harus kubahagiakan!


siapapun yang menghalangiku akan kuhancurkan, meskipun itu kakak kandungku sendiri!" sorot penuh amarah dan kebencian terpancar jelas di mata Hangga sekarang, ia lelah, lelah dengan segala perilaku kakaknya selama ini.


Genta membeku, ia tak percaya Hangga yang selama kecil tenang berani mengancamnya sampai seperti itu.


" Sudah Ngga??" mamanya memegangi Hangga, takut anak keduanya itu loncat dan tiba tiba memukul kakaknya.


" Kau tau aku tidak main main sekarang mas, kau mungkin masih bergantung secara ekonomi pada papa, tapi aku tidak, meski papa tidak mendukungku pun aku akan tetap berjalan maju sendiri, jadi kau paham mas?!" Hangga masih menatap genta sengit dan membara,


Genta mundur, ia menatap kedua orang tuanya, merasa tidak mendapatkan dukungan.

__ADS_1


" Baiklah, tidak ada yang mendukungku disini," ujarnya,


" dan kau, jika kau mau bercerai terserah saja, urus sendiri, aku tidak mau tau lagi!" Genta mundur dan berbalik, ia melangkah pergi dengan langkah yang cepat dan tidak berbalik, hal itu menyakitkan hati santi, membuat perempuan itu kembali menitikkan air matanya.


__ADS_2