
Hangga memindahkan tiara ke dalam kamar, menyelimutinya dan mengecup kening putrinya itu lembut.
" Tidur yang nyenyak ya sayang.." ucap Hangga lirih.
Laki laki itu keluar dari kamar putrinya, ia melihat kesana dan kemari, suasana memang sudah sepi, karena keluarganya sudah kembali ke surabaya siang tadi.
Tercium bau teh yang pekat, rupanya Rani sedang membawa secangkir teh dan berjalan ke ruang TV.
" Lho, mana Tiara?" tanya Rani, padahal tadi tiara masih tertidur di sofa.
" Sudah kupindahkan ke kamar," jawab Hangga berjalan mendekat, ia duduk disamping Rani.
" Mau nonton apa?" tanya Hangga,
" Drama, sedang ada drama yang bagus akhir akhir ini.." jawab rani malah sibuk memencet remote tv.
Hangga diam, ia memperhatikan istrinya itu tanpa bicara.
Lama ia duduk tenang dengan Rani disampingnya, tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Rani, ia fokus melihat layar TV dan sesekali menyeruput teh hangatnya.
Melihat itu lama lama Hangga kesal,
Ia sudah menunggu sampai dua hari untuk waktu berduaan seperti ini, tapi setelah berdua saja, Rani bertindak masa bodoh dan mengacuhkannya seakan akan malam pertama mereka tidaklah penting.
Tanpa bertanya Hangga mengambil teh di tangan Rani, meminum teh itu sampai habis dan menaruhnya di meja.
" Lho? kok di habiskan?!" protes Rani,
__ADS_1
tapi bukannya menjawab protes Rani, laki laki itu malah mengangkat tubuh istrinya, tanpa mematikan TV di bopongnya Kirani ke dalam kamarnya yang biasanya ia tempati.
Sesampainya di dalam kamar di baringkannya rani dan segera mengunci pintu.
" Mbok ya sabar? Biarkan aku selesai menonton drama??" ujar Rani dari atas tempat tidur.
" Sobar sabar.." bibir hangga manyun,
" Lebih penting drama tho dari pada suamimu?" imbuhnya,
melihat itu Rani tertawa,
" kau seperti anak kecil saja,"
" biar..!" Hangga melepas kaos putihnya dan naik ke atas tempat tidur.
" Wes emoh sabar aku.." jawab Hangga menyergap Rani sehingga perempuan itu tidak bisa bergerak.
" Wes.. ayo tho sayang.." suara Hangga memohon,
Rani tersenyum, lalu mengecup bibir hangga beberapa kali,
" Seperti waktu itu saja.." ujar Rani,
" seperti waktu itu?" dahi hangga berkerut,
" Iya, di ruang tengah.."
__ADS_1
Hangga terdiam sesaat mendengar itu, tapi kemudian menyahut dengan semangat,
" Di atas sofa? Seperti saat pertama kali kau tidur disini?"
Rani mengangguk,
dengan cepat di bukanya pintu kembali, dan di gendongnya rani ke ruang tengah.
Di dudukkan perempuan itu di atas pangkuannya dan mulai di ciuminya.
" Kalau tiara Bangun bagaimana?" tanya Rani, di sela sela ciuman Hangga,
" dia sudah lelap, suara TV juga kencang.." ujar Hangga membuka satu persatu kancing piyama Rani, lalu mengarahkan bibirnya ke leher dan bahu istrinya itu.
Sehingga rani menggeliat geli dan tangannya tanpa sadar meremas rambut laki laki yang sudah menjadi suaminya itu.
Lama keduanya saling menikmati sentuhan sentuhan di bagian bagian tubuh mereka, hingga akhirnya hangga pun sudah tidak tahan, di rebahkan rani yang sudah terbebas dari piyamanya itu di atas sofa.
" Maafkan aku tujuh tahun yang lalu.." ujar Hangga sudah di atas tubuh rani dan menopang kedua paha Rani,
" Aku akan melakukannya dengan lembut dan hati hati sekarang.." imbuhnya lirih, tatapannya sayu penuh kasih.
" Aku mencintaimu ran.. aku mencintaimu.." ucapnya persis di telinga Rani,
" Aku.. juga.. aku juga mencintaimu.." jawab Rani akhirnya dengan malu malu dengan tangan membelai punggung yang kekar dan lebar itu,
mendengar itu tentu saja Hangga berbunga bunga, di kecupnya seluruh wajah Rani dengan bahagia,
__ADS_1
dan malam itu, ruang tengah di villa itu menjadi saksi bagaimana Rani dan Hangga akhirnya bersatu, keduanya saling mengungkapkan perasaan tanpa ragu lagi.