Terpaksa Menikahimu

Terpaksa Menikahimu
extra


__ADS_3

Enam bulan berlalu, perut Rani sudah cukup besar.


Tiara yang gemas selalu mengelus perut bundanya setiap pagi, bahkan saat istirahat sekolahpun, ia akan datang ke ruang guru untuk sekedar mengelus perut bundanya,


" Adik.. cepat keluar ya, main denganku nanti.." ujarnya setiap mengelus perut besar bundanya, membuat semua orang yang berada di ruang guru itu tertawa.


Kabut cukup tebal di luar, sementara Hangga entah sibuk apa di gudang teh.


Tiara sudah tidur, Rani yang belum bisa tidur tentu saja mencari suaminya.


" Sudah malam.." suara Rani pelan berdiri di depan pintu gudang,


" Kau belum tidur?" tanya Hangga rupanya sedang mengecek kemasan kemasan teh yang akan di kirim ke supermarket besok.


" Tidak bisa tidur.." jawab Rani sembari mengelus perutnya, perempuan berdaster putih dengan corak bunga bunga kecil itu tampak cantik dengan rambutnya yang di gulung ke belakang.


" Kenapa? mau di pijit?" tanya Hangga berjalan ke kamar mandi gudang, untuk membersihkan tangannya.


" Ayo kupijit kakimu.." ajak Hangga masuk ke dalam, setelah di dalam keduanya duduk di atas sofa ruang tengah, rani menaikkan kedua kakinya ke atas paha Hangga untuk di pijit,


dan Hangga memijitnya pelan.


" Mengajarnya berhenti saja.. Perutmu sudah besar begini..


aku takut perutmu di senggol anak anak di sekolah dengan tidak sengaja.." ujar Hangga,


" anak anak tau kalau bugurunya sedang hamil, mereka tidak begitu nakal seperti yang sudah sudah, jauh lebih patuh..


mungkin mereka kasihan padaku yang membawa perut besar kemana mana.." Rani tertawa,


" tetap saja aku khawatir.." ujar Hangga menaikkan pijitannya ke arah paha.


" Kok tambah naik?"


" kan biar rata mijitnya.." jawab Hangga sembari terus memijit.


" Perutku sudah besar.." kata Rani, seakan akan tau apa yang hangga inginkan,


" lalu?"


" ya perutku sudah besar.."


" lalu kalau perutmu sudah besar aku tidak boleh menyentuhmu?" tanya Hangga menatap istrinya itu lekat.


" susah.."


" apanya yang susah? Kan aku yang bergerak?"


kata kata hangga membuat Rani benar benar tidak sanggup menjawab lagi.

__ADS_1


" Biar dedek bayinya makin sehat.." imbuh hangga membuat Rani menggeleng gelengkan kepalanya sembari mencubit lengan hangga,


" Siapa yang bilang?"


" lha aku barusan.."


" ih, kukira bu bidan.."


" lho bu bidan pasti setuju denganku.." hangga tersenyum, tau tau tangannya sudah menyingkap daster istrinya.


Sabtu minggu keluarga Hangga sengaja pergi ke surabaya.


Setelah dari kediaman Yudi, Hangga dan Rani tentu saja kerumah papa mama Hangga.


Baru saja datang ternyata mereka sudah di sambut keluarga genta, dari kejauhan juga terlihat danu yang sibuk membantu Hanum membakar jagung di halaman belakang.


Rani dengan hati hati duduk di sofa ruang keluarga,


" Wah.. sebentar lagi ini.." Santi mengelus perut Rani,


" Doakan mbak.."


" iya, kudoakan persalinan lancar ya ran.." santi masih saja mengelus perut rani dengan senyumnya yang tulus.


" Mbak kapan tambah lagi?" celetuk hangga duduk tak jauh dari istrinya,


" nanti dulu lah.. Gio masih kecil.." jawab Santi,


" wes, meneng meneng tho ngga? mentang mentang mau punya anak lagi, yang lainnya juga disuruh punya juga?"


Genta berjalan dengan tongkatnya mendekat,


" ya iyalah! Biar rame!"


" gayamu,"


" gaya opo?"


" sekarang ngomongmu banyak, kayak kereta apa tidak ada remnya, coba dulu.. di ajak bicara saja kadang tidak di jawab.." ledek genta,


" ah, mana ada aku begitu mas, aku hanya tidak punya bahan pembicaraan saja dulu.."


" jadi sekarang banyak?"


" banyak sih.. Itu karena dulu aku terlalu banyak diam.." hangga tertawa renyah, ia terlihat sungguh nyaman dan bahagia dengan keluarganya.


" Ini mama papa kemana? Kok tidak pulang pulang?" suara Hanum masuk membawa piring berisi jagung bakar.


" Biarkan.. jangan ganggu urusan mama papa.. Kau pacaran saja sana..!" ujar Hangga,

__ADS_1


" Danu kesini kan mau menemui mama papa?!"


" kan ada kami, mau bicara apa? Kesini kesini?" ujar Hangga,


" iya, bicara denganku kalau ada sesuatu yang penting.." imbuh genta.


" wong perlunya sama papa mama kok!"


" memangnya mau bicara apa? Lamaran? memangnya adikku ini sudah siap jadi istri? siap taat pada suami?" tanya genta serius,


" ah, aku kok ragu..!" goda Hangga membuat hanum bersungut,


" orang kerjaanmu setelah ngajar main saja.." ujar genta,


" siapa yang bilang?!"


" yo mama tho, sopo maneh..?"


" aku bukan main, tapi sedang mencari kegiatan di luar pekerjaanku?!"


" kegiatan opo.. Dolan, ngemall?"


" mas mas ini, kenapa sih? Aku ini adikmu lho?"


" siapa bilang bukan?" sahut hangga,


" lha kok menyudutkan terus?!"


" bukan menyudutkan, membicarakan kenyataan.. Kau itu apa sudah siap..?"


Hanum diam,


" siap, asal tidak punya anak dulu.." jawab Hanum pelan, takut terdengar danu yang masih sibuk memanggang jagung.


" Ndak oleh ngunu.. anak itu rejeki.." ujar hangga,


" mas?! Kalian saja sudah tua tapi anak anak kalian masih kecil, kok sekarang memprotesku??",


Hanum membuat Genta dan Hangga terdiam dan saling memandang,


" kenapa aku tidak boleh punya anak ketika aku sudah siap??" pertanyaan hanum masih membuat hangga dan Genta saling memandang.


" Sudah sudah.." Rani menengahi,


" nikah saja belum kok sudah bahas anak, aneh juga kalian ini.." santi ikut bicara,


" mas Genta dan mas Hangga itu yang aneh!" ujar Hanum berbalik lalu berjalan ke arah halaman belakang, kembali pada Danu.


" Makin besar makin galak saja.." gerutu Hangga,

__ADS_1


" kau kan jarang pulang, aku yang sering kesini, sering kena semprot.. Kau kira?" tambah Genta.


__ADS_2